Aku sudah menikah dan tinggal bersama lelaki itu, 5 tahun 5 bulan. Eh, ralat, dikurangi 11 bulan saat dia dapat beasiswa dan kuliah S2 di Belanda. Jadi totalnya 4 tahun 4 bulan. Apakah sekarang dia bukan lagi menjadi sosok yang misterius?
Secara umum, sih, iya. Aku sudah cukup mengenalnya. Bahkan kami sudah mulai bicara tanpa bahasa. Apa maksudnya? Jika kita dekat dengan seseorang, biasanya, dengan bahasa tubuhnya saja kita bisa menangkap apa yang dia rasakan. Salah satunya kejadian saat kami naik gunung pertama setelah menikah. Saat itu, malam hari dan kami terpisah beberapa puluh meter.
Aku di depan bersama beberapa teman berjalan sambil ngobrol. Kebetulan ada tim lain yang berhenti lalu bergabung dengan kami.
"Numpang, ya, mbak, Soalnya senter kami mati," kata salah satu dari dua orang lelaki.
" oo silakan," kataku.
Karena nebeng, ya si cowok jalan di belakangku, terkadang pindah ke sebelah kalau jalannya lagi lapang. Lalu mengalirlah percakapan 'normal' tentang asal, pekerjaan dan serba sergi gunung, Cukup lama kami ngobrol walau sebetulnya tidak hanya berdua. Dalam 1 rombongan yang kami jalan bareng kira-kira ada 5 orang.
Beberapa kali aku menoleh ke belakang, ternyata suamiku sudah dekat. Tapi aku heran, kenapa, sih, dia seperti menjaga jarak. Padahal aku nunggu-nunggu dia untuk gabung dengan rombonganku. Awalnya kupikir, ah, mungkin dia juga lagi pingin bareng sama rombongannya, sekitar 5 orang yang laki-laki semua. Ya, aku pikir ada saatnya juga kami gak jalan bareng, biar bisa membaur juga dengan teman-teman.
Tapi lama-lama aku curiga. Ini pasti ada yang tidak beres. Kenapa lelaki itu seakan menghindar. Tiap aku berhenti buat nungguin dia eh dia ikut berhenti juga. Kalau aku jalan dia juga ikutan jalan dengan menjaga jarak. Aku samperin aja, deh. Biar enggak jadi bahan pikiran.
Lalu aku bilang ke mas-mas yang tadi minta ijin nebeng senter, "Mas, silakan bareng sama teman yang ini, ya, saya mau gabung sama tim belakang."
"Oke, makasih tebengannya, ya, Mbak."
"Sama-sama"
Lalu aku samperin rombongan di belakang.
"Mas, kenapa, sih, kok aku merasa beda."
"Gak pa-pa," jawabnya pendek
(Nah, ini mencurigakan. pasti ada apa-apa. Kok dia jawabnya pendek begitu...)
"Dari tadi aku nungguin Mas lho, emangnya Mas nggak tahu?"
"Tahu"
(tuh kan..dia jawabnya pendek lagi. Kalau kayak gini aku langsung teringat sosoknya sekian tahun lalu yang 'misterius' dan seperti menutup dirinya dari siapapun)
"Lha, terus kenapa Mas nggak nyamperin aku? Mas kalau ada masalah ngomong dong. Aku enggak suka dicuekin kayak gitu? Kalau aku ada salah, Mas sampein dong. Aku enggak bisa kalau diem-diem-an kayak gini."
(Udah mulai nggak stabil nih, emosiku. Antara kesal, sebel dan pingin nangis. Gimana, sih, rasanya dicuekin sama suami sendiri)
Awalnya dia nggak mau ngomong. Tapi setelah kukulik-kulik, kupancing-pancing akhirnya saudara-saudara dia mau cerita. Intinya dia tuh, sebel, kenapa dalam perbincanganku dengan si mas-mas yang tadi nebeng senter, aku sama sekali gak cerita kalau aku sudah menikah dan punya anak (rupanya tadi dia ndengerin obrolanku sama si mas). Terus dia protes kenapa tadi aku jalan bareng dan deketan lagi..
Hohoho ternyata lelaki itu cemburu saudara-saudara. Wow, bahagia sekali hatiku mengetahui hal ini. Walau sebetulnya sama sekali tak ada unsur kesengajaan. Aku tidak bercerita statusku, lha kupikir dia juga enggak nanya. Ngapain aku memberi semacam pengumuman :) Lagian urusanku dengan dia cuma karena dia mau nebeng, itu saja.
