aini firdaus. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Review Buku:Musashi (1)


(Posting tulisan lama... 10 April 2008)

Aku lagi baca Musashi nih. Aku tau aku telat baca nya. Buku Eiji Yoshikawa ini udah terbit sejak tahun 2001. Cetakan terbaru (keempat) tahun 2005. Dan sekarang udah tahun 2008. Jadi mungkin bagi yang udah baca lama, akan terasa ‘basi’ baca komentar-komentarku tentang buku ini. Tapi ya mau gimana lagi, emang aku baru dapat kesempatan itu
saat ini. Sebenarnya aku dah lama cari buku ini tapi kemarin-kemarin selalu tidak beruntung. Dan mungkin juga karena saat ini memang saat yang tepat bagiku untuk membacanya dan mengambil pelajaran darinya. Buku ini bercerita tentang MUSHASHI, seorang pemuda dari desa Miyamoto yang mencari kebenaran dengan jalan pedang. Kalau ada orang yang memilih mencari kesejatian hidup dengan menjadi seniman, akademisi, ustadz, maka si TAKEZO (nama kecil Musashi) memilih jalan pedang. Awalnya aku juga agak heran, kok jalan pedang sih? Bukannya jalan pedang itu berarti berkelahi dan membunuh? Masak bisa menemukan nilai-nilai spiritual dari jalan itu?
Awal-awal cerita rasanya merinding juga, kok tega banget sih si Takezo ini. Sabet sana sabet sini,
potong kepala, membelah tubuh, mengiris telinga, dan memotong tangan kok kayak koki lagi masak daging. Gampang banget gitu. Memang sih selalu ada alas an dia membunuh (artinya dia gak membunuh jika tidak diganggu lebih dulu), tapi kok ya alasannya itu terkadang sepele banget atau terkadang karena si Musashi sendiri yang berada dalam situasi yang tidak pas.

Intermezzo: oh ya
buku ini tebalnya 1238 halaman dan terbagi menjadi 7 bagian (sebetulnya ini versi komplit dari 7 buku yang diterbitkan secara terpisah). 7 buku itu adalah: 1) Tanah, 2) Air, 3) Api, 4) Angin, 5) Langit, 6)Matahari dan Bulan, 7) Cahaya Sempurna Di bagian akhir buku 1, mulai terjawab deh pertanyaan-pertanyaanku. Kenapa si Takezo itu kok seperti tidak punya rasa belas kasihan. Juga bagaimana dia mulai mendapat pencerahan dari Takuan Soho (seorang pendeta penganut aliran Zen). Hingga lahirlah Miyamoto Musashi yang bertekad menjadi manusia yang lebih baik.

Aku gak akan bercerita setiap bagian dari buku ini. Aku hanya ingin berbagi tentang hal-hal yang menurutku sangat menarik dari buku ini. Aku mulai benar-benar terpikat ketika memasuki buku 2,
dimana Mushasi banyak menemukan hal-hal penting yang –kemudian- membantunya untuk memahami hakikat dari jalan pedang. “Aku ingin menempuh hidup yang berarti. Aku mau menempuhnya, karena aku lahir sebagai manusia “ (hal. 175 dalam bab: Berhadapan dan Mundur).

Sosok Sekhisusai dari tanah perdikan Koyagyu memberikan pelajaran berharga tentang inti Seni Perang yaitu pengendallian diri. Bagaimana Sekhisusai memilih untuk ‘meninggalkan’ dunia yang hingar bingar dan memilih tinggal di tempat terpercil, menyibukkan diri dengan upacara minum the, menulis puisi dan sajak, mendengar seruling dan mengatur bunga di jambangan meninggalkan kesan mendalam bagiku. Sungguh luar biasa ketika seseorang telah menguasai suatu ilmu dengan baik.
Kegiatan yang kelihatannya sepele, seperti memotong bunga untuk di atur dalam vas, menjadi sesuatu yang tidak biasa. Dan hanya orang yang luar biasa juga yang bisa menangkap keistimewaa dari sebuah aktivitas yang terlihat sepele itu. Kejelian Musashi menangkap keliahaian Sekishusai menggunakan pedang melalui potongan bunga peoni itu bisa menjadi contoh.

