aini firdaus. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Apa yang Sebaiknya Ditulis di Blog?

Hari ini aku mendapat komentar dari mengenai tulisan-tulisan di blog ini dari pemilik http://feriawan.wordpress.com. Begini isinya,
"Susah menilai blogmu karena hanya berbicara kamu, pengalamanmu dan keluargamu. Orang yang membaca hanya sebagai penonton atau tetangga saja, kurang melibatkan pembaca sebagai pihak yang 'terlibat' dalam setiap tulisan."
Mas Feri, begitu aku memanggilnya, memang sosok yang suka bicara ceplas ceplos. Tapi dia teman (dan senior) yang baik dan suka berbagi. Lihat saja di blog-nya, dia membuat segala macam program dan dibagikannya gratis..

Namun, bukan dalam rangka memuji mas Feri, aku menulis tema ini. Aku sepenuhnya berterima kasih dengan komentar dan saran tentang blog ini. Namun, aku punya alasan mengapa tulisan-tulisan dalam blog ini seperti 'sekedar' cerita ringan, pengalaman pribadi, bahkan terkesan 'buka-buka' rahasia keluarga.

Aku sendiri penikmat tulisan-tulisan di blog. Link yang aku pasang di samping, punya mbak Agnes http://agnes.ismailfahmi.org, trinity http://naked-traveler.com/ dan Pak Roni Yuzirman bukan sekedar kupasang. Tapi aku benar-benar mengikuti tulisan mereka. Kalau ada update-an dari tulisan Trinity, aku akan membacanya sesegera mungkin. Bahkan aku bisa tertawa-tawa saat membaca tulisan-tulisannya mbak Agnes. Begitu juga catatan-catatan Pak Roni.


Nah, aku sendiri penyuka tulisan pengalaman pribadi yang nyata namun membawa hikmah. Rasanya lebih mudah mengambil hikmah dibanding membaca artikel panjang dan lebar. Bukan berarti tulisan yang berbentuk artikel itu tidak bagus, ya, Mas Feri (^_^) namun bagi penyuka novel sepertiku agak malas membaca artikel yang rumit dan panjang. hehe


Tapi memang semua tergantung selera (si penulis dan pembaca). Aku yakin sebetulnya tak masalah jika kita menulis tentang diri kita, pengalaman pribadi dan keluarga kita asalkan dalam taraf yang wajar, tidak terlalu narsis dan yang justru penting, membawa manfaat buat yang membaca. Dan untuk menulis seperti ini, jelas, butuh "jam terbang".


Satu hal lagi, blog, menurutku sangat merefleksikan si pemilik. Sejak awal, blog populer sebagai diary yang bisa dibaca banyak orang di dunia maya. Terlepas dari apa isi dari sebuah blog, bagiku, blog menjadi sarana yang sangat bagus untuk berlatih menulis. Banyak penulis yang akhirnya bisa bikin buku dari kumpulan tulisannya di blog. Dan cara paling mudah untuk menulis, menceritakan pengalaman pribadi. Bayangkan saja, kita sedang bercerita ke teman atau saudara kita, namun kita tulis. Simple dan gampang. Dari sana kita bisa mengembangkan tulisan dalam berbagai bentuk. 


Jadi begitu teman-teman. Meski belum banyak komen di blog ini, kuharap kalian membaca tulisan-tulisan di sini. Tak apa-apa tidak memberi komentar/saran, yang penting kalian merasa nyaman membaca, terhibur dan semoga..para pembaca mendapat manfaat/hikmah/inspirasi dari blog ini. Hingga tidak memperberat pertanggungjawabanku di akhirat nanti ^_^


Sekian..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Aku dan Lelaki Itu (2)

