Peta Hijau: Panduan Liburan yang Ramah Lingkungan
![]() |
| foto pinjam dari sini:cintastasiunjakarta.wordpress |
oleh keluarga. Momen penting ini biasa
dimanfaatkan dengan mengadakan kegiatan keluarga yang menyenangkan. Sebagian keluarga memilih mudik ke luar kota Jakarta, entah itu berlibur di rumah nenek, mengunjungi sepupu di kampung, maupun mendatangi kota wisata yang terkenal indah, Bali misalnya. Namun bagi yang memilih berlibur di Jakarta, tidak perlu khawatir. Selain ada banyak lokasi wisata yang menarik, sejak Maret 2009 telah hadir PETA HIJAU (Green Map) yang berisi informasi tempat yang memiliki makna terhadap lingkungan, budaya, dan interaksi masyarakat.
| Bermain dengan burung di Taman Suropati |
| siasana di Bundaran HI saat 'free car day' |
Menggampai Mimpi: Semeru
Mendaki Semeru, mimpi para pendaki. Gunung tertinggi di Jawa ini memiliki daya tarik yang luar biasa. Aku kesana 17-20 Mei 2012. Dari Jogja aku naik kereta bersama suami (Sigit) dan 1 teman, Abdi. Sampai Malang, jam 8 pagi dan langsung bergabung dengan 30-an teman dari Jakarta. Wow..ramai..
![]() |
| minjem foto koleksi Anggi |
| suasana di basecamp Ranu Pani |
Dan tepat pukul 17.30 pendakian dimulai. Kami berjalan dan terus berjalan berjam-jam, terbagi dalam beberapa kelompok. Terengah-engah, istirahat, minum, makan coklat & cemilan, jalan lagi. Tiba di pos 1, 2, 3 dan akhirnya sampai di Ranu Kumbolo saat tengah malam. Tenda2 telah dipasang oleh tim yang datang duluan. Brrr....dinginnya jangan ditanya. Megang api sepertinya tak terasa panas. Setelah shalat dan minum hangat, aku ambil sleeping bag dan tidur.
| Pagi di Rakum |
Lalu di-gelarlah beraneka makanan. Yang agak 'tradisional' memasak nasi goreng dan mie. Yang lebih modern, masak makaroni, bubur ayam, manggang roti bahkan bikin pancake saus strawbery. Wow..yummy..
Mandi pagi? Siapa yang berani..Tapi jangan salah kira ya. Meski tidak mandi tak ada yang bau kok. Sepertinya hawa dingin melenyapkan bau-bau keringat kami. Di rakum kami menikmati pagi yang indah. Matahari yang pelan-pelan naik, pohon-pohon yang makin jelas terlihat dan danau yang tampak lebih jernih. Saat hari makin siang ada juga sekelompok pendaki yang nyemplung berenang. Ada pula yang memanfaatkan kasur udara sebagai perahu dan berlayar di danau. Macam-macam deh...
| Melihat Rakum dari tanjakan cinta |
Yang menjadi ciri pos rakum 'asli' yakni bangunan yang bisa dimanfaatkan untuk berteduh. Kami berhenti sebentar untuk foto-foto dan bersiap mendaki tanjakan cinta. Kalian pasti bertanya, kenapa disebut tanjakan cinta?Konon, kalau melewati tanjakan ini sambil membayangkan wajah seseorang dan tidak menoleh-noleh ke belakang hingga kita berhasil melalui tanjakan ini, maka orang yang kita bayangkan itu akan menjadi pendamping hidup kita. Benarkah legenda itu? Silakan coba untuk membuktikannya. Aku, sih, tidak tertarik. Karena orang yang aku harapkan sudah ada disampingku. hehe...
Dari tanjakan cinta kami menuju oro-oro ombo atau padang savana yang luas. Seperti di Afrika, kah? Mungkin, karena aku belum pernah ke sana ^_^ Di sini terdapat rumput-rumput pendek dan bunga-bunga lavender ungu. Perjalanan relatif mudah karena datar.