Ia menjulurkan tangan, memungut mangkuk dengan penuh cinta
dan meletakkannya di atas lutut. Matanya bercahaya ketika mengamati. Terasa
olehnya kegembiraan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Diperhatikannya
dasar mangkuk itu, demikian juga jejak-jejak kape tukang tembikar, dan sadarlah
ia bahwa garis-garis itu menunjukkan ketajaman yang sama dengan irisan yang dilakukan Sekishusai
pada batang bunga peoni. Mangkuk bersaha inipun hasil karya seorang jenius.
Mangkuk ini mengungkapkan sentuhan semangat dan wawasan yang misterius.

……..
….Musashi kagum mendengar Koetsu dapat membuat keramik
sendiri. Tapi yang lebih mengesankan daripada luasnya kecakapan artistic orang
itu adalah kedalaman nilai manusia yang tersembunyi dalam mangkuk the yang
kelihatannya sederhana ini. Agak terganggu juga ia oleh kedalaman sumber
spiritual Koetsu. Karena terbiasa mengukur orang lain dengan kemampuan
menggunakan pedang, tiba-tiba ia menyimpulkan bahwa kemampuan dirinya begitu
kecil. Pikiran ini membuatnya merasa hina…..  (hal 505 dalam bab: Manusia Seba Bisa)


Dua paragraf itu hanya sebagian kecil yang menceritakan pertemuan Musashi dengan Koetsu, seorang seniman. Dia bisa membuat tembikar, ahli melukis, juga hidup dengan ritual minum teh. Sifatnya lembut dan sangat dalam memaknai hidup. Dia mengikuti profesi turun temurn dari leluhurnya yaitu
menggosok pedang para bangsawan.

Tau nggak apa yang kurasakan ketika sampai pada bab ini?
Betapa luar biasa-nya nilai-nilai spiritual yang dimiliki oleh orang-orang ini. Mengendalikan diri, menundukkan sifat merusak dalam diri sendiri, bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu dan tidak pernah melakukan sesuatu kecuali dengan tujuan yang jelas. Bahwa sesuatu itu adalah bagian dari
perjalanan hidup menuju kesejatian. Manusia itu apa sih? Dia seringkali sombong, merasa lebih
dari semua yang ada di bumi ini, dia ingin selalu menjadi yang utama, selalu ingin dianggap baik oleh orang lain, tidak mau jujur mengakui kesalahan. Sungguh bagiku menjadi sangat penting untuk bersikap jujur dan adil sejak dalam pikiran.
Jadi ingat kata-katanya Mingke dalam Tetralogi Pramoedya Ananta Toer -nya:kita harus adil sejak dalam pikiran.

Mari sama-sama tengok dalam sanubari kita, betapa banyak hari-hari yang kita lalui berisi pikiran-pikiran: ‘Ah, siapa sih dia’, ‘Aku masih lebih baik dari dia’, ‘kok dia begini sih, padahal…masih mending aku,…aku nih…dst

Pelajaran penting yang kudapat sampai saat ini adalah kenali diri dan didik diri sendiri untuk menjadi manusia yang sejati.  Sungguh-sungguh, disiplin, tidak tergantung pada manusia, dan yang
paling penting meniatkan diri untuk berproses menjadi manusia sejati seperti yang dikehendaki Dia yang menciptakanku.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Jelajah Islam Asia Tenggara (1)

Salah satu mimpiku, menjelajah dunia. Aku mulai dengan perjalanan Malaysia-Singapura-Thailand tahun ini. Banyak kekhawatiran yang sempat muncul jauh-jauh hari. Seperti, punya uang nggak ya? Nanti gimana kalau pas tanggalnya enggak bisa berangkat, tiket hangus dong..ntar gimana kalau kesasar, dll

But, the show must go on..
Berawal dari obrolan dengan teman2 kuliah dulu di UGM, kami (mas RS, Arie, mas Sahe+istri dan Aku+suami+Sofie) menyepakati untuk melakukan perjalanan bareng di kawasan Asia Tenggara. Kebetulan ada promo tiket Air Asia di bulan September 2011 lalu. Lalu kami menetapkan niat (saat itubelum ada bayangan mau kemana aja, prioritas utama kami yang harga tiketnya murah. hehe). Lalu malam harinya, bertiga dengan Mas RS di Solo dan Arie di Jogja, kami berjibaku mencari tiket murah ^_^ dan...dapatlah 5 tiket (Jkt-KL, KL-Bangkok, Bangkok-Phuket, Penang-KL dan KL-Jkt) dengan harga 630ribu rupiah/orang.