Tapi setelah kupikir-pikir lama, bener juga kekhawatiran lelaki itu. Sebagai perempuan yang sudah menikah, sudah selayaknya aku lebih menjaga diri. Dalam artian, sebetulnya aku bisa lebih awal mengambil sikap untuk tidak terlalu panjang bicara 'berdua' dengan dia dan mengarahkan perbincangan dengan melibatkan teman-teman lain. Karena, toh, sebenarnya kan ada lebih dari 2 orang dalam rombonganku tadi. Dan memang yang terlibat perbincangan "asyik" cuma aku dan si mas nebeng. Akhirnya kusadari fakta itu yang kemudian membangkitkan rasa cemburu lelaki itu.
Tapi aku bersyukur. Jarang-jarang lelaki itu menunjukkan sisi ini. Artinya dia beneran mencintai dan ingin menjagaku...Ehemm...
Nah, itu contoh dialog yang diawali dengan "pembacaan" sikap dan gesture tubuh. Kami, khususnya aku sering banget melakukan hal ini. Karena suamiku tipe orang yang nyaris tidak pernah marah, dan karena prinsipnya memang tidak mau menyakiti hati orang lain, jadi, kalau kesel, marah atau sejenisnya dia cenderung diam. Kalau tidak kukulik-kulik, dia juga tidak mau menyampaikan hal yang meresahkan hatinya itu.
Berbeda denganku yang sangat verbal. Kalau tidak suka sesuatu, aku akan langsung bilang tanpa pake memendam-mendam persoalan. Kalau sebel sama orang atau tengah resah karena sesuatu, aku pasti langsung nyerocos panjang banget. Cerita diselingi emosi yang meledak-ledak. Dan lelaki itu, sebagaimana tabiatnya sejak awal, mendengarkan dengan tenang. Tak pernah turut emosional lalu pelan-pelan mengajakku kembali berpikir rasional.
Alhamdulillah, berjuta syukur kupanjatkan pada Allah yang telah memasangkanku dengan lelaki itu. Kami memiliki tabiat yang bertolak belakang, hingga saling melengkapi. Dalam perjalanan rumah tangga yang baru seusia begini aku sering berpikir bahwa kami menikah dan tinggal bersama bukan merupakan jaminan bahwa kami benar-benar saling mengenal.Tetap ada karakter-karakter 'asing' yang kita temui dari pasangan kita. Kalau begini tidak ada jalan lain untuk menjamin sebuah rumah tangga akan langgeng, kecuali komitmen kedua belah pihak untuk saling belajar memahami pasangannya....
Jakarta, 30 Juni 2012
(awal bulan ini lelaki itu genap berusia 32 tahun)
Aku dan Lelaki Itu (2)
Read User's Comments3
Aku dan Lelaki itu (1)
Posting lagi tulisan lama..
Aku mengenalnya 6 tahun yang lalu. Saat itu
aku ikut sebuah acara pelatihan di kampusku. Laki-laki itu awalnya tidak berada
di tengah-tengah panitia. Baru hari ke-2 atau ke-3 (tepatnya aku lupa)
laki-laki itu memasuki ruang aula tempat acara kami dilaksanakan. Oo mas itu
panitia juga tho?
1,5 tahun setelah kegiatan itu aku
sudah aktif di kampus, kuliah, organisasi, naik gunung, bersepeda keliling
kampus, asik sekali. Sosok itu hampir terlupakan dalam hidupku. Lalu aku
bertemu lagi dengannya dalam sebuah diskusi komunitas. Seorang teman diskusi
mengajak laki-laki itu bergabung dalam komunitas kami. Sebuah komunitas berisi
beberapa mahasiswa yang mulai ‘jenuh’ dengan hingar bingar organisasi di kampus
dan ingin mencoba melakukan program pemberdayaan untuk masyarakat. Itulah awal
interaksiku yang lumayan intens dengan laki-laki itu.