Lalu kami melanjutkan perjalanan ke hutan cemoro kandang. Dari sini perjalanan agak membosankan, 'hanya' melihat pohon-pohon. Sebagian dari pohon tersebut menghitam karena terbakar. Kami terus berjalan. Tepat pukul 17 dalam rintik hujan, kami sampai di kalimati atau basecamp 'terakhir' sebelum puncak Mahameru.
badan meteorologi yang melarang pendaki
ke puncak. Alasan lain, aku merasa harus tau diri. Mahameru tidak seperti puncak gunung lain. sebelum menuju ke sana kita harus melalui lautan pasir yang siap "menenggelamkan" kaki. Sampai-sampai ada guyonan sesama pendaki bahwa untuk mencapai Mahameru kita harus bersiap dengan formasi 3-5 yang artinya 3 langkah maju dan 5 langkah mundur (karena terperosok pasir) . Jadi malam ini aq memilih tidur di tenda. Sungguh nyaman dan nyenyak tidurku malam ini. Karena tenda terasa lapang..hehe
| Bubur Ayam "Kalimati" |
Paginya, kami dan 3 teman (Ali, Ariel dan Nena) yang tak ikut muncak menyiapkan sarapan untuk teman-teman. Masak nasi, goreng ayam, nuget, dll. Lalu satu persatu teman turun. Mungkin hanya ada setengah dari tim kami yang sampai ke puncak. Rata-rata turun lagi karena kehabisan minuman dan khawatir kena asap panas yang mengalir ke arah pendaki setelah jam 9 pagi. Terbukti bahwa Mahameru memang tidak mudah ditaklukkan.
Seharian aku menikmati pemandangan, foto-foto dan bersiap turun di sore hari. Dari Kalimati ke rakum dapat kami capai dengan waktu setengah kali lebih cepat dibanding kemarin. Lalu sempat masak-masak & makan di rakum.
Jam 11-an malam kami lanjutkan perjalanan dengan mengambil jalur Ayek-ayek. Beberapa pendaki menyatakan bahwa jalur ini rintisan Soe Hoek Gie bertahun-tahun yang lalu. Namun jarang yang melewati karena tidak banyak yang tahu. Kami memutuskan mengambil jalan ini karena katanya (entah kata siapa) lebih cepat sampai ke ranu pani meski medannya lebih berat.
Namun, apa yang terjadi? Masya Allah, sungguh tak terduga. Jalur ini ternyata berat luar biasa. Hampir 7 jam kami nyaris tak bisa istirahat karena jalur yang terus menanjak. Sama sekali tak ada tempat datar sekedar untuk duduk atau merebahkan diri. Rasanya aku pingin nyerah. Berkali-kali muncul godaan untuk mengeluh "Coba ya kalau tadi lewat jalur biasa aja. Paling 3-5 jam dah sampai Ranu Pani dan bisa istirahat".
Tapi beginilah hidup. Ada keputusan-keputusan yang sudah diambil dan kita harus siap dengan konsekuensinya. Jadi walau capek luar biasa, ngantuk karena tak tidur semalaman, nyaris putus asa karena jalan yang seakan tak berujung, tidak ada pilihan lain selain terus berjalan.
Sayangnya, saking capeknya, aku jadi tak bisa menikmati perjalanan. Padahal langitnya luar biasa indah. Bintang jatuh berkali-kali melintas. Dan kami seperti di atas awan saking tingginya.
| Danau Ranu Pani dilihat dari jalur ayek2 |
Lalu kami makan, minum, mandi dan bersiap pulang. Aku dan mas sigit naik bis -bareng rombongan Semarang- dari terminal Arjosari-Surabaya dan lanjut Surabaya-Magelang. Kami sudah seperti orang mabuk. Duduk langsung zzzz (tidur pulas). Cuma bangun sebentar untuk bayar tiket lansung tidur lagi. Kami juga bangun saat di rumah makan, makan, minum dan langsung tidur lagi. Sampai Magelang jam 9 malam. Bahkan setelah di rumah-pun aku kembali melanjutkan tidur... ^_^
Terimakasih buat all team expecially tim ruku'
Pak Dahlan
(Saat membuat tulisan ini, aku tinggal bersama kakakku, di Bantul Yogyakarta. Saat itu beberapa bulan setelah gempa Jogja berlalu)
Aku punya tetangga, rumahnya di dekat gang rumah
mbakku. Suamiistri, bernama Pak Dahlan dan Mbak Is. Mereka punya 2 orang
anak, si sulung 5 tahun, dan si bungsu bayi 3 bulan. Pak Dahlan bekerja sebagai montir. "Kantornya" berupa bengkel sederhana di depan
rumahnya. Sedangkan Mbak Is, bekerja sebagai penjahit.
Pas musibah gempa kemarin
rumah mereka hancur. Alhamdulillahnya nggak sampai rubuh.
