aini firdaus. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Arti Nama Sofie



Ini foto kami, sepekan setelah si kecil lahir. Sofie lahir pada 16 November 2007. Nama lengkapnya Sofie Hilmia Rahman.

Mengapa kami memilih nama itu?
     
     Menurut Ibn Al  Arabi (Qnews) ada 4 traditional Virtue (nilai moral dasar) –yang menjadi dasar dari semua sifat baik di dunia-, yaitu: 
  1.   Prudence: practical wisdom
  2. Courage: keberanian
  3. Temperance: menahan diri
  4. Justice: keadilan
     Nah, ini arti per katanya:
Sofie virtue, hikmah, wisdom atau kebijaksanaan.
Hilmia (dari hilm, forebearance) berarti tenang (atau dekat dengan sabar). Ini turunan dari courage (to endure difficulties) dan temperance (ability to control oneself)
Rahman: generousity, pemurah. Turunan dari courage (courageus in the face of poverty)


Semoga Sofie kecil dapat menjelma jadi manusia yang memiliki sifat-sifat positif seperti namanya. Amiin

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Foto-foto Sofie 0-1 tahun

Foto Sofie pas baru lahir

 anak bayi maem tangan

 "Aku lebih tinggi dari ayah"

"Aku dan bebek merah"

 Sofie sedang memanjat pohon

Aku suka komputer sejak balita

 "Aku ingin terbang"

 Masih 'keriput' karena usiaku baru 7 hari

Ada tanda di pelipis kananku :)
 
terbang lagi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mall Vs Pasar Lokal

Barusan pulang dari Pacific Place,menyaksikan pemutaran film negeri 5 menara. Itulah enaknya jadi wartawan,bisa nonton film baru duluan,gratisan pula :).

Tapi saat ini saya sedang tidak ingin menulis tentang film yang barusan kutonton-tapi tentang tempat penyelenggara pemutaran film tadi,yakni Pacific Place.Dari dulu, saya tidak terlalu suka mall.Bangunannya yg luas, bikin capek kaki. Barang2 yg mahal bikin males ngelihat apalagi beli :). Mungkin memang saya tidak punya cukup uang atau karena saya yang ndeso -tapi sepertinya bukan itu alasan utama ketidaknyamanan yang kurasakan.

Bukan 'dunia' seperti ini yang ingin saya ingin jalani, ini mungkin alasan yang lebih mewakili keresahan yang kurasakan.

Sungguh berbeda dengan perasaaan yang saya rasakan saat pergi ke pasar kue pagi di senen.atau saat belanja di pasar Genjing. Atau sekedar belanja di pasar Mede. Menyaksikan para simbok tua berjualan seperti menyaksikan film perjuangan tentang seorang perempuan pekerja. Menemui bapak2 tukang sayur, anak muda penjual buah, alat2 dari plastik, semua membuat bangga dan membangkitkan rasa syukur. Betapa hebatnya mereka yang tidak pernah menyerah dan memilih berjuang.

Dan perasaan seperti ini tidak saya dapatkan ketika berkunjung ke mall. Dimana saya disuguhi pameran kemewahan, yang membuat asing.

--Mohon maaf bagi para pecinta mall, ini pendapat pribadi---

Published with Blogger-droid v2.0.4

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Latihan Percakapan Bahasa Arab

Berhubung sabtu kmrn (11/2) UTS bahasa arab, sekarang aq mau nge test diri sendiri dengan membuat percakapan tanpa ngelihat buku catatan..

Hal anti tilmidatun jadidatun fi jamiah?

Na'am

Masmuki?

Ismii Aini

Mata wuliti?

Wulitu fii Banyuwangi Jawa Assyarkiyyah, tsalatsa asara min uktubir sanata alfin wa tis'a mingatin wa tsamaniin.

Aina taskunina?

Askunu fi syarik mede rukmi wakhida wa arba'un uutan kayu jakarta assyarkiyyah.

Hal baituki baaidun anil jamiah?

La,baity qaaribun anil jamiah

Kaifa tadhabiina ilal jamian?

Adzhabu ilal jamian maasian

Ma mihnatuki?

Ana shokhafiyah

Hal anti Sundaniyyah?

La,ana jawi

Hal anti a'rifu faatimah?

Faatimah al malaysi

Na'am. A'rifuha. Takhiyatu ilaiha

Ba'da tadrusina ila aina anti?