Meskipun sudah sering bertemu dalam forum
diskusi, laki-laki itu tetap misterius bagiku. Dia begitu unik, pendiam tapi
begitu berbicara aku sering ternganga-nganga dengan ide-ide barunya. Dia juga
seseorang yang sangat ‘stabil’, rasanya belum pernah sekali-pun aku melihat dia
marah –bahkan sekedar menaikkan nada suaranya-, sangat berbeda dengan diriku
yang meledak-ledak. Satu hal yang membuatku sangat tertarik dengan
laki-laki itu adalah independensinya. Dia begitu bebas menjadi dirinya sendiri,
tidak jarang pendapatnya begitu berbeda dengan banyak teman, pernah juga dia
melakukan sesuatu yang bikin banyak orang terheran-heran nyaris tak
percaya. Ya, dia memang special.. tapi tetap saja dia sosok yang begitu jauh
bagiku.
Tahun 2003, suatu hari di depan sebuah
terminal di sebuah kota di Jawa Timur aku berbincang dengannya. Waktu itu
berlima dengan teman satu komunitas kami mengadakan kegiatan di sana. Malam itu
hampir 5 jam kami nunggu bis yang akan membawa kami kembali ke Yogyakarta.
Hampir 2 jam kami berbicara, sambil berdiri di pinggir jalan. Awalnya cerita
tentang kampung kami masing-masing, lalu kami bicara tentang cita-cita
akan masyarakat seperti apa yang ingin kami bangun. Entah kenapa waktu
itu aku jadi sangat tertarik dengan laki-laki ini. Bagiku, ide-ide dia tentang
komunitas dan masyarakat mandiri sungguh orisinal.
Setelah malam itu, aku berharap ada kesempatan
lain bagi kami untuk melanjutkan perbincangan kami malam itu. Ternyata,
kesempatan itu tidak pernah datang lagi.
Waktu terus berjalan, ada banyak hal yang
menungguku untuk segera menyelesaikannya. Interaksi dengan teman-teman KKN dan
penduduk desa di lokasi KKN seperti memberi kehidupan baru. Paska KKN, skripsi
sudah menanti. Jadilah aku punya rutinitas baru, ngubek-ubek perpustakaan,
begadang di depan komputer dan terkantuk-kantuk menunggu dosen pembimbing
datang.
Dimana laki-laki itu? Ada kabar dia lagi ada
studi banding ke Jerman, beberapa bulan kemudian denger-denger dia ikut seminar
ke Vietnam atau kemana gitu aku gak begitu jelas dapat kabarnya. Sepertinya
laki-laki itu juga punya kehidupan sendiri yang berbeda dengan kehidupanku.
Setelah berjibaku hampir 2 tahun, kelar
juga skripsiku. Aku mulai banyak memiliki waktu luang lagi dan kuputuskan
kembali aktif ke komunitasku dulu dimana aku bertemu laki-laki itu.
Ternyata laki-laki itu juga sudah tidak aktif
di komunitasku. Terakhir kudengar kabar dia sudah lulus ujian skripsi beberapa
bulan sebelum aku, tapi karena begitu cueknya dia dengan segala aturan kampus,
bisa-bisanya dia ketinggalan mendaftar wisuda. Terus kudengar kabar lagi, dia
bergabung dengan sebuah LSM dan ikut proyek pendampingan masyarakat di lereng
Gunung entah mana, aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas.
Tahun 2005 aku wisuda dan mulai bekerja. Asik
juga jadi perempuan lajang dan sudah bekerja. Suka-suka aja mau pake uang
gajian buat apapun. Asik juga mau pulang malem-malem, mau pulang sore-sore, mau
nginep di rumah temen, Hanya saja aku jadi jarang naik gunung lagi, karena pekerjaanku
tidak bisa ditinggal lama..
Terkadang aku masih mampir ke sekretariat
tempat komunitasku dulu. Dan sesekali ada kabar tentang laki-laki itu. Kabar
yang kudengar dia kerja di sebuah lembaga keuangan syaria’ah. Dia? Kerja di
sana? Bagiku terasa agak aneh. Apa, ya, yang dicari laki-laki itu? Kupikir
selama ini dia enggak tertarik dengan ekonomi syari’ah. Kata temenku
yang di komunitas, lelaki itu punya idealisme yang ingin dia
wujudkan –salah satunya- lewat lembaga syari’ah tempat dia bekerja. Ooo
gitu…sedikit masuk akal.
Sampai pada titik ini sosok laki-laki itu
semakin terasa ‘jauh’ denganku. Dia punya kehidupan sendiri, aku juga. Kami
satu komunitas, sering diskusi bersama-sama teman yang lain, beberapa kali terlibat
kerja kepanitiaan bersama, tapi tetap saja aku merasa tidak begitu mengenalnya.