Aku sudah menikah dan tinggal bersama lelaki itu, 5 tahun 5 bulan. Eh, ralat, dikurangi 11 bulan saat dia dapat beasiswa dan kuliah S2 di Belanda. Jadi totalnya 4 tahun 4 bulan. Apakah sekarang dia bukan lagi menjadi sosok yang misterius?
Secara umum, sih, iya. Aku sudah cukup mengenalnya. Bahkan kami sudah mulai bicara tanpa bahasa. Apa maksudnya? Jika kita dekat dengan seseorang, biasanya, dengan bahasa tubuhnya saja kita bisa menangkap apa yang dia rasakan. Salah satunya kejadian saat kami naik gunung pertama setelah menikah. Saat itu, malam hari dan kami terpisah beberapa puluh meter.

Aku di depan bersama beberapa teman berjalan sambil ngobrol. Kebetulan ada tim lain yang berhenti lalu bergabung dengan kami.
"Numpang, ya, mbak, Soalnya senter kami mati," kata salah satu dari dua orang lelaki.
" oo silakan," kataku.
Karena nebeng, ya si cowok jalan di belakangku, terkadang pindah ke sebelah kalau jalannya lagi lapang. Lalu mengalirlah percakapan 'normal' tentang asal, pekerjaan dan serba sergi gunung, Cukup lama kami ngobrol walau sebetulnya tidak hanya berdua. Dalam 1 rombongan yang kami jalan bareng kira-kira ada 5 orang.
Beberapa kali aku menoleh ke belakang, ternyata suamiku sudah dekat. Tapi aku heran, kenapa, sih, dia seperti menjaga jarak. Padahal aku nunggu-nunggu dia untuk gabung dengan rombonganku. Awalnya kupikir, ah, mungkin dia juga lagi pingin bareng sama rombongannya, sekitar 5 orang yang laki-laki semua. Ya, aku pikir ada saatnya juga kami gak jalan bareng, biar bisa membaur juga dengan teman-teman.
Tapi lama-lama aku curiga. Ini pasti ada yang tidak beres. Kenapa lelaki itu seakan menghindar. Tiap aku berhenti buat nungguin dia eh dia ikut berhenti juga. Kalau aku jalan dia juga ikutan jalan dengan menjaga jarak. Aku samperin aja, deh. Biar enggak jadi bahan pikiran.
Lalu aku bilang ke mas-mas yang tadi minta ijin nebeng senter, "Mas, silakan bareng sama teman yang ini, ya, saya mau gabung sama tim belakang."
"Oke, makasih tebengannya, ya, Mbak."
"Sama-sama"

Lalu aku samperin rombongan di belakang.
"Mas, kenapa, sih, kok aku merasa beda."
"Gak pa-pa," jawabnya pendek
(Nah, ini mencurigakan. pasti ada apa-apa. Kok dia jawabnya pendek begitu...)
"Dari tadi aku nungguin Mas lho, emangnya Mas nggak tahu?"
"Tahu"
(tuh kan..dia jawabnya pendek lagi. Kalau kayak gini aku langsung teringat sosoknya sekian tahun lalu yang 'misterius' dan seperti menutup dirinya dari siapapun)
"Lha, terus kenapa Mas nggak nyamperin aku? Mas kalau ada masalah ngomong dong. Aku enggak suka dicuekin kayak gitu? Kalau aku ada salah, Mas sampein dong. Aku enggak bisa kalau diem-diem-an kayak gini."
(Udah mulai nggak stabil nih, emosiku. Antara kesal, sebel dan pingin nangis. Gimana, sih, rasanya dicuekin sama suami sendiri)

Awalnya dia nggak mau ngomong. Tapi setelah kukulik-kulik, kupancing-pancing akhirnya saudara-saudara dia mau cerita. Intinya dia tuh, sebel, kenapa dalam perbincanganku dengan si mas-mas yang tadi nebeng senter, aku sama sekali gak cerita kalau aku sudah menikah dan punya anak (rupanya tadi dia ndengerin obrolanku sama si mas). Terus dia protes kenapa tadi aku jalan bareng dan deketan lagi..