Uridu adhabu ilas syu'

Madza tastariina?

Astari lakhmun wa khodro' wa mawaakihi

Ana uridhu adhabu ila baqolah ba'da nadrusu.

Madza tastariina?

Astari zajajatul maai wa shobunal khamam wa ashir burtuqol wa dajaj.

Kam rukmi al jawaluki?

Hadza 08123456789

Syukron

Afwan


Published with Blogger-droid v2.0.4

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Blogger-droid

Alhamdullah,bersyukur banget pagi ini aku menemukan aplikasi bloger for android.selama ini aku merasa jarang punya waktu ngeblok karena kalau di depan komputer mikirnya langsung ke kerjaan.dengan adanya aplikasi ini,aku berharap bisa nulis apa aja dan kapan saja.wow...


Layanan android memang sangat memuaskan.smartphone ini udah seperti kantor buatku ^_^


Published with Blogger-droid v2.0.4

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Three Cups of Tea

Kalau kau ingin berhasil di Baltistan, kau harus menghargai cara-cara kami,” ujar Haji Ali, meniup-niup mangkok tehnya. “Kali pertama kau minum teh bersama seorang Balti, kau adalah orang asing. Kedua kalinya kamu minum teh, kau adalah tamu yang dihormati. Kali ketiga kau berbagi semangkuk teh,kau sudah menjadi keluarga, dan untuk keluarga kami, kami bersedia untuk melakkan apa saja, bahkan untuk mati sekalipun.” Haji Ali meletakkan tangannya dengan sikap hangat di atas tangan Mortenson. “Dokter Greg, kau harus memberi waktu untuk berbagi ketiga cangkir teh. Mungkin kami memang tidak berpendidikan, tapi kami tidak bodoh. Kami telah hidup dan bertahan di sini untuk waktu yang sangat lama.”
“Hari itu, Haji Ali memberikan pelajaran terpenting yang pernah kudapat, seumur hidupku.” kata Mortenson. “Kita, orang Amerika, selalu berpikir harus menyelesaikan segala sesuatu secepat mungkin. Haji Ali mengajariku untuk berbagi tiga cangkir teh, untuk bergerak lebih perlahan, menjadikan membangun persahabatan sama pentingnya dengan membangun proyek. Diajarinya aku bahwa ada lebih banyak hal yang bisa kupelajari dari masyarakat yang bekerja bersamaku, dibandingkan dengan apa yang bisa kuajarkan pada mereka.”
***
Three cups of tea, bercerita tentang kisah nyata seorang pendaki yang terpikat pada dusun terpencil di kaki Karakoram, gunung tertinggi kedua setelah Himalaya. Greg, dalam ketersesatannya sepulang dari Karakoram, menemukan suasana yang hangat dan bersahabat dari semua penghuni dusun Khorpe. Selama memulihkan diri, Greg berkeliling dusun dengan ditemani Haji Ali, sang nurmandhar atau semacam pimpinan dusun tersebut. Dan Greg terpukau, melihat penduduk yang masih hidup dengan begitu bersahaja. Lebih tercengang lagi, saat dia menyaksikan delapan puluh dua anak (78 anak laki-laki dan 4 anak perempuan) berlutut di atas tanah yang membeku, di tengah udara terbuka. Khorpe tidak punya sekolah, karena pemerintah Pakistan tidak mampu menggaji gurunya. Jadi, Khorpe berbagi guru dengan tetangga sebelah, Munjung. Guru itu mengajar 3 hari di Khorpe, selebihnya anak-anak belajar sendiri.
“Diletakkan kedua tangannya di atas pundak Haji Ali, seperti yang kerap dilakukan lelaki tua itu padanya semenjak pertama kali mereka berbagi secangkir teh. “Aku akan membangun sebuah sekolah untuk kalian,” katanya. “Aku akan membangun sebuah sekolah untuk kalian, “ kata Mortenson. “Aku berjanji.”
***
Teman, jangan membayangkan bahwa Mortenson adalah seorang kaya raya, yang berlimpah uang. Dia hanya seorang perawat, dengan gaji kecil yang seluruhnya dia dedikasikan buat Khorpe, sehingga membuat dia tidak cukup mampu untuk menyewa sebuah tempat tinggal yang layak. Dengan bermodal menyewa sebuah mesin ketik, sekitar tahun 1994, Greg mengirimkan 53 surat ke personal maupun organisasi yang kira-kira bisa dan mau membiayai cita-citanya itu.
Dari 53 surat itu yang akhirnya mendorongnya belajar ngetik di komputer, hanya da 1 respon. Joen Hoerni, seorang milyuder yang berada di usia senja tertarik dan menyumbangkan 12 ribu dolar, seharga satu sekolah yang rencananya akan dibangun Greg di Khorpe.
Itu hanya merupakan awalan. Perjuangan Greg belum selesai, karena masih ada seribu satu masalah yang harus diselesaikan Greg sebelum akhirnya sebuah sekolah terbangun di Khorpe pada tahun 1995. setelah satu sekolah itu berdiri, satu demi satu Greg mengupayakan berdirinya sekolah di tempat-tempat terpencil di sekitar Afganistan.
Sebuah kisah yang luar biasa bagiku. Inspiratif dan penuh semangat. Sekaligus membuatku berpikir, Ada banyak hal yang bisa kita lakukan dalam hidup ini, tapi kita memilih tidak melakukannya. Ada seribu satu alasan yang membuat langkah kita terhenti, namun sejatinya ada berpuluh ribu cara yang bisa kita coba untuk mengatasi alasan yang cuma seribu satu itu. Pertanyaannya cuma satu, Mau nggak kita melakukannya?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