Berbeda jauh dengan teman laki-laki yang lain dalam komunitasku itu. Entahlah,
aku hanya merasa laki-laki itu menjaga ‘jarak’ dan begitu asing
bagiku…
Waktu terus berjalan, gempa Yogya
26 Mei 2006 menjadi bagian dari kehidupan yang kulalui. Pengalaman pertamaku
menemui korban yang begitu banyak. pengalaman pertamaku juga
melihat mayat-mayat yang ditidurkan berjajar, banyak banget. Lebih
dari 50 orang. Sedih melihatnya. Aku yang tidak tergores sedikitpun merasa
hampa. Bahkan seharian setelah gempa itu aku enggak bisa makan apa-apa.
Bagaimana bisa makan kalau di kanan dan kirimu ada korban yang berlumuran
darah, sampai-sampai bau udara pun terasa anyir. Mungkin ini yang dinamakan
trauma psikologis.
Yang paling berharga dari musibah gempa itu
adalah terjalinnya ikatan persaudaraan yang begitu erat antara aku dan
masyarakat –khususnya remaja masjid- sekitar rumah mbakku (tempat aku tinggal
setahun terakhir).
Bagaimana kabar laki-laki itu? Salah seorang
teman se-komunitas mengabarkan kalau laki-laki itu menerima pekerjaan baru di
belahan pulau lain yang jauh sekali dari Yogya. Aku pikir mungkin aku akan
kehilangan laki-laki itu selamanya. Entah kapan kami bisa bertemu lagi.
Walaupun aku tidak begitu mengenalnya, laki-laki itu adalah sahabat yang baik
bagiku…..
Pada suatu hari, aku sedang ada acara dengan
para remaja masjid dekat rumah, ketika hp-ku berbunyi, ada sms yang masuk, dan
eng ing eng, tak ada angin tak ada hujan, laki-laki itu mengirim sms kepadaku.
Menanyakan kabar dan…apakah aku sudah menikah…aku merasa ada yang aneh dengan
pertanyaan itu.
Mungkin kamu bisa menduga bahwa sms itu adalah
awal dari semuanya. Dan…singkat cerita, aku malah menyusul laki-laki itu
ke pulau yang jauh itu, karena, 3 bulan setelah sms itu kami
MENIKAH. Yaa benar, laki-laki itu adalah Muhammad Sigit Andhi rahman ,
yang sebagian teman kami memanggilnya Emsi. Laki-laki itu juga adalah ayah dari
bayi kecil berumur 6,5 bulan yang bernama Sofie Hilmia Rahman.
Dan ini adalah bagian hidup yang penuh rahasia
itu. Laki-laki asing dan aneh yang kukenal 6 tahun lalu ternyata menjadi
laki-laki yang paling kukenal dan menjadi orang paling dekat denganku.
Seringkali aku bilang sama dia: “Mas, aku
pengen, deh, nikah lagi…”
Saat wajah laki-laki itu mulai agak mendung
aku akan meneruskannya dengan iseng: “aku pengen nikah lagi denganmu, biar kita
jadi pengantin baru seumur hidup”..hehehe
7 Juni 2008
Selamat Ulang Tahun Laki-laki ku, I love u so
much…
Sisi Lain Pulau Tidung
Pulau Tidung, salah satu desa wisata di Kepulauan Seribu. Sudah 3 kali aku mengunjungi tempat ini dalam 2 tahun terakhir. Terakhir kesana hari jumat (22/6) lalu, bersama 3 teman kantor untuk survey kegiatan Ummi dan Annida di sana.
Saat di kapal Muara Angke-Tidung, aku bertemu dengan seorang bapak berusia 40-an tahun, pegawai kecamatan di Tidung. Pak Ardi, sebut saja begitu, mengawali percakapan dengan penjelasan mengenai pelabuhan baru di Muara Angke.
Asal tahu saja, pelabuhan yang berada di dekat pom bensin pasar Muara Angke merupakan pelabuhan lama. Beberapa bulan terakhir, pemerintah sudah membangun pelabuhan baru di Muara Angke juga. Lokasi persisnya, setelah pasar ikan dan sebelum gerbang pelabuhan lama, belok kiri dan susuri jalan sekitar 2 km. Pemandangan di kanan kiri jalan sangat tidak sedap. Karena penuh sampah dan ikan asin yang sedang dijemur. Namun saat sampai di pelabuhan, kesan kumuh itu langsung hilang. Berganti dengan bangunan baru dengan warna cat yang masih jelas. Di tepi laut bersandar sekitar 5-7 kapal fery yang terlihat bersih.
