aini firdaus. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Anugerah dan Pengorbanan

Tahun ini, keluarga kecil kami menerima 2 anugerah besar dari Allah Swt.
Pertama, kehadiran Lili kecil pada 27 Juli lalu setelah 6,5 tahun menunggu :) Sungguh tidak pernah kecewa berharap dan berdoa pada Allah. Dia akan mengabulkan dan memberinya pada saat yang tepat. Lili kecil hadir di hari terakhir bulan Ramadhan 1435 H. Menjelang adzan Magrib, suara tangisnya melengking merdu. Memupus kesakitan yang menghebat selepas shalat Dhuhur. Kebahagiaan makin lengkap dengan keberadaan suami yang tidak beranjak dari sisiku, menemani saat-saat penting menjelang hadirnya buah hati kedua kami.

Liliana Azimah Rahman. Banyak yang bertanya, kenapa Liliana? Seperti nama China saja :) Mas Sigit terinspirasi dari nama istri ulama favoritnya -Syekh Hamza Yusuf- bernama Liliana Hanson. Selain itu Liliana berarti murni, bersih dan cantik. Sebagaimana harapan kami agar Lili kecil senantiasa memiliki jiwa yang murni, bersih dan cantik. Meski di awal pertumbuhannya dia akan tinggal di negeri yang kata orang bisa membawa 'racun'.

Old Dominion University, sumber ww2.odu.edu
Negeri 'racun' apa? Nah, ini berkaitan dengan anugerah kedua yang akan kubicarakan, yakni
Kesempatan dari Allah untuk menuntut ilmu di negeri Paman Sam. Alhamdulillah Mas Sigit mendapat beasiswa Fulbright dan akan menuntut ilmu di Old Dominion University, Norfolk, Virginia. Hari ini, Rabu, 20 Agustus 2014 dia akan berangkat ke sana. Dan itu artinya untuk sementara kami akan berpisah. Aku bersama Sofie dan Lili di Banyuwangi dan ayah di Norfolk. Tentunya ini bukan hal mudah. Seperti mengulang lagi episode 2009-2010 saat aku dan Sofie di  Jakarta dan ayah di Groningen, Belanda. Mungkin bagi yang tidak menjalani akan mudah saja mengatakan, "Ah, cuma pisah sebentar."  Namun bagi kami yang semenjak akad nikah langsung tinggal berdua dan jauh dari saudara, perpisahan atau tinggal berjarak selalu membuat lara hati.

Masih jelas tergambar saat hanya berdua dengan Sofie di Jakarta, terasa sekali sepinya rumah (dan hati). Kadang-kadang saat makan tiba-tiba mengalir air mata. Jangan tanya gimana rasanya saat di rumah hanya berdua dengan buah hati yang sedang sakit dan suami jauh di seberang sana. Tapi alhamdulillah, kami dapa melaluinya dan akhirnya bisa berkumpul kembali.

Kalau dipikir-pikir memang semua kenikmatan yang diberikan Allah selalu seiring dengan pengorbanan. Kelahiran bayi misalnya. Betapa setiap pasangan yang sudah menikah pasti mendambakan buah hati. Dan betapa bahagianya saat suatu pagi hasil tes pack berupa 2 garis alias positif. Namun hari-hari setelah itu? Mual-mual, pusing, lemas, tidak doyan makan, muntah-muntah. Bahkan bagi sebagian perempuan keluhan itu masih terus terasa lebih dari 3 bulan. Belum lagi kesakitan menjelang melahirkan. Mules tak tertahankan, kulit yang seperti ditarik paksa, nyeri, perih tidak tergambarkan  lagi.

Namun saat akhirnya bayi mungil itu keluar bersama dengan banjir air ketuban, menyusul plasenta, lalu tubuh mungil itu ditempelkan ke dada kita, melihatnya merayap, dengan mata yang masih terpejam, mendengar tangisnya, Masya Allah semua kesakitan yang terasa sebelum melahirkan tadi seakan sirna. Berganti dengan gelombang kebahagiaan dan cinta pada si mungil yang masih merah itu.

Begitu juga kebahagiaan saat mendapat kesempatan menuntut ilmu di belahan bumi lain. Terbayang akan tempat tinggal baru dengan lingkungan dan komunitas yang pasti sangat berbeda dengan yang kami tempati di sini. Bagiku itu semua  menawarkan tantangan dan pengalaman baru. Apakah pasti mudah dan menyenangkan? Belum tentu. Perpisahan di awal, yang justru harus dihadapi dan dijalani dengan lapang dada. Kemungkinan hidup pas-pas an, itu yang terbayang di hadapan mata. Adaptasi dengan lingkungan yang berbeda, jelas akan menghadang.

Ya begitulah tidak ada kebahagiaan yang tanpa pengorbanan meraihnya. Jika ingin bahagia, ya harus siap berkorban. Alhamdulillah, sebuah nikmat yang tak terkira bagi Muslim seperti kita, berupa keyakinan akan keberadaan Allah. Dengan mengimani Allah, kita tidak akan merasa sendiri saat menghadapi fase-fase berat dalam hidup. Bersandar dan memohon pertolongan-Nya, menjadi 2 senjata utama. Tidak pernah sia-sia dan merugi, mereka yang hanya bersandar pada-Nya..

Banyuwangi, 20 Agustus 2014 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pencurian di Gunung Guntur