Hohoho ternyata lelaki itu cemburu saudara-saudara. Wow, bahagia sekali hatiku mengetahui hal ini. Walau sebetulnya sama sekali tak ada unsur kesengajaan. Aku tidak bercerita statusku, lha kupikir dia juga enggak nanya. Ngapain aku memberi semacam pengumuman :) Lagian urusanku dengan dia cuma karena dia mau nebeng, itu saja.

Tapi setelah kupikir-pikir lama, bener juga kekhawatiran lelaki itu. Sebagai perempuan yang sudah menikah, sudah selayaknya aku lebih menjaga diri. Dalam artian, sebetulnya aku bisa lebih awal mengambil sikap untuk tidak terlalu panjang bicara 'berdua' dengan dia dan mengarahkan perbincangan dengan melibatkan teman-teman lain. Karena, toh, sebenarnya kan ada lebih dari 2 orang dalam rombonganku tadi. Dan memang yang terlibat perbincangan "asyik" cuma aku dan si mas nebeng. Akhirnya kusadari fakta itu yang kemudian membangkitkan rasa cemburu lelaki itu.
Tapi aku bersyukur. Jarang-jarang lelaki itu menunjukkan sisi ini. Artinya dia beneran mencintai dan ingin menjagaku...Ehemm...

Nah, itu contoh dialog yang diawali dengan "pembacaan" sikap dan gesture tubuh. Kami, khususnya aku sering banget melakukan hal ini. Karena suamiku tipe orang yang nyaris tidak pernah marah, dan karena prinsipnya memang tidak mau menyakiti hati orang lain, jadi, kalau kesel, marah atau sejenisnya dia cenderung diam. Kalau tidak kukulik-kulik, dia juga tidak mau menyampaikan hal yang meresahkan hatinya itu.

Berbeda denganku yang sangat verbal. Kalau tidak suka sesuatu, aku akan langsung bilang tanpa pake memendam-mendam persoalan. Kalau sebel sama orang atau tengah resah karena sesuatu, aku pasti langsung nyerocos panjang banget. Cerita diselingi emosi yang meledak-ledak. Dan lelaki itu, sebagaimana tabiatnya sejak awal, mendengarkan dengan tenang. Tak pernah turut emosional lalu pelan-pelan mengajakku kembali berpikir rasional.

Alhamdulillah, berjuta syukur kupanjatkan pada Allah yang telah memasangkanku dengan lelaki itu. Kami memiliki tabiat yang bertolak belakang, hingga saling melengkapi. Dalam perjalanan rumah tangga yang baru seusia begini aku sering berpikir bahwa kami menikah dan tinggal bersama bukan merupakan jaminan bahwa kami benar-benar saling mengenal.Tetap ada karakter-karakter 'asing' yang kita temui dari pasangan kita. Kalau begini tidak ada jalan lain untuk menjamin sebuah rumah tangga akan langgeng, kecuali komitmen kedua belah pihak untuk saling belajar memahami pasangannya....

Jakarta, 30 Juni 2012
(awal bulan ini lelaki itu genap berusia 32 tahun)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Aku dan Lelaki itu (1)