"Semua penumpang di fery mendapat tempat duduk, mbak. Tapi kapasitasnya terbatas. Mungkin 1 kapal hanya sekita 100-150 kursi," ucap Pak Ardi.
Dengan kapasitas yang terbatas tersebut, jelas tidak bisa memenuhi kebutuhan angkutan untuk wisatawan yang berkunjung ke Tidung. Bayangkan, untuk satu hari saja saat weekend pengunjung Tidung bisa mencapai 7 ribu orang. Apalagi kapal fery di pelabuhan baru tak bisa di-booking alias semua calon penumpqng harus datang dan megantri didepan loket. Tak heran jika biro travel yang melayani wisata ke Tidung lebih suka memberangkatkan klien mereka melalui pelabuhan lama. Karena di pelabuhan lama ada puluhan kapal kayu dengan kapasitas 100-200 orang. Hingga bisa dipastikan semua terangkut. Bahkan para pemilik travel sudah biasa menyewa 1 kapal khusus untuk tamu-tamu mereka. Padahal suasana di sekitar pelabuhan lama juga jauh dari kenyamanan. Air limbah di sepanjang jalan dan bau ikan yang mnyengat membuat semua calon penumpang kapal terpaksa menutup hidung.
Sepertinya memang masih menjadi PR bersama untuk menciptakan fasilitas publik yang bersih dan nyaman.
Lalu iseng saja aku bertanya, "Bapak punya usaha travel?"
"Dulu saya punya, mbak. Tapi hanya bertahan 2 tahun. Karena ada yang bertentangan dengan hati dan akidah saya, usaha saya tutup," jawabnya.
Naluri ingin tahuku langsung muncul. Lalu kutanyakan lebih detil apa maksud dari jawaban tersebut.
Ternyata, yang dimaksudkan pak Ardi adalah peluang-peluang terjadinya maksiyat dari bisnis pariwisata. Misalnya dia tidak pernah benar-benar bisa mengontrol apakah penginapannya dihuni oleh orang yang berjenis kelamin sama atau tidak. Jika ternyata beda jenis, siapa juga yang menjamin mereka tidak melakukan hal-hal yang melanggar aturan agama. Belum lagi tuntutan melayani konsumen, misalnya si guide yang harus menemani tamu, yang seringkali melanggar waktu shalat.
"Sekarang sudah biasa pas waktu shalat jumat remaja dan para lelaki di Tidung masih di jalan atau di laut menemani tamu. Padahal dulu, kalau ada seorang lelaki yang masih di jalan saat shalat jumat, dia pasti malu. Karena semua orang disini saling mengenal," tambahnya.
Aku jadi ingat, saat berlibur ke Tidung pertengahan Maret lalu. Saat itu aku juga jengah, dimana-mana ketemu gadis muda bercelana pendek. Bahkan lebih parah lagi, saat snorkeling kelompok kami digabung dengan kelompok lain yang salah satu dari mereka memakai bikini two pieces saat berenang. Aduh..gimana, sih, rasanya. Kalau kamu bersama teman-teman laki-laki dan perempuan, sementara di antaramu ada yang berpakaian seperti itu. Pastinya risih, kan, walaupun mungkin sebagian dari kita akan bilang "Ah, cuek aja. Yang penting, kan, nggak saling ganggu."
Oke, kondisi-kondisi seperti ini memang tidak bisa benar-benar kita hindari. Tapi tidak juga kita biarkan begitu saja, kan?
Aku suka jalan-jalan ke mana saja. Aku suka berenang, snorkeling dan semoga suatu saat bisa diving. Dan biasanya anak-anak akan ngikutin kebiasaan atau kesukaan orangtuanya. Nah, bagiku ini jadi masalah buat anak-anakku nanti. Alangkah kasihannya anak lelakiku jika dia kuajarkan untuk menjaga diri dari melihat aurat perempuan, sementara saat dia berlibur justru 'disuguhi pemandangan' seperti itu. Kalau mau nyari pantai yang 'aman' dimanakah?apakah artinya kami sekeluarga tidak bisa berlibur ke pantai untuk menghindari kondisi itu? Susah, kan?
Aku nggak tahu apakah orangtua lain juga memikirkan hal ini. Namun aku berharap di masa yang akan datang, akan lebih banyak pilihan untuk konsumen. Mungkin akan ada tempat wisata yang lebih 'rapi'...sebgaimana sekarang sudah ada hotel syariah yang punya aturan lebih ketat pada tamu. Dan terbukti bahwa hotel syariah itu tetap punya segmen tertentu.