ki-ka belakang: Bimo, Ucup, Zaky, Hendra
Depan: Ken, Noni, Aini

Tanggal 15-17 Nov 2013 aku dan beberapa teman melakukan pendakian ke Gunung Guntur di Garut, Jawa Barat. Awalnya kami ingin mendaki Papandayan, tapi saat mendekati hari H, 4 orang membatalkan dengan berbagai alasan. Sebenarnya kami sudah mengajak beberapa teman, tapi rupanya bagi mereka yang sudah pernah mendaki Papandayan, gunung ini dianggap kurang menantang, jadi mereka enggan naik lagi ke sana.
Lalu salah satu teman, Hendra, mengusulkan untuk berganti destinasi. Bukan lagi Papandayan yang dituju melainkan Guntur. Singkat kata, tim baru terbentuk, dengan 3 perempuan dan 5 laki-laki. Kami janjian ketemu di Pasar Rebo, jumat malam sepulang jam kantor.
Perjalanan relatif lancar. Kami naik bus dari terminal Kp. Rambutan jam 23.30. Jalanan yang sedikit tersendat membuat kami sampai terminal Garut pukul 05.30. Di dalam bus banyak juga rombongan pendaki. Terlihat saat mereka turun, kondektur menurunkan tas-tas gunung berkapasitas 120 L.
Sampai di terminal Garut, kami melaju ke rumah salah satu teman yang akan memandu pendakian, Kang Maman. Di kost-an Kang Maman, kami membongkar isi tas, sekalian numpang mandi. Kami juga belanja sayuran dan beberapa keperluan yang belum lengkap. Tak lupa, tentu saja, mencari sarapan.
bawa bekal 'kembang kol' yang dikira 'brokoli' 
Jam 9 kami berangkat ke Guntun. Kurang lebih menempuh 20 menit perjalanan naik angkot kami berhenti di desa Tanjung. Pendakian dimulai dari sana. Kami berjalan menyusuri jalan desa. Tak lama kemudian ada truk pengangkut pasir, kami berdelapan menumpang truk tersebut hingga ke kaki gunung.
ini truk yg kami naiki
Kira-kira 30 menit terguncang-guncang di truk, truknya sempat macet juga karena jalanan tidak rata, kurang lebih jam 10 kami turun dari truk dan memulai pendakian. Medannya lumayan berat. Kami menyusuri hutan dengan kontur tanah yang miring. Nyaris tidak ada tanah datar sehingga kami mendaki dan terus mendaki.
Kami berhenti beberapa kali untuk istirahat, mengambil air dan shalat dhuhur jamak qashar dengan ashar. Setelah melalui hutan, medannya berupa padang savana dengan rumput-rumput setinggi badan manusia. Sepertinya tidak banyak pendaki yang naik, kami sempat melihat serombongan pendaki lain yang mengambil jalan berbeda.
Pendaki perempuan di tim kami, aku, Ken dan Noni, bisa dikatakan pendaki pemula. Aku sudah mendaki beberapa gunung, tapi itu sepuluh tahun yang lalu saat kuliah. Sejak menikah dan punya anak, aku baru mendaki lagi 3 tahun yang lalu di Gn Gede dan setahun lalu di Semeru. Sedangkan Ken baru mendaki sekali ke Gunung Gede. Sementara bagi Noni, pendakian ke Gn. Guntur adalah pengalaman perdananya.
padang savana
Karena itu melihat medan Gn Guntur kami sempat tidak yakin. Berat banget. Nyaris tidak ada bonus-bonusnya (istilah untuk tanah datar). Benar-benar mendaki.
Untunglah teman-teman seperjalanan kami, Hendra, Zaky, Bimo, Ucup dan Kang Maman orangnya asyik dan lucu. Jadi sepanjang perjalanan kami cerita-cerita, tertawa-tawa dan santai. Tidak terasa perjalanan mendekati pos batu besar yang menjadi sasaran kami mendirikan tenda. Alhamdulillah tepat jam 16 kami sampai di sana.
Hujan rintik-rintik membuat sore itu lebih banyak kami habiskan di dalam tenda. Anak laki-laki membuat semacam tenda terbuka di depan tenda anak perempuan yang berfungsi tempat berteduh sekaligus sebagai dapur. Sejak magrib sampai kira-kira jam 10 malam, kami memasak dan ngobrol seru. Tidak disangka para cowok itu hoby masak juga. Segala macam digoreng, mulai tempe, kentang, jamur kuping hingga bonggol-nya kembang kol. Gorengan itu dimakan dengan sambal terasi dan saus ABC. Yummy..
Kang Maman yang sudah 4 kali naik Guntur bercerita mengenai kejadian-kejadian yang dialami para pendaki. Guntur dikenal sebagai gunung yang rawan pencurian. Pernah ada kasus, kata Kang Maman, seorang pendaki cowok yang mendaki sendirian. Eh dia ditodong dengan pisau dan semua bawaannya dirampas, hingga dia turun hanya dengan memakai celana kolor.
Jam 21-an setelah shalat magrib jamak isya aku mulai mengantuk. Sleepingbag kugelar, dan aku mengambil tempat di pojok tenda. Tas kamera yang berisi kamera DSLR Canon, hp, power bank dan dompet kuletakkan di sebelah kiri kepala. Jadi posisi kepalaku adalah sisi paling dekat dengan pojokan tenda.
Aku sempat susah tidur karena udara yang sangat dingin dan sesekali tak bisa menahan tawa mendengar obrolan anak-anak di luar tenda. Jam 11-an malam anak-anak cowok terdengar asyik menelpon, entah teman, pacar atau keluarganya tentang suasana di puncak gunung dengan rembulan bulat dan suasana yang cerah.
Paginya, aku bangun karena takut ketinggalan shalat subuh. Ternyata masih jam 2 pagi. Lalu aku tidur lagi. Anehnya kaki dan kepalaku terasa hangat. Beda sekali dengan udara saat menjelang tidur yang dingin tidak kepalang.
Saat bangun kedua, sudah jam 5 pagi. Aku segera shalat subuh dan mencari-cari kacamata. Dimana ya kacamataku? Oiya aku ingat kacamata itu kuselipkan di antara pegangan tas kameraku. Lha, tas kameraku, dimana? Aku terus meraba-raba sambil merapikan tenda. Ken dan Noni ikutan terbangun dan membantu mencari tas.
"Ini kacamatamu, Mbak!" kata Ken.
Setelah berterimakasih, kacamata langsung kupakai dan dunia jadi lebih terang :) Tapi tas kameraku belum ketemu. Lalu kami mulai sadar kalau ada lobang di pojokan tenda. Ucup langsung memeriksa lobang itu. Ternyata lubang itu persis robekan yang dibuat dengan menggunakan pisau.
Oh...no... innalillahi wa inna ilaihi roji'un, sepertinya terjadi  pencurian di tenda kami. Semua langsung bangun, ikut memeriksa barang masing-masing. Kang Maman berteriak, mengumpat karena merasa teledor. Menjelang dini hari ia mendengar suara teflon (bekas memasak semalam) bergelontang, tapi ia malas bangun dan memeriksa karena dingin dan mengantuk.
Hiks, aku sedih. Kamera itu kubeli dengan uang yang kukumpulkan dari penghasilan tambahan diluar kerjaan resmiku sebagai wartawan di Majalah Ummi. Kamera itu juga belum setahun kubeli. Apalagi disana tersimpan foto-foto perjalanan sejak kami mendaki kemarin pagi.
Tapi ya sudahlah, tas kameraku benar-benar hilang. Berisi kamera DSLR Canon D 1100, power bank pinjaman, ponsel samsung galaxy mini dan uang sekitar 400 ribu rupiah. Kalau dinalar sepertinya mustahil pencurian itu dilakukan. Karena, kan, si pencuri tidak tahu isi tenda. Masak iya, dia bisa  menerawang dan mengetahui lokasi barang berharga lalu menyobek tenda pas di tempat barang berharga tersebut. Anehnya lagi, kan, ada kepalaku di sisi kamera. Jadi kalau memang si pencuri gambling menyobek tenda, lalu memasukkan tangan dan mengambil barang apa saja di pojokan tenda, harusnya tangan itu kena kepalaku dulu, baru megang tas kamera.
sarapan oseng kembang kol+jamur+paprika
Tapi, ya, mungkin karena si pencuri profesional, yang jelas tasku hilang dan tenda disobek. Haduh, langsung merosot semangat kami untuk mendaki ke puncak pagi itu. Berbagai teori dilontarkan teman-teman. Tapi, ya, tidak ada yang benar-benar mengerti bagaimana pencurian itu bisa terjadi.
Aku sempat browsing dan menelpon kantor polisi setempat (pake hp Noni). Ada polisi yang mengangkat telpon, tapi saat mengetahui posisiku di Gn Guntur, suara di seberang telpon menyuruhku menelpon ke kantor polisi lain. Hingga tiga nomr telpon kutekan, nomor terakhir tidak ada yang menjawab. Ya..sudahlah..
Menjelang siang ada beberapa pendaki lain yang turun. Ada pendaki yang bercerita kalau di atas ada anak yang kehilangan tas berkapasitas 90L beserta isinya. Tendanya juga disobek. Mereka mencurigai aksi itu dilakukan oleh orang yang sama.
Pagi itu, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke puncak. Kami sarapan sebentar, foto-foto dan beres-beres. Menjelang jam 10 kami bersiap turun.
Alhamdulilkah perjalanan saat turun relatif lancar. Kondisi tanah yang berpasir membuat kami memilih meluncur. Baju, terutama bagian pantat jadi kotor, sih. Tapi asyik..Seperti main seluncuran.

