aini firdaus. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Aku dan Lelaki Itu (2)

Aku sudah menikah dan tinggal bersama lelaki itu, 5 tahun 5 bulan. Eh, ralat, dikurangi 11 bulan saat dia dapat beasiswa dan kuliah S2 di Belanda. Jadi totalnya 4 tahun 4 bulan. Apakah sekarang dia bukan lagi menjadi sosok yang misterius?
Secara umum, sih, iya. Aku sudah cukup mengenalnya. Bahkan kami sudah mulai bicara tanpa bahasa. Apa maksudnya? Jika kita dekat dengan seseorang, biasanya, dengan bahasa tubuhnya saja kita bisa menangkap apa yang dia rasakan. Salah satunya kejadian saat kami naik gunung pertama setelah menikah. Saat itu, malam hari dan kami terpisah beberapa puluh meter.

Aku di depan bersama beberapa teman berjalan sambil ngobrol. Kebetulan ada tim lain yang berhenti lalu bergabung dengan kami.
"Numpang, ya, mbak, Soalnya senter kami mati," kata salah satu dari dua orang lelaki.
" oo silakan," kataku.
Karena nebeng, ya si cowok jalan di belakangku, terkadang pindah ke sebelah kalau jalannya lagi lapang. Lalu mengalirlah percakapan 'normal' tentang asal, pekerjaan dan serba sergi gunung, Cukup lama kami ngobrol walau sebetulnya tidak hanya berdua. Dalam 1 rombongan yang kami jalan bareng kira-kira ada 5 orang.
Beberapa kali aku menoleh ke belakang, ternyata suamiku sudah dekat. Tapi aku heran, kenapa, sih, dia seperti menjaga jarak. Padahal aku nunggu-nunggu dia untuk gabung dengan rombonganku. Awalnya kupikir, ah, mungkin dia juga lagi pingin bareng sama rombongannya, sekitar 5 orang yang laki-laki semua. Ya, aku pikir ada saatnya juga kami gak jalan bareng, biar bisa membaur juga dengan teman-teman.
Tapi lama-lama aku curiga. Ini pasti ada yang tidak beres. Kenapa lelaki itu seakan menghindar. Tiap aku berhenti buat nungguin dia eh dia ikut berhenti juga. Kalau aku jalan dia juga ikutan jalan dengan menjaga jarak. Aku samperin aja, deh. Biar enggak jadi bahan pikiran.
Lalu aku bilang ke mas-mas yang tadi minta ijin nebeng senter, "Mas, silakan bareng sama teman yang ini, ya, saya mau gabung sama tim belakang."
"Oke, makasih tebengannya, ya, Mbak."
"Sama-sama"

Lalu aku samperin rombongan di belakang.
"Mas, kenapa, sih, kok aku merasa beda."
"Gak pa-pa," jawabnya pendek
(Nah, ini mencurigakan. pasti ada apa-apa. Kok dia jawabnya pendek begitu...)
"Dari tadi aku nungguin Mas lho, emangnya Mas nggak tahu?"
"Tahu"
(tuh kan..dia jawabnya pendek lagi. Kalau kayak gini aku langsung teringat sosoknya sekian tahun lalu yang 'misterius' dan seperti menutup dirinya dari siapapun)
"Lha, terus kenapa Mas nggak nyamperin aku? Mas kalau ada masalah ngomong dong. Aku enggak suka dicuekin kayak gitu? Kalau aku ada salah, Mas sampein dong. Aku enggak bisa kalau diem-diem-an kayak gini."
(Udah mulai nggak stabil nih, emosiku. Antara kesal, sebel dan pingin nangis. Gimana, sih, rasanya dicuekin sama suami sendiri)

Awalnya dia nggak mau ngomong. Tapi setelah kukulik-kulik, kupancing-pancing akhirnya saudara-saudara dia mau cerita. Intinya dia tuh, sebel, kenapa dalam perbincanganku dengan si mas-mas yang tadi nebeng senter, aku sama sekali gak cerita kalau aku sudah menikah dan punya anak (rupanya tadi dia ndengerin obrolanku sama si mas). Terus dia protes kenapa tadi aku jalan bareng dan deketan lagi..

Hohoho ternyata lelaki itu cemburu saudara-saudara. Wow, bahagia sekali hatiku mengetahui hal ini. Walau sebetulnya sama sekali tak ada unsur kesengajaan. Aku tidak bercerita statusku, lha kupikir dia juga enggak nanya. Ngapain aku memberi semacam pengumuman :) Lagian urusanku dengan dia cuma karena dia mau nebeng, itu saja.