yuli badawi

Yuli Badawi
Menyayangi Anak asuh seperti Anak Sendiri



             Pertengahan Oktober 2011 lalu aku wawancara dengan ibu Endang Yuli Purwanti yang biasa dikenal dengan ibu Yuli Badawi. Beliau guru agama di SMA 4 Bandung.
             Yang menarik, perempuan asli Ngawi ini bersama suaminya, Ahmad Badawi, mengasuh 12 anak dari  -dari berbagai latar belakang- selain 4 anak kandungnya.
             Ada anak yang 'dibuang' orangtuanya, ada pula yang sengaja dititipkan orangtuanya pada keluarga ini. Semua anak menyimpan cerita yang berbeda yang sebagian sudah dituangkan Yuli dalam buku "Rumah Seribu Malaikat."
            Mengapa Yuli mau melakukan hal ini? Menurut pengakuan ibu yang tinggal di Bandung ini, ia spontan saja melakukan hal ini. Seperti saat ia mengambil Azzam, balita pertama yang diasuhnya. Waktu itu ia ditelpon oleh dukun bayi sekaligus tukang urut langganannya yang menyatakan ada bayi yang ditinggal orang tuanya. Segera Yuli melihat kondisi bayi tersebut dan ia langsung jatuh hati. Bayi itu menjadi anak asuh pertama yang dia rawat sejak bayi.
           Sebelum Azzam, Yuli juga sudah mengasuh Yuni Riyanto, murid SMA 4 Bandung yang terancam DO karena orangtua tak sanggup membiayai. Yuli lalu mengajak Yuni tinggal di rumahnya hingga saat ini. ia juga menyekolahkan Juni hingga lulus PT. Bahkan Juli 2011 lalu Yuli baru saja menikahkannya dengan gadis pilihan Yuni sendiri.
          Yuli menyayangi semua anaknya seperti anak sendiri. Semua fasilitas yang diberikannya sama dengan anak kandung. Setiap saat masuk sekolah, Yuli sibuk memilihkan sekolah yang terbaik bagi putra putrinya.
          Lalu darimana biaya untuk ke-16 anak tersebut? Padahal ia juga bukan orang yang kaya raya. Sang suami 'hanya' pegawai dan ia sendiri PNS. Mereka justru merasa mendapat keberkahan rezeki semenjak mengasuh anak-anak malang ini. Alhamdulillah kini mereka memiliki usaha warung makan. Mulai oktober 2011, rumah Yuli juga menjadi pusat training metode pembelajaran Al-Qur'an yang ia beri nama "Rumah Qur'ani"
          Jadi Yuli dan suami MEMBIAYAI SENDIRI anak-anak tersebut. Maksudnya mereka tidak meminta pada siapapun atau membuka kotak sumbangan. Alhamdulillah ada beberapa sahabat Yuli yang membantu. Juga rezeki dari arah yang tidak pernah mereka sangka.
          "Allah yang mengarahkan saya melakukan hal ini. Dan Allah sangat 'bertanggungjawab' terhadap apa yang saya lakukan," tuturnya berkaca-kaca.
        

         
           





  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Total Tayangan Halaman

Cari Blog Ini