Memasuki perkampungan penduduk, kami melihat segerombolan ornng seperti sedang main kartu. Ada anjing-anjing besar di sana sini. Jalanan becek, sebagian berlumpur, bekas hujan. Kami terus berjalan.
Kira-kira jam 17 kami sampai di jalan raya tempat nunggu angkot. Kami mampir di warung makan lesehan untuk mengisi perut dan shalat. Saat shalat aku tiba-tiba ingat, saat di atas, kan, aku berencana melaporkan kehilangan ke petugas atau pengurus desa setempat. Kenapa aku bisa lupa, ya. Kubayangkan si pencuri pasti senang dan merasa bebas saat tidak ada laporan atas tindak kriminalnya
Selesai makan, aku langsung menyampaikan ke Kang Maman keinginanku untuk melapor pada petugas setempat.
"Waduh, kenapa tidak dari tadi ngomongnya!" Kata Kang Maman. Rumah ketua RW yang sekaligus menjadi penanggungjawab pendakian Gn Guntur ada di puncak, di dekat lokasi orang main kartu yang tadi kami lewati.
Aku benar-benar lupa dan baru ingat setelah shalat tadi. Oke, aku ada ide untuk naik ojek. Aku pikir, ini ikhtiar yang harus kulakukan. Aku tidak akan tenang kembali ke Jakarta, jika belum melaporkan tindak kejahatan ini. Walaupun, tentu saja, sepertinya kecil kemungkinan barang-barangku akan kembali.
Alhamdulillah di warung tersebut ada mas-mas yang bisa mengantarku ke atas. Kami naik motor, sekitar jam 18. Jalanan gelap, berbatu dan banyak tanah berlobang dengan kubangan air hujan. Sempat bertanya di sana sini, akhirnya kami sampai di rumah bu Tati, ketua RW sekaligus penanggungjawab urusan pendakian di Gn Guntur.
Aku sampaikan masalah yang kualami. Kuceritakan kronologis kejadiannya. Bu Tati kaget banget, selama ini memang sering ada kejadian kehilangan tapi biasanya terjadi di "bawah" maksudnya di lokasi yang hitungannya masih di lereng atau kaki gunung. Belum pernah ada laporan kehilangan yang terjadi di puncak atau di lokasi pos batu besar tempat kami nge-camp.
Bu Tati juga menyesalkan kami yang tidak mendaftar. Rupanya jarang sekali ada pendaki yang mendaftar, terutama mereka yang numpang truk pasir. Rupanya jarak rumah bu Tati yang juga berfungsi sebagai pos pendaftaran masih relatif jauh dengan lokasi tempat para pendaki turun dari truk pasir. Nah, karena, para pendaki menganggap tidak ada kewajiban mendaftar, dan mereka memilih turun dari truk di lokasi paling dekat dengan kaki gunung, jadilah tidak banyak yang mendaftar.
Bu Tati sendiri kesulitan untuk membuat aturan yang mewajibkan pada pendaki mendaftar. Aku lalu melihat buku pendaftaran pendakian. 
Akhir pekan ini, aku memperkirakan minimal ada 30-an pendaki yang naik bersama kami. Namun tidak satupun pendaki yang terdaftar. Data terakhir, pendakian tanggal 4 november yang dilakukan oleh 5 peserta.
Aku juga melihat laporan-laporan kehilangan, rata-rata terjadi pada tahun 2010-2011. Ngeri juga, sempat terjadi pemerkosaan pengunjung air terjun yang terletak di kaki Guntur pada 2010.
Tidak ada laporan kehilangan terbaru. Nah, ini, menurutku, penyebab di pencuri bebas berkeliaran di Gunung Guntur. Pantas saja dia merasa bebas menjalankan aksinya karena memang tidak ada laporan dan tindakan yang jelas. Aku membayangkan, setiap pekan si pencuri bebas berkeliaran, merobeki tenda, mengambil barang-barang milik pendaki dan dia melenggang santai.
Memang, sih, sebagai korban muncul perasaan pasrah. Ya, barang sudah hilang mau gimana lagi. Atau malas melaporkan, toh barang tidak  akan kembali.
Tapi menurutku, dengan kita melaporkan kehilangan pada petugas setempat akan  ada data. Dan masak iya, bu Tati dan pengurus RT dan RW setempat akan diam-diam saja kalau tahu banyak kasus kehilangan di lokasi yang menjadi wilayah kekuasaan mereka. Dan siapa tahu jika suatu saat mereka membuat strategi dan menangkap si pencuri tersebut.
Dengan melaporkan tindak kejahatan yang kita alami, menurutku, nih, kita bisa menyelamatkan saudara-saudara sesama pendaki. Minimal mereka akan mendapat arahan dari petugas untuk lebih berhati-hati. Dengan syarat, mendaftar dulu secara resmi sebelum memulai pendakian. Aku juga menyesal tidak mendaftar secara resmi. Karena kupikir tidak ada pos pendaftarannya. Aku juga sudah memberi masukan agar bu Tati dan jajaran pengurus setempat membuat aturan yang mewajibkan semua pendaki mendaftar secara resmi. Dengan begitu akan ketahuan siapa saja yang tengah mendaki. Data ini juga sangat bermanfaat jika ada kejadian yang tidak diinginkan, misalnya pendaki tersesat atau mengalami kecelakaan.
Alhamdulillah, rasanya lega setelah bertemu bu Tati dan melaporkan kejadian yang kualami. Ini ikhtiar yang kulakukan dan sekarang saatnya menyerahkan semua pada Allah. Semoga Allah ganti dengan hal yang lebih baik.
Pendakian di Guntur mengajarkan sesuatu kepadaku, bahwa kita mesti waspada dan berhati-hati, meski di gunung sekalipun. Juga ikhtiar maksimal, minimal agar orang lain tidak mengalami hal buruk sebagaimana yang kualami.
Aku tidak menyesal melakukan pendakian ini, meski aku kehilangan barang-barang yang kalau ditotal senilai 8 juta rupiah. Aku mendapat banyak pengalaman berharga, terutama tentang rasa kehilangan, ikhtiar dan tawakkal. Teman-temanku seperjalanan juga sangat baik dan lucu. Membuat pendakian ke Guntur menjadi satu lagi pengalaman yang tak terlupakan dalam hidupku..