Beberapa bulan kemudian ada promo hotel di Bangkok dan Penang, atas kebaikan mas RS, dia booking untuk kami berlima.

Akhir tahun 2011 kami mulai serius membuat rencana perjalanan, melalui pertemuan di dunia maya, kami mulai merancang akan mengunjungi apa dan siapa di 3 negara tersebut. Tiga bulan sebelum hari H kami makin intens menyiapkan perjalanan dengan melakukan booking ke ho(s)tel2 di kota-kota yang akan kami singgahi, memilih transportasi, dll. Kami juga menghubungi lembaga keislaman di beberapa kota, yakni di Phuket dan Pattani untuk meminta izin mengunjungi mereka.

Dan, akhirnya tibalah hari itu. Sayang sekali mas RS tak bisa mengikuti perjalanan karena ia 'disergap' pernikahan (hehe).
Sayang juga suamiku (Mas Sigit) tidak bisa mengikuti perjalanan secara utuh karena dia sedang memulai kontrak kerja di kampus President University. Akhirnya dengan formasi 4 orang dewasa dan 1 anak balita kami memulai petualangan Asia Tenggara :)

H-1 (14 Sept 2012)
Aku, Sofie dan Arie berangkat dari rumah jam 5 karena jadwal pesawat jam 08.30. Sampai bandara Soe-ta jam 6.30. Ternyata pesawat delay sampai jam 11. Alhamdulillah, karena aku masih punya pekerjaan, kumanfaatkan kondisi itu dengan menyelesaikan editan tulisan ^_^

Sampai bandara Air Asia di Kuala Lumpur (LCCT) kami shalat dan bersiap mencari bus ke Melaka. Arie yang telah melakukan kunjungan ke Melaka beberap bulan sebelumnya memilih tinggal di KL, jadilah 3 orang+Sofie ke Melaka.

KL-Melaka ditempuh dalam 2,5 jam. Sampai di Terminal Melaka Sentral kami langsung mencari warung makan. Lapar banget ^_^ Alhamdulillah ketemu dengan warung yang pemiliknya orang Indonesia. Di kedai (begitu biasa orang Malaysia menyebutnya) ini makanannya murah meriah. contohnya, bakso seharga 3,5 Ringgit Malaysia (RYM), nasi+pecel lele 5 RYM. Bandingkan dengan harga nasi lemak (berisi nasi+ayam+lalapan+teri) di bandara LCCT yang kubeli buat Sofie seharga 8 RMY atau 25 ribu rupiah.

Dari Melaka Sentral kami menuju penginapan Backpaker Hostel dengan bus nomor 17. Bayarnya cuma 1 RYM/orang. Alhamdulillah lokasi hostel ini sangat strategis, pas di depan Menara Tamingsari.
Tidak banyak waktu yang kami miliki di Melaka. Malamnya kami jalan-jalan di sekitar Menara Tamingsari, esoknya menyusuri danau di sekitar museum Bahari, foto-foto di replika kapal juga di bekas benteng sederhana namun 'disulap' menjadi tempat yang menarik. Dan sekitar jam 11 kami bersiap kembali ke KL dan melanjutkan perjalanan ke Singapura.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Apa yang Berharga dari Sebuah Perjalanan?



       Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa hal yang berharga dari jalan-jalan adalah melihat tempat-tempat terkenal, berfoto di sana dan menunjukkan pada dunia bahwa “Aku sudah pernah ke sana, lho.” Sebagian yang lain mungkin berpendapat bahwa yang berharga adalah bisa pergi ke tempat baru, menikmati keindahan alam, membuat hati lapang dan sejenak melupakan rutinitas hidup yang seringkali membuat bosan dan otak serasa berhenti berpikir.
      Sepanjang perjalanan kemarin, sepuluh hari menyusuri kota kecil dan besar di Malaysia, Singapura dan Thailand, aku terus berpikir apa yang kucari. Aku tahu ini bukan perjalanan yang terlalu istimewa karena 3 negara itu bukan tempat yang jauh. Pasti banyak orang pernah ke sana. Tempat-tempat yang kukunjungi juga tidak terlalu istimewa. Kita tinggal nge-klik di google dan gambar tempat-tempat tersebut akan mudah kita temui bahkan dengan angle foto yang lebih ciamik. Lalu apa istimewanya?
      Ternyata yang sangat berharga -menurutku- adalah perjalanan itu sendiri. Apakah itu? Tidak lain adalah perasaan bahwa kita mengunjungi tempat yang tidak selalu kita datangi. Bertemu dengan orang-orang baru, mencoba jenis makanan baru dan lidah kita mengecap rasa yang tak biasa. Juga sensasi saat mencari transportasi menuju tempat yang akan kita datangi, kadang-kadang kesasar. Termasuk kehujanan, kepanasan, kehausan dan kelaparan → saat mencari tempat makan halal di negara yang mayoritas non muslim.
      Selain itu hal yang tak kurang berharga adalah seni menata hati. Ketika rencana tidak sesuai kenyataan. Saat tiba-tiba kita terpisah dari rombongan dan tak bisa saling berhubungan. Lalu Allah mendatangkan bantuan, entah melalui seseorang yang tiba-tiba menawarkan tumpangan. Atau entah bagaimana caranya tiba-tiba bisa ketemu rombongan kembali. Itulah mengapa Rasulullah bersabda bahwa salah satu cara mengetahui karakter sahabat kita adalah saat melakukan perjalanan bersama dia.
Hal-hal itulah, yang membuatku selalu rindu melakukannya. Sebuah perjalanan, membuka cakrawala pemikiran, melembutkan hati, menundukkan diri pada sang Pemilik langit dan bumi yang Maha Luas. Juga membuat lebih yakin bahwa dimanapun kita berada, pertolongan Allah selalu sangat-sangat dekat.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Persiapan Backpaker ke Luar Negeri

Melunasi janji yang tertunda, pada kesempatan ini aku akan menulis tentang persiapan backpaker ke luar negeri. Topik ini sebetulnya sudah banyak dibahas di blog atau tulisan lain. Tapi memang biasanya ada rasa yang berbeda ketika kita membaca tulisan orang yang kita kenal, dengan kemiripan kondisi dan situasi. Semacam akan muncul pertanyaan, “kalau dia yang kondisinya nggak jauh beda denganku bisa jalan-jalan ke luar negeri, kenapa aku tidak?” ^_^

Nah ini yang perlu dipersiapkan sebelum backpaker-an ke luar negeri.
  1. Persiapkan paspor, cara ngurus paspor, browsing sendiri ya :)
  2. Sediakan kartu kredit yang sebaiknya milik sendiri. Aku rekomendasikan kartu kredit syariah, biar aman bertransaksi dan halal.
  3. Siapkan uang untuk booking tiket, jumlah uangnya tergantung negara mana yanga kan kita tuju. Kalau ini perjalana pertama Anda di kawasan Asia Tenggara, kupikir cukuplah menyiapkan uang 500ribu/orang untuk perjalanan pulang pergi.
  4. Mantengin jadwal promo tiket pesawat dengan cara daftar menjadi member Air Asia (karena hingga saat ini baru maskapai ini yang relatif sering memberi promo). Sering-sering juga cek informasi maskapai Low Cost lain semacam Tiger Air Ways.
  5. Jika ingin pergi barengan dengan beberapa orang, sepakati jauh-jauh hari akan pergi dengan siapa saja, kumpulin data paspor dan bikin kesepakatan kira-kira akan pergi antara tanggal berapa dan bulan apa.

Nah jika sudah ada kabar-kabar akan ada promo tiket pesawat, ini saatnya Anda berburu tiket pesawat. Caranya gimana?
  1. Cek harga tiket promo biasanya beebrapa jam sebelum jadwal promo, AA telah memberikan perkiraan harga tiket di tiap rute.
  2. Jika mau pergi barengan, langsung sepakati kira-kira rute mana yang mau diambil dan budget maksimal untuk tiket PP (misal rute perjalanan Malaysia dan Singapura bisa berangkat dari Jkt-KL dan pulang Singapura-Jkt dengan budget maksimal 300 ribu)
  3. Pastikan semua data calon penumpang (sesuai paspor) sudah tersimpan di database kita sebagai member AA
  4. Jangan lupa memasukkan data kartu kredit di database kita (pastikan juga limit CC kita masih cukup untuk melakukan transaksi tersebut).
  5. Saat tiba waktu promo langsung beli tiket sesuai rencana. Ketika berburu tiket, sudah tidak ada waktu lagi untuk diskusi atau minta pertimbanagn teman2 yang akan pergi barengan. Serahkan pengambilan keputusan pada teman yang bertugas mencari tiket. Karena biasanya proses 'rebutan' tiket akan berlangsung bahkan perdetik. Tidak ada waktu juga untuk mengetik satu per satu nama penumpang+nomor paspor → inilah manfaat database yang kubicarakan di poin 3 dan 4. Kalau kita sudah memiliki data ini, tinggal klak klik tanpa harus mengetik lagi. Jika tiket sudah kepegang, 1 tahap telah terlewati