Posting lagi tulisan lama..
Aku mengenalnya 6 tahun yang lalu. Saat itu aku ikut sebuah acara pelatihan di kampusku. Laki-laki itu awalnya tidak berada di tengah-tengah panitia. Baru hari ke-2 atau ke-3 (tepatnya aku lupa) laki-laki itu memasuki ruang aula tempat acara kami dilaksanakan. Oo mas itu panitia juga tho?
1,5 tahun  setelah kegiatan itu aku sudah aktif di kampus, kuliah, organisasi, naik gunung, bersepeda keliling kampus, asik sekali. Sosok itu hampir terlupakan dalam hidupku. Lalu aku bertemu lagi dengannya dalam sebuah diskusi komunitas. Seorang teman diskusi mengajak laki-laki itu bergabung dalam komunitas kami. Sebuah komunitas berisi beberapa mahasiswa yang mulai ‘jenuh’ dengan hingar bingar organisasi di kampus dan ingin mencoba melakukan program pemberdayaan untuk masyarakat. Itulah awal interaksiku yang lumayan intens dengan laki-laki itu.
Meskipun sudah sering bertemu dalam forum diskusi, laki-laki itu tetap misterius bagiku. Dia begitu unik, pendiam tapi begitu berbicara aku sering ternganga-nganga dengan ide-ide barunya. Dia juga seseorang yang sangat ‘stabil’, rasanya belum pernah sekali-pun aku melihat dia marah –bahkan sekedar menaikkan nada suaranya-, sangat berbeda dengan diriku yang  meledak-ledak. Satu hal yang membuatku sangat tertarik dengan laki-laki itu adalah independensinya. Dia begitu bebas menjadi dirinya sendiri, tidak jarang pendapatnya begitu berbeda dengan banyak teman, pernah juga dia melakukan sesuatu yang bikin banyak orang terheran-heran nyaris  tak percaya. Ya, dia memang special.. tapi tetap saja dia sosok yang begitu jauh bagiku.
Tahun 2003, suatu hari di depan sebuah terminal di sebuah kota di Jawa Timur aku berbincang dengannya. Waktu itu berlima dengan teman satu komunitas kami mengadakan kegiatan di sana. Malam itu hampir 5 jam kami nunggu bis yang akan membawa kami kembali ke Yogyakarta. Hampir 2 jam kami berbicara, sambil berdiri di pinggir jalan. Awalnya cerita tentang kampung kami masing-masing, lalu kami bicara tentang cita-cita akan  masyarakat seperti apa yang ingin kami bangun. Entah kenapa waktu itu aku jadi sangat tertarik dengan laki-laki ini. Bagiku, ide-ide dia tentang komunitas dan masyarakat mandiri sungguh  orisinal.
Setelah malam itu, aku berharap ada kesempatan lain bagi kami untuk melanjutkan perbincangan kami malam itu. Ternyata, kesempatan itu tidak pernah datang lagi.
Waktu terus berjalan, ada banyak hal yang menungguku untuk segera menyelesaikannya. Interaksi dengan teman-teman KKN dan penduduk desa di lokasi KKN seperti memberi kehidupan baru. Paska KKN, skripsi sudah menanti. Jadilah aku punya rutinitas baru, ngubek-ubek perpustakaan, begadang di depan komputer dan terkantuk-kantuk menunggu dosen pembimbing datang. 
Dimana laki-laki itu? Ada kabar dia lagi ada studi banding ke Jerman, beberapa bulan kemudian denger-denger dia ikut seminar ke Vietnam atau kemana gitu aku gak begitu jelas dapat kabarnya. Sepertinya laki-laki itu juga punya kehidupan sendiri yang berbeda dengan kehidupanku.
 Setelah berjibaku hampir 2 tahun, kelar juga skripsiku. Aku mulai banyak memiliki waktu luang lagi dan kuputuskan kembali aktif ke komunitasku dulu dimana aku bertemu laki-laki itu.
Ternyata laki-laki itu juga sudah tidak aktif di komunitasku. Terakhir kudengar kabar dia sudah lulus ujian skripsi beberapa bulan sebelum aku, tapi karena begitu cueknya dia dengan segala aturan kampus, bisa-bisanya dia ketinggalan mendaftar wisuda. Terus kudengar kabar lagi, dia bergabung dengan sebuah LSM dan ikut proyek pendampingan masyarakat di lereng Gunung entah mana, aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas.