*sumber foto dari teman2 seperjalanan: ken, hendra, bimo dan noni

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kampung Santri di Pulau Dewata


Bali dan Hindu seperti dua sisi mata uang. Keduanya nyaris tak terpisahkan. Namun ada yang berbeda di salah satu desa pinggiran kota wisata itu. Di sana tak ada perempuan berbaju adat dengan bunga kamboja kecil terselip di telinganya. Yang ada justru para remaja berjilbab yang tengah berangkat ke sekolah.
foto dari pegayamanvillage.blogspot
Seperti bukan Bali! Demikian komentar beberapa orang yang sempat mengunjungi Kampung Pegayaman, Sukasada, Buleleng, Bali Utara. Saat memasuki kampung, pengunjung akan 'disambut' dengan mushola mungil di pinggir sungai. Terhampar sajadah yang menandakan tempat itu kerap dipakai beribadah. Nuansa keislaman makin kuat terasa saat kita melihat kompleks sekolah muslim. Dari tingkat TK hingga SMA tersedia di sana.
Namun, saat mendengar warga berbicara dengan bahasa Bali akan mengingatkan pengunjung bahwa mereka masih berada di wilayah Pulau Dewata. Nama-nama unik seperti Ketut Abbas, Wayah Hasyim dan Ni Made Fatimah, menguatkan kesan Bali Islam. Secara fisik, masih banyak juga rumah dengan tekstur khas Bali. Walau tentu saja tanpa sanggah atau tempat pemujaan keluarga yang umumnya ada di tiap rumah Bali. Pura, sesaji dan dupa adalah hal langka yang tak mungkin Anda temukan di sini.
Bambang Supeno, warga Denpasar yang berprofesi sebagai guide berapa kali berkunjung ke Pegayaman menuturkan desa tersebut berada di dataran tinggi. Hingga udaranya sejuk. Saat cuaca mendung selepas dhuhur jalanan akan diselimuti kabut.
Rata-rata penduduk memiliki mata pencaharian sebagai pengelola kebun kopi dan cengkeh. Tak ada warga yang bekerja di sektor wisata karena memang tak terdapat obyek wisata di kampung ini. Namun bukan berarti tak ada wisatawan yang berkunjung ke tempat ini. Saat-saat tertentu, ada saja satu dua rombongan turis lokal menyambangi tempat ini untuk penelitian atau observasi lapangan.
Tradisi Unik di Pegayaman
Sebetulnya, Pegayaman bukan satu-satunya kampung Islam di Bali. Ada Kampung Kusamba di klungkung, Sindu Keramas di Gianyar, Kepaon di Badung, Kampung Islam Bugis di Singaraja dan masih banyak lagi. Namun Pegayaman memiliki beberapa tradisi khas yang menjadi ciri kampung mereka.
foto dari theperspectiveofantropology.wordpress
Abdul Ghaffar Ismail, ketua adat yang biasa disebut Penghulu, menuturkan, salah satu tradisi khas di Pegayaman adalah perayaan maulid Nabi Muhammad SAW. Kegiatan ini ditunggu hampir semua warga karena menyajikan hiburan terbesar sepanjang tahun. Persiapannya memakan waktu satu hingga dua bulan. Puncak kegiatan ada pada tanggal 11, 12 dan 13 Rabi'ul Awal.
Pada tanggal 11, masyarakat kampung Pegayaman sibuk membuat tape, kue dan mempersiapkan sapi yang akan disembelih pada malam menjelang kelahiran Nabi Muhammad SAW. Semalam suntuk ada hiburan burdah untuk mengiringi penduduk desa yang bahu-membahu memasak makanan. Paginya, makanan tersebut di bawa ke masjid dan disantap bersama-sama.
Hari berikutnya, acara dilanjutkan dengan ramah tamah dengan mengundang pejabat dari desa lain yang umumnya beragama hindu. Acara yang bertempat di Balai Desa ini sekaligus upaya menjaga kerukunan antara umat Islam dan Hindu. Selepas itu masih ada hiburan pencak silat dan acara arak-arakan. Semua pejabat diringi dengan anak sekolah berpawai keliling desa sambil membawa sokok yang berupa pohon pisang yang didirikan di atas dulang. Sokok tersebut dihiasi dengan telur dan buah-buahan. Acara makin meriah dengan hiburan burqah dan hadrah. Menjelang acara berakhir, telur dan buah-buahan tersebut akan dibagikan ke semua pengunjung.
Mirip dengan pawai dalam upacara adat Bali ya? “Memang mirip. Mungkin memang dulunya acara ini dibuat untuk menarik perhatian orang-orang Hindu ke ajaran Islam. Seperti yang dilakukan wali songo di Jawa,” ujar lulusan Pesantren Al Falah Kediri ini.
Islam dan Pegayaman
Bagaimana sejarahnya hingga Islam menjadi agama mayoritas di kampung Pegayaman? menurut Ghaffar, nenek moyang kampung ini berasal dari Blambangan (sekarang menjadi kabupaten Banyuwangi). Dahulu kala, saat menghadapi sebuah pertempuran, Raja Buleleng meminta bantuan ke kerajaan Blambangan. Dikirimlah sejumlah orang untuk membantu kerajaan Buleleng. Setelah memenangkan pertempuran, Raja Buleleng menghadiahkan tanah untuk ‘para sahabat dari Blambangan’ yang menjadi cikal bakal kampung Pegayaman.
Saat ini 90% penduduk Pegayaman beragama Islam. Sisanya beragama Hindu dan nasrani. Namun keharmonisan masyarakat Muslim dan Hindu dipelihara dengan baik. Mereka biasa berbagi makanan, tentu makanan yang halal seperti buah-buahan dan kue. “Orang Hindu bekerja di tempat orang Islam dan sebaliknya sudah biasa di sini,” ucap Ghaffar.
Aktivitas keseharian di kampung Pegayaman tak ubahnya desa santri. Pagi hari anak-anak berbusana rapi pergi ke madrasah (sekolah Islam). Sore hari hingga setelah magrib anak-anak tersebut mengaji di mushola atau rumah para ustadz. “Sayang tidak ada pesantren di kampung ini. Padahal di sini banyak terdapat lulusan pesantren,” tambah Ghaffar.
Hampir tiap hari ada pengajian di kampung Pegayaman. Hal ini bisa dilihat dari padatnya jadwal Ghaffar mengisi pengajian. Seminggu full. Ustadz asli kelahiran Pegayaman ini memang menjadi andalan mengisi berbagai acara di sekitar kampung.
Masjid Pemersatu masyarakat
Masyarakat Pegayaman memiliki cara unik untuk menjaga kesatuan warga muslim. Hanya boleh ada satu masjid di kampung ini yakni Masjid Jami’ Safinatussalam. Masjid ini menjadi pusat kegiatan ibadah warga seperti sholat jumat, tarawih dan ied.
Jika ramadhan, kegiatan di masjid ini justru ramai ketika malam hari. Biasanya tarawih dimulai oleh jamaah perempuan. Menjelang jam 22 ganti bapak-bapak yang shalat tarawih. Setelah itu masih berlanjut dengan tadarus, memukul bedhuk pertanda sahur, dan shalat subuh berjamaah.
Aini Firdaus-dimuat di Majalah Ummi edisi September 2010