Lalu persiapan apa lagi yang perlu dilakukan?
  1. Buat rencana perjalanan, secara umum aja. Misalnya 3 hari di Malaysia dan 2 hari di Singapura. Adakah teman atau saudara yang bisa ditumpangi menginap atau mau menginap di ho(s)tel? Jika menginap di ho(s)tel berarti berikutnya adalah mencari hotel murah.
  2. Air Asia juga memiiki jaringan dengan hotel (tune dan beberapa hotel lain). Terkadang mereka juga menawarkan promo atau diskon hotel. Makanya, cermati saja info-info terbaru dari AA. Jika beruntung, kita bisa mendapat hotel setara bintang 4 dengan harga 50-an ribu/orang.
  3. Jika tidak mendapat promo hotel kita juga bisa mencari penginapan murah meriah. Biasanya sekelas hostel atau dormitory (sekamar antara 2-8 orang). Saat ini banyak sekali hostel murah untuk backpaker. Harganya 30-70rb/orang/hari. Umumnya mereka hanya menyediakan tempat tidur, kamar mandi di luar. Tapi harga itu sudah dengan fasilitas sarapan sederhana (roti+selai) air minum, akses wifi internet dan air minum gratis.
  4. Untuk booking hotel ini biasanya mereka mensyaratkan bayar 10% melalui kartu kredit. Untuk diskon/promo terkadang mensyaratkan pembayaran lunas.
  5. Cari informasi mengenai tempat-tempat yang akan dikunjungi dan bagaimana transportasi menuju tempat tersebut. Catat juga berapa tiket masuknya. Jika memungkinkan bisa booking juga tiket kereta/bus via online.
  6. Buat tabel yang memuat secara rinci rencana perjalanan termasuk hotel+alamat transportasi menuju sana lokasi yang akan dikunjungi, biaya, dll
  7. Buat rencana anggaran
Menjelang hari H cek lagi persiapan dan selamat berlibur :)

Ohya untuk mereka yang baru perdana pergi backpaker-an, apalagi barengan beberapa teman dan ingin dengan harga semurah-murahnya, agendakan perjalanan itu 6 bulan-1 tahun sebelum hari H. Kenapa?
  1. Harga tiket promo Air Asia (secara umum) berdasar rencana keberangkatana → paling murah setahun sebelumnya, murah-9 bulan sebelumnya, agak murah-6 bulan sebelumnya dan mahal-3 bln sampai hari H. Kecuali memang ada promo lain dan kita sedang beruntung mendapat tiket murah untuk perjalanan hari H-3 bulan.
  2. Kita bisa nyicil pengeluaran. Misalnya setahun sebelumnya mengeluarkan 500 ribu untuk booking tiket, H-6 bulan kemudian 300 ribu untuk booking hotel dan 300 ribu untuk booking kereta/bus/tiket masuk tentu lebih ringan dibanding jika harus mengeluarkan sejumlah uang tersebut dalam waktu yang berdekatan.
  3. Insya Allah kita bisa lebih siap secara lahir dan batin. Dengan memperbanyak olahraga, teruatma jalan dan berlari → kemampuan ini akan banyak dibutuhkan, misalnya saat mengejar bis dan berburu makanan halal :). Merencanakan jauh-jauh hari juga berarti kita memiliki banyak waktu untuk browsing berbagai informasi dan jaringan. Kalau mau berkunjung ke rumah seseorang atau janjian ketemu dengan kenalan, kita jadi bisa merencanakan jauh-jauh hari.

Tidak susah, kan, merencanakan semua itu? Kalau saya bisa, kenapa kamu tidak?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sofie mau Sosis...Babi (?)

Bagi yang pernah berinteraksi dengan Sofie, pasti hafal dengan kata-kata khasnya, "Ibu, lapar..?"
Karena itu, kemanapun kami pergi, aku selalu membawa 'senjata' berupa sekotak nasi+lauk dan sebotol air minum. Itu perlengkapan "wajib" untuk pergi kemanapun, minimal 1 jam.