Tapi setelah kupikir-pikir lama, bener juga kekhawatiran lelaki itu. Sebagai perempuan yang sudah menikah, sudah selayaknya aku lebih menjaga diri. Dalam artian, sebetulnya aku bisa lebih awal mengambil sikap untuk tidak terlalu panjang bicara 'berdua' dengan dia dan mengarahkan perbincangan dengan melibatkan teman-teman lain. Karena, toh, sebenarnya kan ada lebih dari 2 orang dalam rombonganku tadi. Dan memang yang terlibat perbincangan "asyik" cuma aku dan si mas nebeng. Akhirnya kusadari fakta itu yang kemudian membangkitkan rasa cemburu lelaki itu.
Tapi aku bersyukur. Jarang-jarang lelaki itu menunjukkan sisi ini. Artinya dia beneran mencintai dan ingin menjagaku...Ehemm...

Nah, itu contoh dialog yang diawali dengan "pembacaan" sikap dan gesture tubuh. Kami, khususnya aku sering banget melakukan hal ini. Karena suamiku tipe orang yang nyaris tidak pernah marah, dan karena prinsipnya memang tidak mau menyakiti hati orang lain, jadi, kalau kesel, marah atau sejenisnya dia cenderung diam. Kalau tidak kukulik-kulik, dia juga tidak mau menyampaikan hal yang meresahkan hatinya itu.

Berbeda denganku yang sangat verbal. Kalau tidak suka sesuatu, aku akan langsung bilang tanpa pake memendam-mendam persoalan. Kalau sebel sama orang atau tengah resah karena sesuatu, aku pasti langsung nyerocos panjang banget. Cerita diselingi emosi yang meledak-ledak. Dan lelaki itu, sebagaimana tabiatnya sejak awal, mendengarkan dengan tenang. Tak pernah turut emosional lalu pelan-pelan mengajakku kembali berpikir rasional.

Alhamdulillah, berjuta syukur kupanjatkan pada Allah yang telah memasangkanku dengan lelaki itu. Kami memiliki tabiat yang bertolak belakang, hingga saling melengkapi. Dalam perjalanan rumah tangga yang baru seusia begini aku sering berpikir bahwa kami menikah dan tinggal bersama bukan merupakan jaminan bahwa kami benar-benar saling mengenal.Tetap ada karakter-karakter 'asing' yang kita temui dari pasangan kita. Kalau begini tidak ada jalan lain untuk menjamin sebuah rumah tangga akan langgeng, kecuali komitmen kedua belah pihak untuk saling belajar memahami pasangannya....

Jakarta, 30 Juni 2012
(awal bulan ini lelaki itu genap berusia 32 tahun)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

3 komentar:

Nur Faidati mengatakan...

Hohoho...ini cerita oleh2 dari semeru kah mbak ai'?
Meski telat, do'anya tetep sama, semoga emsi diberi usia yang berkah, sehat selalu, dilapangkan jalan rizkinya, urusannya dan bahagia selalu bersama mbak ai' dan sofie, Selamat ulang tahun emsi :)

Lilia Reyman mengatakan...

Amin, makasih Dati, semoga Allah kabulkan doamu dan memberikan yg lebih baik buatmu

btw, ini bukan cerita di Semeru tapi di gunung lain yang kami daki sebelumnya :)

Unknown mengatakan...

Syukur Alhamdulillah di tahun ini Saya mendapatkan Rezeki yg berlimpah sebab sudah hampir 9 Tahun Saya bekerja di (SINGAPORE) tdk pernah menikmati hasil jeripaya saya karna Hutang keluarga Sangatlah banyak namun Akhirnya, saya bisa terlepas dari masalah Hutang Baik di bank maupun sama Majikan saya di Tahun yg penuh berkah ini,
Dan sekarang saya bisa pulang ke Indonesia dgn membawakan Modal buat Keluarga supaya usaha kami bisa di lanjutkan lagi,dan tak lupa saya ucapkan Terimah kasih banyak kepada MBAH SURYO karna Beliaulah yg tlah memberikan bantuan kepada kami melalui bantuan Nomor Togel jadi sayapun berhasil menang di pemasangan Nomor di SINGAPORE dan menang banyak
Jadi,Bagi Teman yg ada di group ini yg mempunyai masalah silahkan minta bantuan Sama MBAH SURYO dgn cara tlp di Nomor ;082-342-997-888 percaya ataupun tdk itu tergantung sama anda Namun inilah kisa nyata saya

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman

Cari Blog Ini