  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Belajar Kearifan dari Suku Sasak Sade



Serombongan turis turun dari sebuah bis pariwisata. Mereka menyeberang jalan dan memasuki gerbang beratap alang-alang. Seusai mengisi buku tamu, beberapa pemuda Sasak menyambut mereka. Rombongan besar itu lalu terpecah menjadi beberapa kelompok kecil dengan guide masing-masing. Lalu sang guide memandu mereka mengelilingi dusun seluas lima hektar.
Tak hanya wisatawan mancanegara (wisman) yang tertarik mengunjungi suku Sasak di dusun Sade, Rembitan, Pujut, Lombok Tengah ini. Para wisatawan domestik tak mau ketinggalan. Setiap bulan rata-rata 3000 turis datang ke sini. “Saya menemukan banyak hal unik di Sade. Bentuk rumahnya, adat istiadatnya, pernak pernik (gelang, kalung, mainan anak) dan baju khas yang semuanya hand made (buatan tangan, red). Selain itu menurut informasi yang saya baca, di Lombok ini hanya tinggal 3 desa adat, salah satunya Sade,” ujar Latif, salah seorang pengunjung.
Kurdap Selake, ketua pengemban adat (juru keliang) sekaligus kepala dusun Sade, membenarkan ucapan Latif. Menurutnya, dahulu semua desa di Lombok memiliki arsitektur seperti di Sade. Namun seiring perkembangan zaman, bentuk fisik desa adat nyaris musnah.
Beruntung, Sade tidak termasuk desa yang tergerus perkembangan zaman. “Sebenarnya dusun ini sudah menjadi tujuan pariwisata sejak jaman Belanda. Namun pemerintah sendiri baru meresmikannya pada 1985,” tambah suami Merti Sari ini.
Bentuk rumah yang masih tradisional, dengan dinding dan tiang yang terbuat dari bambu, menjadi daya pikat bagi para wisatawan. Atap rumahnya dari rumput alang-alang yang dianyam dan dijemur kering. Terlihat rapuh, namun aman dari panas dan hujan serta mampu bertahan 7-8 tahun. Suku Sasak Sade memiliki teknik khusus saat membuat lantai, yakni mencampur tanah liat dan kotoran kerbau. Mereka yakin dengan metode ini lantai menjadi kuat dan tahan lama. Tak cukup itu, untuk menghindarkan diri dari serangan nyamuk, setiap seminggu sekali lantai rumah kembali diguyur dengan air kotoran kerbau.

Perempuan Sasak
Saat mengelilingi dusun, saya menemui perempuan Sasak yang sedang mengunyah sirih sambil bekerja. Usianya tak lagi muda, namun dia tetap bersemangat. Tangan kanannya menggerakkan alat berbentuk seperti kincir angin dan tangan kiri memegang kapas. Dari alat sederhana tersebut dia membuat benang. Sayang si ibu tak bisa berbahasa Indonesia. Jadi dia hanya tersenyum menjawab pertanyaan saya. 
Di bagian lain dusun ini terlihat perempuan yang tengah konsentrasi menenun. Tangannya lincah menarik alat yang berbuyi ter..ter..ter ke atas dan ke bawah. Melalui Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) ini dia membuat kain songket indah khas Lombok.
Rata-rata perempuan Sasak menghabiskan waktu satu bulan untuk membuat satu lembar kain songket. Tak heran kain ini dihargai ratusan ribu rupiah selembarnya. Selain itu, mereka juga membuat selendang, syal, dan taplak meja. Semua produk tersebut dibuat dengan alat sederhana yang terbuat dari kayu atau bambu. “Kami membuat sendiri alatnya,” ucap Inak Tapa, penenun Sade.
Meski demikian para perempuan itu mengaku menenun hanya profesi sampingan. Profesi utama mereka mengurus rumah dan membantu para lelaki bertani. Semua perempuan Sasak bisa menenun sejak usia 7-10 tahun. Bahkan menurut Inak Tapa perempuan Sasak dilarang menikah jika belum bisa menenun.
Industri tenun di Sade dikelola secara modern oleh koperasi. Caranya, semua kain tenun hasil produksi dikumpulkan di koperasi, lalu masyarakat menjual kembali kain tersebut. Koperasi juga menetapkan standar hingga tak ada persaingan harga yang mencolok antar pedagang.

Adat Pernikahan yang Unik
Bagi laki-laki cukup umur yang ingin menikah, mereka tak perlu mendatangai keluarga pihak perempuan. Tapi cukup dengan menculik calon pengantin perempuan ! “Adat disini tabu mengambil anak gadis di depan orangtuanya. Namun sehari setelahnya kami punya adat nelaba/rebak poco. Yaitu keluarga calon pengantin laki-laki memberikan kabar pada keluarga perempuan bahwa anak perempuan mereka sudah diculik,” tambah Kurdap.
Lalu berapa lama jarak 'penculikan' menuju pernikahan? Menurut ayah tiga anak ini, jeda waktunya bervariasi, antara 3 hari sampai beberapa bulan. Seharusnya setelah rebak poco pihak perempuan mengirimkan wali nikah sang gadis. Namun beberapa keluarga perempuan mensyaratkan uang 'ganti' wali nikah. Negosiasi mengenai hal ini yang biasanya memperlambat akad nikah.
Meski calon pengantin perempuan sudah diculik, bukan berarti dia ditempatkan satu rumah dengan calon pengantin laki-laki. Secara adat, sang gadis telah 'diambil' keluarga laki-laki untuk dijaga baik-baik. Umumnya penduduk Sasak menganut paham endogami atau menikah hanya dengan sesama suku Sasak.