Walau begitu semua genteng melorot dan kayu-kayu di atap jatuh. Hingga rumah mereka tetap berdinding dengan beratap langit. Yang luar biasa adalah cara mereka
memandang kehidupan
Setelah gempa berlalu, Pak
Dahlan sama sekali tidak termasuk orang yang antri meminta
bantuan. Saat kutanya alasannya, dia menjawab bahwa seorang muslim tidak boleh meminta-minta ke
orang lain. "Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang dibawah," katanya.
Selama menjadi penjahit, Mbak Is, memilih selektif dalam menerima jahitan. Dia ‘menolak’ menjahitkan baju mini atau ketat yang kira-kira
bisa menimbulkan syahwat. Alasannya, ia takut ikutan berdosa karena menjahitkan baju untuk berbuat maksiyat.
10 hari
setelah gempa, mbakku datang ke rumah Pak Dahlan.
Di rumah mereka
tidak ada makanan. Hanya ada nasi dan singkong rebus yang
dicampur gula merah. Mbakku menawarkan bantuan sembako. Namun apa jawaban mereka?
"Coba berikan dulu ke orang lain, siapa tau ada yang lebih membutuhkan."
Masya
Allah…mulia sekali hati mereka. Walaupun akhirnya, setelah dipaksa-paksa
mereka mau menerima bantuan yang tidak seberapa itu.
Subhanallah…Hari gini…masih ada orang yang seperti itu. Mereka
tegar menghadapi segala kesulitan hidup. Mereka yakin sepenuhnya akan
pertolongan Nya. dan mereka sangat itsar (mendahulukan kepentingan
orang lain).
Seminggu-an setelah gempa mbak Is melahirkan anak
keduanya. Biar tidak menghabiskan banyak uang, sehabis melahirkan
mereka memaksa diri pulang dari rumah sakit. Tiga hari setelah melahirkan, mbak Is sudah
mencuci baju-bajunya sendiri, karena ada tetangga yang meminta tolong Pak Dahlan untuk membangun rumah yang rubuh karena gempa.
Semoga tetap istiqomah.
Salut buat keluarga pak Dahlan. Semoga
anak-anak kalian tumbuh jadi anak-anak yang cerdas dan memberikan
kontribusi yang besar pada umat. Para pemimpin negeri ini harus
belajar pada kalian. Biar Indonesia nggak ngutang melulu…
Arsip dari blog lama, "Mahameru", 14 September 2006
Bahagiakah Kamu?
Aku pernah bertanya pada seorang teman, “Apakah kamu
bahagia?”
Dia menjawab, “Aku bahagia.”
Lalu kutanya
lagi, “Apa yang membuatmu yakin bahwa kamu bahagia?”
Dia menjawab, “Aku bahagia karena masih hidup, punya teman-teman
yang baik dan lingkungan kerja yang menyenangkan.”
Lalu kutanya
lagi, “Apakah arti kebahagiaan bagimu? Apakah jika kamu tertawa
itu berarti kamu bahagia?”
Jawabnya, “Salah satu indikasi
aku bahagia memang ketika aku tertawa, walaupun tertawa tidak selalu
menjadi pertanda bahwa seseorang itu bahagia.”
Aku bertanya pada teman yang lain, “Kamu bahagia?”
Dia
menjawab, “Aku bahagia walaupun apa yang kuinginkan belum
kudapat.”
Dan aku menanyakan pertanyaan itu ke beberapa teman,
Ternyata jawabannya beragam,
Ada yang menjawan begini:“Bahagia dong, kan, aku punya keluarga yang baik, teman-teman
yang setia dan hidup yang menyenangkan..”
Ada lagi yang balik bertanya: ” Kamu lagi nggak bahagia ya Ain, kok, tanya-tanya soal
bahagia….?”
Sebagian menjawab begini:
” Aku bahagia, karena kamu tanya apakah aku bahagia..”
“Aku bahagia karena bisa melihat langit biru dan awan putih yang
begitu indah….”
“Aku bahagia karena akhirnya aku menikah dengan orang yang
kucintai…”
“Aku bahagia karena memang aku ingin selalu bahagia….”
Suatu ketika, karena terinspirasi dari nonton sebuah film, aku sms ke seorang temen:
“Kebahagiaan menjadi sesuatu yang murah bagi anak kecil,
tapi kenapa saat kita tidak kecil lagi, kebahagiaan itu sepertinya jadi mahal”
Dia
menjawab,
“Kita sering kerdil memandang sesuatu. Hingga kebahagiaan hanya kita maknai dari hal yang bersifat materi, padahal bahagia milik siapa aja….