Kupikir ke depan perlu ada pengembangan tentang tempat wisata syariah yang tentu tetap menyuguhkan hiburan namun dengan 'pagar' nilai-nilai syariah. Tak ada salahnya, kan, berharap..Ini juga bisa menjadi peluang bisnis. Ayo, siapa tertarik membuka biro wisata 'syariah'?
Lucunya Sofie-ku
![]() |
| pinjam gambar dari duritajam.wed.id |
Saat ini, Sofie berusia 4,5 tahun. Aku lupa tepatnya sejak kapan dia aktif bertanya ''kenapa dan kenapa." Biasanya pertanyaan itu tak berhenti sampai aku balik bertanya dengan kata-kata, "Menurut Sofie kenapa?" Terkadang malah aku balik bertanya, "Kenapa Sofie begini dan begitu?" Dan, curangnya, dia sering jawab "Enggak tahu" jadi aku gak bisa melanjutkan pertanyaan :)
Sebulan terakhir, Sofie punya sahabat imajiner. Pada suatu malam sebelum tidur dia bilang begini, "Ibu, sofie boleh enggak main sebentar sama teman-teman Sofie?"
"Memang teman-teman Sofie siapa?" tanyaku.
"Ada anak burung dan anak kelinci?"
"Terus, teman-teman Sofie dimna?"
"Di situ.." (menunjuk disampingnya)
"Jadi mau main apa sama teman-temannya Sofie"
"Main loncat-loncat...boleh nggak?"
"Boleh..."
"Yippi....."
Hari lain,
"Sofie ayo bangun, mau ikut ayah dan ibu ke masjid enggak?"
"Mau...Ibu. Sofie boleh enggak mengajak teman-teman Sofie, anak burung dan anak kelinci?"
" Boleh..."
"Yippi...."
Pas lagi mandi,
"Ibu, tadi teman-teman Sofie, anak burung dan anak kelinci juga sudah mandi."
"Siapa yang memandikan?"
"Ibu burung dan ibu kelinci."
Sudah seminggu terakhir, teman-teman Sofie tidak hanya anak burung dan anak kelinci tapi juga anak jerapah, anak kuda nil, dan anak kanguru.
"Ibu, tadi Sofie berbagi makanan sama teman-teman Sofie, anak jerapah, anak kanguru, anak kuda nil, anak burung dan anak kelinci."
"Wah, hebat. Emang makanannya cukup untuk semua?"
"Cukup."
Sampai saat ini Sofie punya beberapa kosa kata yang mungkin sebetulnya di abelum paham apa arti kata tersebut. tapi dia sudah sering make..Misalnya,
"Ibu, hari ini Sofie memutuskan untuk mencari kupu-kupu"
"Emang memutuskan itu apa artinya fi?"
"Enggak tahu"
Suatu ketika,
"Sofie, ayo mandi. Sudah sore nih."
"Enggak mau, masih mau nonton Franklin."
"Fraklinnya di-stop dulu nanti habis mandi boleh nonton lagi."
"Tapi Sofie jadi bingung..." (lho!)
Hari lain,
"Sofie pipis dulu, yuk. Biar enggak ngompol!"
"Enggak mau. Sofie jadi bingung."
Kesimpulan sementara: "Jadi bingung" bagi Sofie berarti "Tidak mau."
Terus dia juga suka kebalik-balik kalau ngomong. Misalnya, nih, pagi ini,
"Hahaha...lucu," kata Sofie
"Apanya yang lucu fi?" tanyaku
"Sofie lucu soalnya kekenyangan.."
"Jadi maksudnya Sofie gak mau makan karena sudah kenyang?"
"Enggak Sofie mau makan..lapar."
"Jadi sebenarnya Sofie lapar apa kenyang?"
"Lapar mau makan.."
"Nah, Sofie jangan kebalik ngomongnya. Kalau mau makan itu lapar. Tapi kalau sudah habis makan itu namanya kenyang."
Satu lagi yang lucu. Beberapa saat yang lalu aku kasih tahu bahwa ada namanya kucing garong yang warnanya item. Lalu suatu ketika entah kenapa tahu-tahu dia bilang,
"Ibu ada kucing garem."
"Apa fi? kucing garong?"
"Kucing garem."