Nah, ketika melakukan perjalanan kemarin, hal ini agak sulit kulakukan. Terutama saat menemukan tempat dimana jarang orang menjual nasi. Dimanakah itu? Di Singapura. Sebagai backpaker, yang prinsipnya irit tapi bisa mendapat banyak hal, kami hanya menjadwalkan sehari di Singapura. Biar irit dan tidak harus menyewa penginapan, kami memilih melakukan perjalanan malam dari Kuala Lumpur-Singapura dan malam berikutnya Singapura-Kuala Lumpur. Nah, karena, di negeri Singa cuma sehari, kami tak punya banyak waktu. Apalagi aku sudah menjanjikan ke Sofie untuk berkunjung ke Kebun Binatang yang kuperkirakan akan menghabiskan banyak waktu. Aku berharap dari tempat-tempat yang kulewati, misalnya stasiun atau terminal, ada penjual makanan (baca: nasi) jadi tak perlu menghabiskan banyak waktu untuk mencari makanan khas orang Indonesia itu.
Dan, apa yang terjadi saudara-saudara? Tak kutemukan nasi di tempat-tempat itu. Aku sudah mengitari Food Court di Woodland stasiun dan tak satupun kedai menyediakan nasi. Bahkan McD dan KFC. Padahal Sofie sudah ribut, "Lapar Ibu...lapar banget. Jadi gimana ini?"
Akhirnya kuputuskan beli ayam goreng dulu. Dan masih berharap ketemu nasi. Lalu aku dapat ide, "Kenapa tidak membeli mie instan, si Sofie mungkin mau diakali dengan makan mie. Lagipula di Singapore ini banyak tempat umum yang menyediakan air minum (dingin+panas)." Sip..lah..pikirku.
Setelah habis 1 potong ayam, si Sofie masih mengeluh lapar..Waduh..belum ketemu air panas lagi..Akhirnya kurayu dia untuk makan mie instan tanpa diseduh+ayam goreng lagi (alhamdulillah aku beli 4 potong buat jaga2 kalau dia tiba-tiba lapar lagi). Ajaib, Sofie mau.. Jadilah dia makan mie yang masih keras dengan ngemil ayam goreng ^_^

Kejadian kedua saat kami di Thailand, lebih tepatnya di Hatyai saat sudah naik mini van menuju Penang. Aku tidak membeli nasi karena pagi itu kami sudah sarapan dengan porsi yang banyak dan kupikir maksimal dalam waktu 4 jam kami akan sampai di Penang. Apalagi setelah itu Sofie mengantuk dan tidur di stroler. Aman, pikirku..
Tidak disangka, jadwal berubah dan mini van baru berangkat beberapa jam kemudian. Seperti biasa, si Sofie mengeluarkan kata-kata ajaibnya, "Lapar Ibu..lapar banget. Kalau lapar gimana bu?"
Kujawab, "Sabar, ya, Sayang. Nanti mobilnya akan berhenti di rumah makan."
Alhamdulillah Sofie mau mengerti dan diam beberapa saat. Eh, tiba-tiba mobil berhenti tepat di dekat penjual sosis. Si Sofie, kan, doyan banget dengan sosis, kontan saja dia merengek lagi, "Ibu, Sofie mau sosis. Lapar banget, Sofie mau sosis.."
Waduh, aku tanyalah ke penjualnya, "Is this halal food?" Si penjual nggak paham. Alhamdulillah ada orang di dekat situ yang ngerti dan menjawab "No, no for Moslem."
Lalu aku bujuklah si Sofie, "Nak, itu sosis tidak halal. Dari daging babi, kita enggak boleh makan."
Si Sofie yang mungkin sudah kelaparan malah menjawab, "Nggak apa-apa Ibu, Sofie mau sosis Babi. Sofie mau sosis babi." Meledaklah tawa kami, Oalah Nak, ada-ada saja ulahmu.
Akhirnya aku minta ke sopir untuk menunggu sebentar untuk mencarikan makanan halal buat Sofie.
Alhamdulillah ada seven-eleven yang menjual nasi+ayam cincang (instan) yang siap makan karena sudah dihangatkan di microwave.