Belajar Kerifan dari Suku Sasak
Meski kental dengan berbagai adat, semua penduduk Sasak Sade beragama Islam. Kurdap meyakini sejak dahulu leluhur mereka beragama Islam. Hanya saja keislaman mereka belum sempurna.“Para pendahulu kami menjalankan Islam Wetu Telu. Yaitu hanya kiai yang wajib menjalankan ibadah seperti shalat dan puasa. Sedang masyarakat umum tidak menjalankannya,” ulas lelaki berusia 42 tahun ini. Baru pada 1964-1965, mereka dapat pembinaan dari pemerintah hingga hingga makin banyak penduduk tercerhkan dan menjalankan lima rukun Islam.
Mushola di dusun Sade menjadi satu-satunya bangunan yang berbeda. Dinding dan atapnya sama dengan rumah yang lain, namun lantainya terbuat dari keramik. Tempat wudhunya terbuat dari gentong besar. Seperti umumnya mushola, di dalamnya terdapat mimbar, mikrofon dan speaker.
Walau mempertahankan kehidupan tradisionalnya, masyarakat Sade memang tak menolak kemajuan zaman. Mereka tak lagi bergantung pada lampu minyak karena sudah memakai listrik. Radio, televisi dan VCD player menghiasi sebagian rumah mereka. Anak-anak muda juga telah mengenyam pendidikan walau hanya sampai SMP atau SMA.
Namun mereka masih mempertahankan budaya gotong royong. Saat rumah salah seorang penduduk mengalami kerusakan, para tetangga dengan sukarela memperbaiki. Mulai dari menganyam alang-alang untuk atap, menaikkan atap, mengganti dinding, semua dilakukan bersama.
Anak muda di dusun Sade tak tertarik bekerja di kota besar. Dusun Sade sudah menyediakan lahan pekerjaan untuk mereka, yakni sebagai guide para tamu. Ada 35 guide dengan jadwal kerja yang telah disusun rapi. Dusun mengalokasikan dana khusus untuk menggaji mereka.
Dusun Sade mengandalkan dana dari Dinas Pariwisata untuk mengelola daerahnya. Karena itu pengunjung tak dikenai biaya sepeser-pun. Pengelola hanya meletakkan kotak donasi di pintu masuk. Dana donasi itu dimanfaatkan untuk kepentingan sosial, seperti pembangunan masjid, santunan untuk warga yang sakit atau meninggal dunia dan bantuan pendidikan. Semua dana (baik dana bantuan maupun donasi) dikelola dengan transparan. Laporan pertanggung jawaban dilakukan setiap tahun.
Sistem pengelolaan dusun ini menunjukkan bahwa masyarakat Sasak memiliki jatidiri yang kuat. Mereka mampu mengkombinasikan modernisasi dengan nilai-nilai lokal yang mereka yakini kebenarannya. Berkebalikan dengan kebanyakan masyarakat kota yang justru sering ikut arus dan nyaris tak mengenali dirinya sendiri. Jadi, mengapa tidak kita belajar kearifan dari mereka?
Aini Firdaus-dimuat di Majalah Ummi edisi September 2010




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

9 Essential Skills Kids Should Learn

Kids in today’s school system are not being prepared well for tomorrow’s world. 

As someone who went from the corporate world and then the government world to the ever-changing online world, I know how the world of yesterday is rapidly becoming irrelevant. I was trained in the newspaper industry, where we all believed we would be relevant forever—and I now believe will go the way of the horse and buggy. 

Unfortunately, I was educated in a school system that believed the world in which it existed would remain essentially the same, with minor changes in fashion. We were trained with a skill set that was based on what jobs were most in demand in the 1980s, not what might happen in the 2000s. 

And that kinda makes sense, given that no one could really know what life would be like 20 years from now. Imagine the 1980s, when personal computers were still fairly young, when faxes were the cutting-edge communication technology, when the Internet as we now know it was only the dream of sci-fi writers like William Gibson. 

We had no idea what the world had in store for us. 

And here’s the thing: we still don’t. We never do. We have never been good at predicting the future, and so raising and educating our kids as if we have any idea what the future will hold is not the smartest notion. 

How then to prepare our kids for a world that is unpredictable, unknown? By teaching them to adapt, to deal with change, to be prepared for anything by not preparing them for anything specific. 

This requires an entirely different approach to child-rearing and education. It means leaving our old ideas at the door, and reinventing everything. 

My drop-dead gorgeous wife Eva (yes, I’m a very lucky man) and I are among those already doing this. We homeschool our kids—more accurately, we unschool them. We are teaching them to learn on their own, without us handing knowledge down to them and testing them on that knowledge. 

It is, admittedly, a wild frontier, and most of us who are experimenting with unschooling will admit that we don’t have all the answers, that there is no set of “best practices”. But we also know that we are learning along with our kids, and that not knowing can be a good thing—an opportunity to find out, without relying on established methods that might not be optimal. 

I won’t go too far into methods here, as I find them to be less important than ideas. Once you have some interesting ideas to test, you can figure out an unlimited amount of methods, and so my dictating methods would be too restrictive. 

Instead, let’s look at a good set of essential skills that I believe children should learn, that will best prepare them for any world of the future. I base these on what I have learned in three different industries, especially the world of online entrepreneurship, online publishing, online living… and more importantly, what I have learned about learning and working and living in a world that will never stop changing. 

  1. Asking questions. What we want most for our kids, as learners, is to be able to learn on their own. To teach themselves anything. Because if they can, then we don’t need to teach them everything—whatever they need to learn in the future, they can do on their own. The first step in learning to teach yourself anything is learning to ask questions. Luckily, kids do this naturally—our hope is to simply encourage it. A great way to do this is by modeling it. When you and your child encounter something new, ask questions, and explore the possible answers with your child. When he does ask questions, reward the child instead of punishing him (you might be surprised how many adults discourage questioning).

  2. Solving problems. If a child can solve problems, she can do any job. A new job might be intimidating to any of us, but really it’s just another problem to be solved. A new skill, a new environment, a new need… they’re all simply problems to be solved. Teach your child to solve problems by modeling simple problem solving, then allowing her to do some very easy ones on her own. Don’t immediately solve all your child’s problems—let her fiddle with them and try various possible solutions, and reward such efforts. Eventually, your child will develop confidence in her problem-solving abilities, and then there is nothing she can’t do.

  3. Tackling projects. As an online entrepreneur, I know that my work is a series of projects, sometimes related, sometimes small and sometimes large (which are usually a group of smaller projects). I also know that there isn’t a project I can’t tackle, because I’ve done so many of them. This post is a project. Writing a book is a project. Selling the book is another project. Work on projects with your kid, letting him see how it’s done by working with you, then letting him do more and more by himself. As he gains confidence, let him tackle more on his own. Soon, his learning will just be a series of projects that he’s excited about.

  4. Finding passion. What drives me is not goals, not discipline, not external motivation, not reward… but passion. When I’m so excited that I can’t stop thinking about something, I will inevitably dive into it fully committed, and most times I’ll complete the project and love doing it. Help your kid find things she’s passionate about—it’s a matter of trying a bunch of things, finding ones that excite her the most, helping her really enjoy them. Don’t discourage any interest—encourage them. Don’t suck the fun out of them either—make them rewarding.

  5. Independence. Kids should be taught to increasingly stand on their own. A little at a time, of course. Slowly encourage them to do things on their own. Teach them how to do it, model it, help them do it, help less, then let them make their own mistakes. Give them confidence in themselves by letting them have a bunch of successes, and letting them solve the failures. Once they learn to be independent, they learn that they don’t need a teacher, a parent, or a boss to tell them what to do. They can manage themselves, and be free, and figure out the direction they need to take on their own.

  6. Being happy on their own. Too many of us parents coddle our kids, keeping them on a leash, making them rely on our presence for happiness. When the kid grows up, he doesn’t know how to be happy. He must immediately attach to a girlfriend or friends. Failing that, they find happiness in other external things—shopping, food, video games, the Internet. But if a child learns from an early age that he can be happy by himself, playing and reading and imagining, he has one of the most valuable skills there is. Allow your kids to be alone from an early age. Give them privacy, have times (such as the evening) when parents and kids have alone time.