"Jadi kucing garong apa kucing garem?"
"Kucing garem...." (hehe dia bersikukuh bahwa bukan kucing garong tapi kucing garem)
Sofie-sofie ada-ada saja ^_^
Peta Hijau: Panduan Liburan yang Ramah Lingkungan
03.11 |
Libur telah tiba...para anak sekolah, guru dan orangtua pasti sudah sibuk menyususn rencana liburan. Bagi yang di Jakarta, silakan simak tulisan ini. Untuk teman yang sudah pernah membaca, mohon maaf, ini memang tulisan lama di multiply (dan sudah di Ummi) yang aku posting kembali...
![]() |
| foto pinjam dari sini:cintastasiunjakarta.wordpress |
oleh keluarga. Momen penting ini biasa
dimanfaatkan dengan mengadakan kegiatan keluarga yang menyenangkan. Sebagian keluarga memilih mudik ke luar kota Jakarta, entah itu berlibur di rumah nenek, mengunjungi sepupu di kampung, maupun mendatangi kota wisata yang terkenal indah, Bali misalnya. Namun bagi yang memilih berlibur di Jakarta, tidak perlu khawatir. Selain ada banyak lokasi wisata yang menarik, sejak Maret 2009 telah hadir PETA HIJAU (Green Map) yang berisi informasi tempat yang memiliki makna terhadap lingkungan, budaya, dan interaksi masyarakat.
Proyek bersama untuk peduli lingkungan sekitar
Peta hijau merupakan proyek bersama yang digagas oleh komunitas lokal yang bertugas memetakan potensi alam dan budaya suatu kawasan. Komunitas peta hijau (green map) di Indonesia dirintis sejak tahun 2001 dan diresmikan dalam Pertemuan Nasional Green Map Indonesia pada tanggal 6-8 Januari 2006 di Yogyakarta. Peta Hijau saat ini telah memiliki komunitas-komunitas dan berbagai kegiatan yang tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Yogyakarta, Bandung, Buton, Malang, hingga Surabaya dan Medan. Masing-masing komunitas menerbitkan peta hijau di wilayahnya masing-masing.
“Tujuan sebenarnya dari pembuatan peta hijau ini adalah kita melakukan pendidikan pada masyarakat untuk hidup berkelanjutan,” ucap Nirwono Joga, koordinator peta hijau Jakarta. Maksudnya adalah untuk membantu masyarakat melihat, menilai, menghubungkan, serta peduli terhadap lingkungan tempat mereka berada. Juga untuk perubahan hidup yang lebih baik, lebih ramah lingkungan dan lebih sehat. Selama ini, jika mau berlibur yang ada dalam bayangan kita adalah pergi ke mall, nonton bioskop atau makan-makan di restoran cepat saji. Sebagian lagi berlibur artinya pergi ke laut, gunung, atau tempat wisata yang banyak mainannya.
| Bermain dengan burung di Taman Suropati |
Peta hijau, mengajarkan cara pandang baru. Bahwa berwisata tidak melulu dengan pergi ke gunung atau laut. “Namun, kita bisa mengunjungi tempat pengelolaan limbah di waduk Setiabudi, misalnya,” ujar Yudi (nama panggilan dari Nirwono Joga). Di tempat pengelolaan limbah/sampah itu, para pengunjung akan melihat bagaimana proses pengumpulan sampah dan bagaimana mengelola sampah-sampah tersebut. Dengan demikian, tidak hanya liburan yang kita dapatkan, namun juga ilmu, pengalaman dan harapannya ada kesadaran baru untuk terlibat dalam pengelolaan sampah. Agar kita tidak sembarangan lagi buang sampah. Dan agar kita terdorong untuk membantu mengelola sampah. Dengan demikian, efek jangka panjang dari pembuatan peta hijau ini, diharapkan ada perubahan gaya hidup, menjadi hidup yang lebih baik lagi.
Banyak yang tidak tahu
Sayangnya, hingga saat ini masih banyak warga yang tidak kenal peta hijau.
“Peta hijau, kok aku belum pernah denger ya. Soalnya aku jarang jalan sih,” ujar Salma (26 th), seorang karyawan swasta yang diwawancarai Ummi soal peta hijau.
“Awalnya aku tuh juga enggak tahu soal peta hijau, terus diajakin temen ikut milisnya. Eh setelah ikut kegiatannya ternyata asik banget, sudah hampir setahun aku gabung di komunitas peta hijau,” papar Cici (23 th), aktivis peta hijau jakarta.