Sekarang, setiap kali teringat rengekan Sofie yang ingin Sosis Babi aku masih tak bisa menahan tawa ^_^

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pilkada DKI Putaran 2

Seneng nih lihat kampanye Pilkada DKI via Youtube. Kreatif dan menghibur. Dua kubu sama2 menampilkan video terbaiknya :) Meskipun, ya, pertanyaan mendasarnya: Masak, sih, kita memilih pemimpin dari lucu tidaknya sebuah video kampanye?
Namun, kita tidak bisa menyalahkan mereka-mereka yang memilih cara ini. Karena kampanye di dunia nyata juga tidak lebih mendidik. Bahkan tak sedikit yang justru memerahkan telinga.
Jangan salahkan jika nantinya pemimpin yang terpilih adalah mereka yang video kampanyenya lebih unik, menarik, menghibur dan kreatif. Tidak terlalu penting apa program mereka bagi Jakarta. Tak peduli apakah nanti setelah dia terpilih akan ada perubahan di sini.
Begitulah realitas yang ada saat ini. Bagi Anda para pegiat partai politik, lihatlah kecenderungan ini. Saat ini program partai tidak laku, janji-janji hingga 'serangan fajar' tak bisa jadi patokan. Tapi mereka yang berhasil menjadi mainstream di dunia maya. Yang punya banyak follower di twitter, yang videonya banyak diunggah, mereka yang berpeluang besar memenangkan perhelatan politik di negeri ini. Benarkah prediksi ini? Mari tunggu 20 September 2012 ^_^

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cerita tentang Murid TPA-ku (1)


Pindahan dari blogku di Multiply

Ini adalah Nur. Nama lengkapnya Nurfaina. Aku kenal dengannya 1,5 tahun yang lalu. Waktu itu dia masih menjadi salah satu murid TPAku. Sekarang dia udah gak jadi murid TPA lagi, tapi dah naik tingkat jadi Asisten pengajar TPA.
Suatu ketika, sepulang dari masjid kami berjalan sama-sama. Lalu kutanya, “Nur kamu kelas berapa sih?”. “Saya udah gak sekolah kak”, jawabnya. “Lho, kenapa?” terus terang aku kaget. Kupikir selama ini dia masih sekolah. “Kemarin kan(tahun lalu) saya sudah lulus dari SD tapi nenek bilang tidak ada biaya untuk melanjutkan sekolah”, lanjutnya.
Hari gini, masih ada yang gak bisa masuk SMP karena gak ada duit? Pikirku. Kan dah ada dana BOS. Mulailah aku hunting informasi tentang kehidupan keluarga gadis kecil dengan tubuh kurus ini.
Dan, setelah tanya sana tanya sini, inilah hasil ‘liputanku’: Nur adalah anak pertama dari 2 bersaudara. Ibunya pergi ke Malaysia 8 tahun yang lalu, tapi hingga kini tiada kabar beritanya. Entah masih hidup entah tidak. Ayahnya, pergi kerja di kota lain, dan hanya menengok anak-anaknya sekali dua kali dalam setahun. Dan menurut informasi yangbisa kupercaya, si Ayah sudah punya keluarga lagi (istri dan anak-anak) di kota tempat dia bekerja –tentunya tanpa sepengetahuan Nur dan adiknya- di sini, NUr dan Rizal (adiknya).
Di sini, Nur di asuh oleh nenek dan kakeknya. Menurut neneknya, ibunya si Nur ini berangkat ke Malaysia ketika Nur berusia 4 tahun dan Rizal masih bayi merah. Sampai sekarang tidak pernah ada kabar, apakah si ibu masih hidup atau tidak. Sayangnya juga, sang kakek tidak punya pekerjaan tetap jadi mereka tidak  punya penghasilan rutin bulanan. Untuk makan sehari-hari mereka mengandalkan tanaman di halaman belakang rumah dan penjualan besi tua dan plastic –hasil pulungan- si nenek.

Menjelang tahun ajaran baru tahun 2007 lalu, aku mulai gencar melakukan pendekatan ke Nur dan neneknya. Targetku, Nur harus sekolah. Aku akan mengusahakannya dengan segala daya upaya yang aku punya. Mulailah Nur kutanya: “Nur, mau nggak sekolah lagi?”, tanyaku hati-hati. Si Nur yang dasarnya agak pemalu Cuma nunduk dan berkata lirih: “nanti tanya nenek dulu kak”, jawabnya. “Iya, coba bicarakan dengan nenek. Tapi kamu juga harus mulai memikirkan masa depanmu. Kalau kamu sekolah, insya Allah kamu akan mendapat ilmu. Dan dengan ilmu itu kamu bisa merancnag masa depan yang lebih baik. Kalau nenek khawatir dengan biayanya, insya Allah akan kak Aini bantu, “jelasku panjang lebar, berharap Nur punya semangat yang sama denganku untuk melanjutkan sekolah lagi.