  7. Compassion. One of the most essential skills ever. We need this to work well with others, to care for people other than ourselves, to be happy by making others happy. Modeling compassion is the key. Be compassionate to your child at all times, and to others. Show them empathy by asking how they think others might feel, and thinking aloud about how you think others might feel. Demonstrate at every opportunity how to ease the suffering of others when you’re able, how to make others happier with small kindnesses, how that can make you happier in return.

  8. Tolerance. Too often we grow up in an insulated area, where people are mostly alike (at least in appearance), and when we come into contact with people who are different, it can be uncomfortable, shocking, fear-inducing. Expose your kids to people of all kinds, from different races to different sexuality to different mental conditions. Show them that not only is it OK to be different, but that differences should be celebrated, and that variety is what makes life so beautiful.

  9. Dealing with change. I believe this will be one of the most essential skills as our kids grow up, as the world is always changing and being able to accept the change, to deal with the change, to navigate the flow of change, will be a competitive advantage. This is a skill I’m still learning myself, but I find that it helps me tremendously, especially compared to those who resist and fear change, who set goals and plans and try to rigidly adhere to them as I adapt to the changing landscape. Rigidity is less helpful in a changing environment than flexibility, fluidity, flow. Again, modeling this skill for your child at every opportunity is important, and showing them that changes are OK, that you can adapt, that you can embrace new opportunities that weren’t there before, should be a priority. Life is an adventure, and things will go wrong, turn out differently than you expected, and break whatever plans you made—and that’s part of the excitement of it all.
We can’t give our children a set of data to learn, a career to prepare for, when we don’t know what the future will bring. But we can prepare them to adapt to anything, to learn anything, to solve anything, and in about 20 years, to thank us for it. 


Penulis:  Leo Babauta
sumber: http://designtaxi.com/article/101955/9-Essential-Skills-Kids-Should-Learn/

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Seri Menjadi Ibu: Kampanye ASI

Posting tulisan lama...


Dokumentasi tulisanku saat-saat awal menjadi ibu....

sumber:asi.png

Semenjak menjadi ‘ibu baru’, banyak wawasan baru yang kudapatkan. Awalnya, kupikir menyusui itu merupakan sesuatu yang alami –karena sudah satu ‘paket’ dengan bayi - , mudah –artinya secara otomatis setiap ibu akan melakukannya-, praktis –kan tidak usah susah-susah cari botol, nuang susu bubuk, mbuka termos dan ngaduk-aduk- dan menyenangkan BAGI SEMUA IBU. 
Namun ternyata tidak semua ibu sepakat dengan hal  itu. Awalnya aku gak begitu aware ketika ibu-ibu di arisan tanya: “Ibu Aini, anaknya minum susu apa?”, kujawab: “minum ASI bu, kan ASI eksklusif sampai 6 bulan”. Lalu ibu ibu bertanya lagi sambil agak heran: “jadi hanya minum air tete’ (maaf) saja?” Aku juga menjawab dengan tak kalah heran: “iya bu, sampai 6 bulan”. Itu pengalaman pertama.

Pengalaman kedua terjadi pas aku ngajak sofie jalan-jalan di sekitar rumah, seorang ibu tetangga rumah Tanya: “Wah anaknya minum susu apa bu?” kujawab seperti penanya pertama dan muncul pertanyaan berikutnya yang gak jauh beda dengan cerita pertama. Aku mulai berpikir: Emangnya siapa yang bikin aturan kalau bayi itu ‘sebaiknya’ minum susu yang ‘bukan ASI saja’.

Pengalaman ketiga terjadi ketika aku datang ke pangajian ibu-ibu se-komplek, terjadi lagi dialog seprti di cerita pertama dan kedua, hanya saja kulanjutkan dengan pertanyaan: “memangnya anaknya ibu dulu tidak minum ASI?” jawab ibu itu: ”anak saya yang pertama kan laki-laki, jadi minum susunya kuat sekali, ASI saya tidak cukup terus saya sambung susu botol, lalu lama-lama air susu saya keluarnya sedikit sekali, jadi terus minum susu botol. Pas anak saya yang perempuan, ASI saya tidak keluar jadi sejak kecil dia minum susu botol.

Aku jadi makin tertarik dengan masalah per-susu-an ini. Lalu aku coba mengumpulkan informasi lebih banyak. dalam berbagai forum dan pertemuan –asal ada ibu lain yang membawa bayi atau ada ibu yang menanyakan perihal sofie- langsung aja aku tanyai soal susu menyusu ini. Hasilnya, aku dapatkan data sebagai berikut:

1. Saat ini sudah semakin jarang ibu menyusui, alasannya:
a. Tidak keluar ASI-nya
b. Bayi tidak bisa menyusu
c. ASI keluar sedikit terus mongering
d. Si ibu bekerja, jadi tidak bisa menyusui bayinya
2. Kalau-pun menyusui, rata-rata tidak melakukan
ASI eksklusif, karena
a.  ASI-nya encer, bayi tidak kenyang
b. ASI yang keluar sedikit, bayi nangis terus karena tidak kenyang
c. Ibu bekerja
3. Ada nilai prestisius yang terkandung dari jenis
susu formula yang diminum si kecil: semakin mahal susu formula-nya, berarti
semakin keren si ibu
4. Sebagian besar ibu beranggapan ‘nilai gizi dan nutrisi’ yang terkandung dalam susu formula itu lebih baik dari ASI makanya lebih
baik minum susu botol aja
5. Adanya anggapan –meski tersamar dan tidak ada yang mengungkapkan secara lisan- bahwa menyusui itu merepotkan, membuat ibu
terikat/tidak bebas dan kurang keren.

NAH LHO, gimana tuh? Dan ternyata data ‘riset-ku’ itu
dikuatkan dengan adanya data di berita seputar hebohnya bakteri Sakazaki, bahwa ibu yang menyusui hanya 39% dari total semua ibu di Indonesia. Dan sedihnya lagi, kebanyakan ibu- yang menjadi ‘responden’ku memilih tidak menyusui karena terpengaruh mitos maupun rayuan para pengusaha susu formula. 

Kenapa mitos? karena memang banyak sekali mitos yang berkaitan dengan susu bayi, di antaranya adalah anggapan bahwa bayi laki-laki minum ASI nya lebih kuat, jadi ASI saja tidak akan cukup. Ini dikuatkan dengan fakta yang menyatakan bayi sering menangis karena tidak/kurang kenyang.
Padahal, dari banyak literatur yang aku baca, 98% ibu bisa menyusui dan jumlah
ASInya pasti SESUAI untuk bayi. Tidak kurang dan tidak lebih. 

Menurut literature itu, bayi yang menangis bukan berarti tidak kenyang, namun karena ada yang membuat dia tidak nyaman. Entah karena dingin, ingin sendawa, mengantuk atau karena perasaan si ibu tengah gundah dan kegelisahan itu 'nyetrum' ke bayinya. Jadi tidak ada hubungannya antara bayi menangis dan tidak kenyang. 