Tahun 2005 aku wisuda dan mulai bekerja. Asik juga jadi perempuan lajang dan sudah bekerja. Suka-suka aja mau pake uang gajian buat apapun. Asik juga mau pulang malem-malem, mau pulang sore-sore, mau nginep di rumah temen, Hanya saja aku jadi jarang naik gunung lagi, karena pekerjaanku tidak bisa ditinggal lama..
Terkadang aku masih mampir ke sekretariat tempat komunitasku dulu. Dan sesekali ada kabar tentang laki-laki itu. Kabar yang kudengar dia kerja di sebuah lembaga keuangan syaria’ah. Dia? Kerja di sana? Bagiku terasa agak aneh. Apa, ya, yang dicari laki-laki itu? Kupikir selama ini dia enggak tertarik dengan ekonomi syari’ah. Kata temenku yang  di komunitas, lelaki itu punya idealisme yang ingin dia wujudkan –salah satunya- lewat lembaga syari’ah tempat dia bekerja. Ooo gitu…sedikit masuk akal.
Sampai pada titik ini sosok laki-laki itu semakin terasa ‘jauh’ denganku. Dia punya kehidupan sendiri, aku juga. Kami satu komunitas, sering diskusi bersama-sama teman yang lain, beberapa kali terlibat kerja kepanitiaan bersama, tapi tetap saja aku merasa tidak begitu mengenalnya. Berbeda jauh dengan teman laki-laki yang lain dalam komunitasku itu. Entahlah, aku hanya merasa laki-laki itu menjaga ‘jarak’ dan  begitu asing bagiku…
Waktu terus  berjalan, gempa Yogya 26 Mei 2006 menjadi bagian dari kehidupan yang kulalui. Pengalaman pertamaku menemui korban yang begitu banyak. pengalaman pertamaku juga melihat  mayat-mayat yang ditidurkan berjajar, banyak banget. Lebih dari 50 orang. Sedih melihatnya. Aku yang tidak tergores sedikitpun merasa hampa. Bahkan seharian setelah gempa itu aku enggak bisa makan apa-apa. Bagaimana bisa makan kalau di kanan dan kirimu ada korban yang berlumuran darah, sampai-sampai bau udara pun terasa anyir. Mungkin ini yang dinamakan trauma psikologis.
Yang paling berharga dari musibah gempa itu adalah terjalinnya ikatan persaudaraan yang begitu erat antara aku dan masyarakat –khususnya remaja masjid- sekitar rumah mbakku (tempat aku tinggal setahun terakhir).
Bagaimana kabar laki-laki itu? Salah seorang teman se-komunitas mengabarkan kalau laki-laki itu menerima pekerjaan baru di belahan pulau lain yang jauh sekali dari Yogya. Aku pikir mungkin aku akan kehilangan laki-laki itu selamanya. Entah kapan kami bisa bertemu lagi. Walaupun aku tidak begitu mengenalnya, laki-laki itu adalah sahabat yang baik bagiku…..
Pada suatu hari, aku sedang ada acara dengan para remaja masjid dekat rumah, ketika hp-ku berbunyi, ada sms yang masuk, dan eng ing eng, tak ada angin tak ada hujan, laki-laki itu mengirim sms kepadaku. Menanyakan kabar dan…apakah aku sudah menikah…aku merasa ada yang aneh dengan pertanyaan itu.
Mungkin kamu bisa menduga bahwa sms itu adalah awal dari semuanya. Dan…singkat cerita, aku malah menyusul laki-laki itu ke pulau yang jauh itu, karena,  3 bulan setelah sms itu kami MENIKAH. Yaa benar, laki-laki itu adalah Muhammad Sigit Andhi rahman , yang sebagian teman kami memanggilnya Emsi. Laki-laki itu juga adalah ayah dari bayi kecil berumur 6,5 bulan yang bernama Sofie Hilmia Rahman.
Dan ini adalah bagian hidup yang penuh rahasia itu. Laki-laki asing dan aneh yang kukenal 6 tahun lalu ternyata menjadi laki-laki yang paling kukenal dan menjadi orang paling dekat denganku.
Seringkali aku bilang sama dia: “Mas, aku pengen, deh, nikah lagi…”
Saat wajah laki-laki itu mulai agak mendung aku akan meneruskannya dengan iseng: “aku pengen nikah lagi denganmu, biar kita jadi pengantin baru seumur hidup”..hehehe