Demikian juga yang diungkapkan oleh Iqbal (28 th), wartawan salah satu media massa. “Dulunya aku juga gak tau soal peta hijau, nah pas aku dapat tugas liputan, sekalian aja aku ikut tournya. Ternyata asik, setelah itu aku ikut jadi relawan pembuatan peta hijau yang kelima dan rutin ikut acaranya.”
“Seneng kalo ikut tour kayak gini, soalnya bisa dapet pengalaman baru. Bisa jalan-jalan, seru deh pokoknya. Kalo ke tempat wisata kan serunya karena ada mainan-mainannya tapi kalo tour peta hijau serunya beda,” kata Dhanes (10 th), peserta tour peta hijau dan WWF pada hari Sabtu, 4 Juli 2009.
| siasana di Bundaran HI saat 'free car day' |
Peta hijau sendiri memang sudah ada sejak tahun 2001, namun awalnya masih mencakup wilayah-wilayah tertentu, seperti Kemang, Kebayoran baru, Menteng, dan
Kota Tua. “Peta hijau yang tahun 2009 ini berbeda dengan peta-peta hijau terdahulu. Kalo peta-peta hijau dahulu lebih pada pemetaan lokasi-lokasi hijau per kawasan. Nah, kalo yang ini kita menggambarkan seluruh Jakarta berbasis transportasi masal tadi, intinya kita mendorong untuk mengeksplore wilayah-wilayah hijau di Jakarta dengan meninggalkan kendaraan pribadi dan motor,” papar Yudi.
Tanpa kendaan pribadi? Ya benar. Para pengguna peta hijau dihimbau untuk mengunakan kendaraan publik saat mengunjungi lokasi. Jalur yang dapat dijadikan panduan dalam peta hijau ini ada tiga, yaitu jalur kereta yang berwarna merah, jalur busway berwarna biru dan jalur sepeda garis titik-tik berwarna orange. Artinya, kita didorong untuk memanfaatkan transportasi publik dan meninggalkan kendaraan pribadi. Bisa juga dengan membawa motor atau mobil pribadi, lalu di titip di terminal atau stasiun. Jika ingin terasa lebih nyaman dan terasa nuansa family-nya, bisa juga dengan bersepeda rame-rame satu keluarga.
Menikmati Jakarta Bersama Peta hijau
Peta hijau Jakarta berisi informasi mengenai sejumlah tempat di Jakarta yang layak di kunjungi. Ada sekitar 100 tempat yang mencakup kawasan kampung tradisional, museum, tempat pertunjukan kesenian, tempat pendidikan lingkungan alam, kampung hijau, tempat pembuatan kompos, pusat kerajinan daur ulang sampah anorganik, tempat memperoleh bibit pohon, makanan organik yang sehat, wisata kuliner tradisional, tempat pengamatan burung, bangunan bersejarah, dan lain-lain.
Beberapa lokasi menarik peta hijau, di antaranya, Taman Suropati, yang merupakan taman kota terbaik di Indonesia. Lokasinya berada di Menteng Jakarta Pusat. Ada juga Kampung Hijau yang sudah ada beberapa tempat di Jakarta. Tidak ketinggalan Taman Medan Merdeka, Taman Menteng, Kota Tua Jakarta, Musium Taman Prasasti, Kebun Binatang Ragunan, bahkan Makam (TPU) Menteng Pulo. Itu hanya beberapa contoh lokasi peta hijau yang sangat menarik untuk dikunjungi.
Tidak hanya tempat-tempat wisata yang masuk dalam peta hijau, namun ada juga Taman kota Tangkuban Perahu, tempat daur ulang plastik, daur ulang kertas juga rumah hijau yang unik dan inspiratif. Peta Hijau ini tidak hanya ada di Jakarta, namun kota-kota lain di Indonesia juga tersedia. Di antaranya, Aceh, Bandung, Bogor, Borobudur, Bukittinggi, Buton, Makassar, Malang, Medan, Sanur, Solo, Surabaya, Yogyakarta, dan Ternate.
Dimana bisa mendapatkan peta hijau? Di Jakarta, peta hijau di jual seharga Rp. 15 ribu di toko buku Aksara. Namun, jika tidak mau susah-susah pergi ke toko buku, anda juga bisa mengunduhnya dihttp://greenmap.or.id/.
Langganan:
Postingan (Atom)