Sehari, dua hari hingga tiga hari kutunggu-tunggu jawaban Nur tentang hasil perbincangannya dengan neneknya. Setiap hari kami bertemu di masjid, tapi aku sengaja tidak menanyainya lebih dulu, khawatir dia merasa didesak-desak terus. Tapi pas udah mendekati pendaftaran murid SMP, akhirnya kutanya juga anak kecil itu. “gimana Nur, apa kata nenek soal tawaran kan Aini?” tanyaku. “Entah itu kak, kata nenek nanti kalau biayanya banyak bagaimana?” jawabnya. “Ya udah, ayo kita ke rumahmu. Kak Aini ingin bicara dengan nenekmu”, putusku. Lalu aku bicara dengan nenek Nur. Kusampaikan bahwa sebenarnya saat ini biaya pendidikan untuk anak SD-SMP itu gratis. Kusampaikan juga bahwa sayang sekali anak secerdas Nur (kesimpulan sementaraku setelah melihat hasil raportnya dan testimony dari ustadzah pengajar TPA lain yang udah ngajar si Nur sejak masih kecil)harus putus sekolah. Bla bla bla. Akhirnya, Alhamdulillah si nenek mengizinkan Nur sekolah lagi. Tak terkira bahagia hatiku melihat senyum malu-malu si rambut panjang itu.
Hari-hari setelah itu, kami berburu sekolah. Waktu itu kan aku lagi hamil 5 bulan, Alhamdulillah-nya si jabang bayi sofie gak rewel. Ternyata, gak mudah juga cari sekolah. Syaratnya juga lumayan ketat. Fotonya tidak boleh foto SD (dengan alasan ada dasi SD-nya), jadi siang-siang di tengah terik siang bolong, kami berdua pergi ke tukang foto. Karena esoknya hari terakhir pengembalian formulir. Ada tes agamanya juga, tentang pengetahuan keislaman dan kemampuan membaca Alqur’an. Aku sudah seperti ibu-ibu yang punya anak mau masuk SMPJ Alhadulillah, Nur dapat melalui tes-tes itu dengan lancar, dan pas pengumuman, dia diterima di dua-duanya. Sebenarnya sih target kami di SMP 9 tapi sengaja kudaftarkan juga di SMP 6 sebagai cadangan bilamana Nur gak lolos di SMP 9.
Seminggu sebelum masuk sekolah, kami belanja baju seragam, sepatu, tas, buku tulis. Aku seperti ingat masa-masa SD dulu. Dan ketika Nur mulai masuk sekolah, aku berdo’a dari rumah: “Ya Allah, jadikan Nur sebagai anak yang bermanfaat. Mudahkan dia dalam menerima ilmu. Jaga dia dan berikan kemudahan-kemudahan dalam menuntut ilmu”. Aku gak tau masih akan berapa lama di bumi Sulawesi ini. Aku juga tidak tau, apakah aku (kami –lebih tepatnya- aku dan suamiku) bisa membiayai Nur untuk melanjutkan sekolah setelah dia lulus SMP nanti. Namun, tak ada salahnya bermimpi bahwa suatu saat nanti, Nur akan dapat melanjutkan pendidikannya hingga jadi orang yang berhasil. Dan ketika Nur sudah beranjak dewasa dan memiliki kemandirian dari sisi financial, dia akan tergerak untuk membiayai pendidikan satu orang lagi, entah itu adiknya, saudaranya, tetangganya atau siapapun. Sehingga akan terus ada gerakan yang sama. Bahwa setiap orang bertanggungjawab akan pendidikan seseroang yang lain. dan semoga suatu saat nanti, tidak akan ada lagi seorang anak kecil yang bermimpi memakai baju seragam dan ikut upacara, karena semua anak sudah dapat  mengenyam pendidikan. Untuk ilmu yang bermanfaat. Amiin.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Total Tayangan Halaman

Cari Blog Ini