7 Juni 2008
Selamat Ulang Tahun Laki-laki ku, I love u so much…  

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sisi Lain Pulau Tidung



Pulau Tidung, salah satu desa wisata di Kepulauan Seribu. Sudah 3 kali aku mengunjungi tempat ini dalam 2 tahun terakhir. Terakhir kesana hari jumat (22/6) lalu, bersama 3 teman kantor untuk survey kegiatan Ummi dan Annida di sana.
Saat di kapal Muara Angke-Tidung, aku bertemu dengan seorang bapak berusia 40-an tahun, pegawai kecamatan di Tidung. Pak Ardi, sebut saja begitu, mengawali percakapan dengan penjelasan mengenai pelabuhan baru di Muara Angke.
Asal tahu saja, pelabuhan yang berada di dekat pom bensin pasar Muara Angke merupakan pelabuhan lama. Beberapa bulan terakhir, pemerintah sudah membangun pelabuhan baru di Muara Angke juga. Lokasi persisnya, setelah pasar ikan dan sebelum gerbang pelabuhan lama, belok kiri dan susuri jalan sekitar 2 km. Pemandangan di kanan kiri jalan sangat tidak sedap. Karena penuh sampah dan ikan asin yang sedang dijemur. Namun saat sampai di pelabuhan, kesan kumuh itu langsung hilang. Berganti dengan bangunan baru dengan warna cat yang masih jelas. Di tepi laut bersandar sekitar 5-7 kapal fery yang terlihat bersih.

"Semua penumpang di fery mendapat tempat duduk, mbak. Tapi kapasitasnya terbatas. Mungkin 1 kapal hanya sekita 100-150 kursi," ucap Pak Ardi.

Dengan kapasitas yang terbatas tersebut, jelas tidak bisa memenuhi kebutuhan angkutan untuk wisatawan yang berkunjung ke Tidung. Bayangkan, untuk satu hari saja saat weekend pengunjung Tidung bisa mencapai 7 ribu orang. Apalagi kapal fery di pelabuhan baru tak bisa di-booking alias semua calon penumpqng harus datang dan megantri didepan loket. Tak heran jika biro travel yang melayani wisata ke Tidung lebih suka memberangkatkan klien mereka melalui pelabuhan lama. Karena di pelabuhan lama ada puluhan kapal kayu dengan kapasitas 100-200 orang. Hingga bisa dipastikan semua terangkut. Bahkan para pemilik travel sudah biasa menyewa 1 kapal khusus untuk tamu-tamu mereka. Padahal suasana di sekitar pelabuhan lama juga jauh dari kenyamanan. Air limbah di sepanjang jalan dan bau ikan yang mnyengat membuat semua calon penumpang kapal terpaksa menutup hidung.
Sepertinya memang masih menjadi PR bersama untuk menciptakan fasilitas publik yang bersih dan nyaman.

Lalu iseng saja aku bertanya, "Bapak punya usaha travel?"
"Dulu saya punya, mbak. Tapi hanya bertahan 2 tahun. Karena ada yang bertentangan dengan hati dan akidah saya, usaha saya tutup," jawabnya.