Kalau-pun ada yang mengatakan bayinya menangis, lalu diam setelah diberi susu formula, itu belum tentu saling berkaitan. Bayi sering terlihat menyukai
susu formula karena lebih manis, tapi justru karena itu gak bagus bagus buat
bayi (dalam jangka panjang). Susahnya, mitos ini sudah begitu kuat tertanam
–terutama pada para nenek yang gak pernah kuat mendengar cucunya menangis-. Akibatnya ketika si ibu ‘baru’ masih tinggal bersama sang nenek, kemungkinan si bayi diminumi susu formula lebih besar dibanding si ibu yang tidak tinggal bersama sang nenek.

Parahnya lagi, banyak ibu yang tidak tahu bahwa kandungan susu formula sungguh tidak sebanding dengan kandungan gizi ASI. Ini karena ulah
para produsen susu dan iklan susu formula di televisi nih. Jadinya banyak ibu
muda yang gak yakin bahwa menyusui itu lebih sehat. 

Selain itu, tidak hanya masalah ASI, saat ini banyak orangtua yang bahkan merasa WAJIB memberikan susu (formula) pada anaknya. Di sisi lain, si anak tidak diwajibkan untuk makan sayuran, buah, ikan dan makanan bergizi lain selain susu. Akhirnya, para produsen susu formula menenggak keuntungan dari penjualan susu formula y ang semakin meningkat. Sedangkan kualitas kesehatan anak semakin lama semakin menurun.

ITULAH, makanya sekarang penting banget kita semua lakukan
kampanye ASI. Bagi para ibu, jangan pernah terpengaruh dengan mitos bahwa ASI kita enggak cukup. Seperti di iklan Pr*na**n itu lho: “Semakin banyak kamu (bayi) minum (ASI), semakin banyak ASI Mama”. 
Memahaminya jangan kebalik: “Semakin banyak kamu (ibu) minum (Prenagen), semakin banyak ASI Mama”. 

Dan jangan pernah menyerah kalau ASI nya belum keluar, coba terus dan coba terus, semoga kita tidak termasuk dalam 2 % wanita yang mengalami masalah dengan ASI.

Terakhir, kayaknya perlu deh dibuat semacam “Mother’s
School” yang tujuannya mempersiapkan para calon ibu dan ibu muda agar
mengetahui bagaimana merawat anak dengan baik, mengetahui masalah gizi, nutrisi dan membiasakan hidup sehat dalam keluarga. Tapi, siapa ya yang mau bua sekolah seperti itu?

4 Maret 2008
Habis nonton Healthy Life di Metro edisi “Makanan pengganti Susu Formula yang baik bagi Anak”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Review Buku:Musashi (2)



(masih postingan lama: April 2008..)

Musashi-nya keren banget. Aku baru sampai di bagian dimana
Musashi memutuskan untuk bertani. “Aku akan meletakkan pedang untuk sementara waktu dan sebagi gantinya, bekerja dengan cangkul”, ini kata Musashi.

Zen, kaligrafi, seni minum the, melukis dan mengukir patung –
smeua itu bermanfaat untuk menyempurnakan ilmu pedang seseorang. Apakah
menggarap ladang tidak juga memberikan sumbangan pada latihannya? Bukankah
petak tanah luas ini, yang menanti garapan tangan manusia, merupakan ruang
latihan yang sempurna? Dengan mengubah tanah datar yang tidak ramah ia, dapat
memajukan kesejahteraan generasi masa depan. 
Selama ini ia menempuh hidup seperti pendeta pengemis Zen –boleh dikatakan hidup atas perinsip menerima, yaitu tergantung pada makanan, peneduh, dan sumbangan orang lain. ia ingin mengadakan perubahan radikal, karena sudah lama ia menduga bahwa hanya mereka yang benar-benar memahami betapa suci dan bernilai keduanya. …
.tujuan yang henak dicapainya sekarang lebih dari sekedar menghasilkan makanan untuk makannya sehari-hari. Ia mencari makanan yang berfaedah untuk jiwanya. Ia ingin mempelajari arti bekerja untuk hidup, dan bukan sekedar meminta. Ia juga ingin menanamklan jalan pikirannya kepada orang-orang daerah itu. Menurut penglihatnnya, menyerahkan tanah itu kepada rumput liar dan widuri, dan membiarkannya ditimpa badai dan banjir, berarti menurunkan hidup melarat dari generasi satu ke generasi lain, tanpa membuka mata terhadap kemampuan mereka sendiri dan kemampuan tanah sekitar mereka… (hal. 845 dengan judul bab “Sepiring ikan lumpur)

Bagiku, buah pikiran yang ada dalam paragraf-paragraf di atas sunguh luar biasa. Bertani sebagai
bagian dalam meniti jalan Samurai. …Kupikir, Samurai ‘hanya’ berkisar di wilayah ‘pedang dan bertempur mengalahkan lawan’. Ternyata dalam buku ini aku menemukan penjelasan yang mencerahkan.
Jadi inget sosok Katsimoto dalam The Last Samurai. Kerendahan diri untuk selalu belajar dari alam dan manusia lain, disiplin mendidik diri, tidak bergantung pada ‘fasilitas’, mandiri dalam memenuhi kebutuhan diri, kesediaan untuk selalu meng-evaluasi diri, dan bermanfaat bagi orang lain. kupikir itu nilai-nilai yang terkandung dalam diri seorang Samurai Sejati.

Jadi masuk akal ketika Musashi memilih bertani sebagai salah satu latihannya. Bertani –apalagi di lahan yang ‘terlihat tidak cocok untuk pertanian’ , artinya bersedia bekerja keras mengolah tanah, bersabar ketika menuai bibit dan menumbuhkannya, siap ‘berhadapan’ dengan kehendak alam (banjir dan badai), dan -dalam buku ini cobaan yang paling berat adalah- memiliki mental baja menghadapi cemoohan dan cibiran orang yang menganggap menjadikan lahan ‘itu’ sebagai lahan pertanian adalah sesuatu yang sia-sia. Hanya orang yang bermental bajadan mau bekerja keras saja yang dapat melakukannya. Ini latihan yang luar biasa untuk menjadi seorang Samurai Sejati.

Dan benar-lah, di akhir bab ini,-setelah Musashi mengalami ‘kegagalan-kegagalan’ membangun lahan pertaniannya, dia menemukan pelajaran penting, yaitu menjadi pelayan alam. “Aku mencoba memaksa air mengal ir ke tempat yang kukehendaki, dan memaksa lumpur diam di tempat yang
menurutku memang tempatnya.tapi itu tidak benar. Bagaimana mungkin? Air adalah air, lumpur adalah lumpur, tak dapat aku mengubah hakekat keduanya itu. Yang mesti kulakukan adalah belajar menjadi
pelayan air dan pelindung  tanah”, kata Musashi.

Jangan mencoba melawan jalannya alam semesta. Tapi pertama-tama yakinkan dirimu engkau mengenal jalan alam semesta (tulis Musashi dalam buku catatannya).

Kupikir bab ini perlu menjadi bacaan bagi para pengambil kebijakan yang berkaitan dengan pengelolaan Sumber Daya Alam.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Total Tayangan Laman

Cari Blog Ini