Naluri ingin tahuku langsung muncul. Lalu kutanyakan lebih detil apa maksud dari jawaban tersebut.
Ternyata, yang dimaksudkan pak Ardi adalah peluang-peluang terjadinya maksiyat dari bisnis pariwisata. Misalnya dia tidak pernah benar-benar bisa mengontrol apakah penginapannya dihuni oleh orang yang berjenis kelamin sama atau tidak. Jika ternyata beda jenis, siapa juga yang menjamin mereka tidak melakukan hal-hal yang melanggar aturan agama. Belum lagi tuntutan melayani konsumen, misalnya si guide yang harus menemani tamu, yang seringkali melanggar waktu shalat.
"Sekarang sudah biasa pas waktu shalat jumat remaja dan para lelaki di Tidung masih di jalan atau di laut menemani tamu. Padahal dulu, kalau ada seorang lelaki yang masih di jalan saat shalat jumat, dia pasti malu. Karena semua orang disini saling mengenal," tambahnya.
Aku langsung takjub. Selama ini aku tidak memikirkan semua itu. Sebagai tamu, ya, aku nikmati saja perjalanan dan fasilitas. Tapi betul juga kekhawatiran yang Pak Ardi rasakan. Sudah selayaknya seorang muslim yang baik memikirkan semua hal itu.

Aku jadi ingat, saat berlibur ke Tidung pertengahan Maret lalu. Saat itu aku juga jengah, dimana-mana ketemu gadis muda bercelana pendek. Bahkan lebih parah lagi, saat snorkeling kelompok kami digabung dengan kelompok lain yang salah satu dari mereka memakai bikini two pieces saat berenang. Aduh..gimana, sih, rasanya. Kalau kamu bersama teman-teman laki-laki dan perempuan, sementara di antaramu ada yang berpakaian seperti itu. Pastinya risih, kan, walaupun mungkin sebagian dari kita akan bilang "Ah, cuek aja. Yang penting, kan, nggak saling ganggu."
Oke, kondisi-kondisi seperti ini memang tidak bisa benar-benar kita hindari. Tapi tidak juga kita biarkan begitu saja, kan?

Aku suka jalan-jalan ke mana saja. Aku suka berenang, snorkeling dan semoga suatu saat bisa diving. Dan biasanya anak-anak akan ngikutin kebiasaan atau kesukaan orangtuanya. Nah, bagiku ini jadi masalah buat anak-anakku nanti. Alangkah kasihannya anak lelakiku jika dia kuajarkan untuk menjaga diri dari melihat aurat perempuan, sementara saat dia berlibur justru 'disuguhi pemandangan' seperti itu. Kalau mau nyari pantai yang 'aman' dimanakah?apakah artinya kami sekeluarga tidak bisa berlibur ke pantai untuk menghindari kondisi itu? Susah, kan?

Aku nggak tahu apakah orangtua lain juga memikirkan hal ini. Namun aku berharap di masa yang akan datang, akan lebih banyak pilihan untuk konsumen. Mungkin akan ada tempat wisata yang lebih 'rapi'...sebgaimana sekarang sudah ada hotel syariah yang punya aturan lebih ketat pada tamu. Dan terbukti bahwa hotel syariah itu tetap punya segmen tertentu.
Kupikir ke depan perlu ada pengembangan tentang tempat wisata syariah yang tentu tetap menyuguhkan hiburan namun dengan 'pagar' nilai-nilai syariah. Tak ada salahnya, kan, berharap..Ini juga bisa menjadi peluang bisnis. Ayo, siapa tertarik membuka biro wisata 'syariah'?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Lucunya Sofie-ku

pinjam gambar dari duritajam.wed.id
Berawal dari posting status di Facebook mengenai dialog antara aku dan puteriku, Sofie, muncul ide untuk membuat catatan perkembangan dia. Aku berharap, jika nanti Sofie punya adik, aku tidak lupa proses-proses yang dilalui sofie. Terutama berkaitan dengan perkembangan otak dan perilakunya.


Saat ini, Sofie berusia 4,5 tahun. Aku lupa tepatnya sejak kapan dia aktif bertanya ''kenapa dan kenapa." Biasanya pertanyaan itu tak berhenti sampai aku balik bertanya dengan kata-kata, "Menurut Sofie kenapa?" Terkadang malah aku balik bertanya, "Kenapa Sofie begini dan begitu?" Dan, curangnya, dia sering jawab "Enggak tahu" jadi aku gak bisa melanjutkan pertanyaan :)


Sebulan terakhir, Sofie punya sahabat imajiner. Pada suatu malam sebelum tidur dia bilang begini, "Ibu, sofie boleh enggak main sebentar sama teman-teman Sofie?"
"Memang teman-teman Sofie siapa?" tanyaku.
"Ada anak burung dan anak kelinci?"
"Terus, teman-teman Sofie dimna?"
"Di situ.." (menunjuk disampingnya)
"Jadi mau main apa sama teman-temannya Sofie"
"Main loncat-loncat...boleh nggak?"
"Boleh..."
"Yippi....."


Hari lain, 
"Sofie ayo bangun, mau ikut ayah dan ibu ke masjid enggak?"
"Mau...Ibu. Sofie boleh enggak mengajak teman-teman Sofie, anak burung dan anak kelinci?"
" Boleh..."
"Yippi...."


Pas lagi mandi,
"Ibu, tadi teman-teman Sofie, anak burung dan anak kelinci juga sudah mandi."
"Siapa yang memandikan?"
"Ibu burung dan ibu kelinci."


Sudah seminggu terakhir, teman-teman Sofie tidak hanya anak burung dan anak kelinci tapi juga anak jerapah, anak kuda nil, dan anak kanguru.
"Ibu, tadi Sofie berbagi makanan sama teman-teman Sofie, anak jerapah, anak kanguru, anak kuda nil, anak burung dan anak kelinci."
"Wah, hebat. Emang makanannya cukup untuk semua?"
"Cukup."


Sampai saat ini Sofie punya beberapa kosa kata yang mungkin sebetulnya di abelum paham apa arti kata tersebut. tapi dia sudah sering make..Misalnya,
"Ibu, hari ini Sofie memutuskan untuk mencari kupu-kupu"
"Emang memutuskan itu apa artinya fi?"
"Enggak tahu"


Suatu ketika,
"Sofie, ayo mandi. Sudah sore nih."
"Enggak mau, masih mau nonton Franklin."
"Fraklinnya di-stop dulu nanti habis mandi boleh nonton lagi."
"Tapi Sofie jadi bingung..." (lho!)


Hari lain,
"Sofie pipis dulu, yuk. Biar enggak ngompol!"
"Enggak mau. Sofie jadi bingung." 


Kesimpulan sementara: "Jadi bingung" bagi Sofie berarti "Tidak mau."


Terus dia juga suka kebalik-balik kalau ngomong. Misalnya, nih, pagi ini,
"Hahaha...lucu," kata Sofie
"Apanya yang lucu fi?" tanyaku
"Sofie lucu soalnya kekenyangan.."
"Jadi maksudnya Sofie gak mau makan karena sudah kenyang?"
"Enggak Sofie mau makan..lapar."
"Jadi sebenarnya Sofie lapar apa kenyang?"
"Lapar mau makan.."
"Nah, Sofie jangan kebalik ngomongnya. Kalau mau makan itu lapar. Tapi kalau sudah habis makan itu namanya kenyang."


Satu lagi yang lucu. Beberapa saat yang lalu aku kasih tahu bahwa ada namanya kucing garong yang warnanya item. Lalu suatu ketika entah kenapa tahu-tahu dia bilang, 
"Ibu ada kucing garem."
"Apa fi? kucing garong?"
"Kucing garem."
"Jadi kucing garong apa kucing garem?"
"Kucing garem...." (hehe dia bersikukuh bahwa bukan kucing garong tapi kucing garem)


Sofie-sofie ada-ada saja ^_^







  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sofie 3-4,5 tahun














  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sofie 1-3 tahun










mo

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Total Tayangan Halaman

Cari Blog Ini