Aku lalu ingat salah satu tulisan Miranda Risang Ayu,
Suatu ketika, dia
dan putri kecilnya sedang duduk berdua. Si kecil yang saat itu duduk di
pangkuanya bertanya:
“Ibu, kasih sayang itu gimana
ya?”
Miranda menjawab: ”Kamu pernah nggak merasa menyayangi
atau disayangi seseorang? atau sekarang kamu sedang merasa disayang
nggak?”
“Iya sih, aku sayang ibu. Tapi kok kasih sayang itu
nggak terasa ya?”
Sambil memeluk putrinya, Miranda berkata: “Ya
begitulah sayang, kita sering (baru) merasakan sesuatu jika sesuatu
itu sudah hilang…”
Di akhir tulisannya, Miranda menulis begini: dan kehilangan kasih sayang sungguh tidak perlu ada
contohnya.
Aku jadi berpikir,
jangan-jangan kebahagiaan juga begitu.
kita
baru merasa sesuatu itu membahagiakan ketika sesuatu itu telah hilang
dalam hidup kita. Bener nggak ya?
……………………………………
Arsip dari blog lamaku "Mahameru", 23 Agustus 2006
Menjadi Muda
beberapa waktu yang lalu keponakanku (umurnya 3 tahun) bertanya,
“Amah, Allah itu laki-laki atau perempuan?”
lalu
kujawab,
“Allah itu bukan laki-laki dan bukan perempuan…”
dia terlihat bingung
“Lha laki-laki apa perempuan..”
kujawab
lagi,
“Ya bukan laki-laki dan bukan perempuan…”
dia terlihat kesal,
dan sambil menghentakkan kaki, dia tanya
lagi:
“Lha tapi laki-laki atau perempuan..”
aku tersenyum,
lalu kutarik dia ke pangkuanku, dan kubisikkan
kata-kata,
“Na, Allah itu yang menciptakan kita..”
“karena
Dia yang menciptakan kita, jadi Dia tidak seperti kita..”
he he he…
sebenarnya obrolan itu masih berlanjut,
tapi
bukan obrolan itu yang ingin kutuliskan di sini,
aku hanya ingin
bilang bahwa pertanyaan Husna itu membuat aku semakin suka dengan
anak-anak,
karena mereka polos, jujur, berani dan bersih…
dan lagi-lagi aku teringat salah satu tulisan Miranda,
judulnya
“Menjadi Muda”
dalam tulisan itu Miranda bilang,
bahwa ciri
dari ke-muda-an bukanlah umur,
apalagi tampang,
namun hasrat
untuk selalu bertanya dan keberanian mencari jawaban…
dan itu juga yang membuatku begitu bahagia,
mendengar Husna
bertanya tentang Allah,
dan pertanyaan itu dihadirkan
dihadapanku..
mungkin jawaban yang kuberikan padanya belum tepat,
namun
semoga itu menjadi awal bagi dia
untuk terus menerus bertanya,
dan itu membuatku bersemangat,
untuk tidak pernah berhenti
bertanya,
biar awet muda gitu loh…
he he he………..
Arsip Blog lama-ku di Frienster, "Mahameru", 31 Agustus 2006
Menulis
Seringkali aku malu. Orang boleh bilang aku jurnalis atau wartawan. Yang kerjaannya wawancara, membaca dan menulis. Tapi seringkali aku menulis, karena tugas kantor. Memang aku menulisnya dengan senang hati tanpa unsur keterpaksaan sedikitpun. Tak jarang aku justru bersyukur karena dengan menulis sebuah tema, artinya aku belajar pula tentang sesuatu. Tapi bukan itu yang membuatku malu.
Aku malu karena aku sering menulis karena tugas. Beda sekali, bukan, dengan mereka yang rajin menulis di blog atau web pribadi karena suka menulis. Dulu, waktu aku belum kerja di media, aku juga rajin nulis. Di Blog, nulis di buletin punya adik-adik tingkat di kampus. bahkan aku pernah nulis artikel, lalu kudesain seperti buletin dan kusebar pada orang-orang terdekat. Sepertinya bisa menulis seperti itu lebih hebat. Itu bagiku, entah bagi orang lain.
Aku punya blog. Satu di multiply yang sudah kubuat bertahun2 yang lalu. Tapi 3 tahun terakhir nyaris tak pernah ku update. Dulu aku juga punya blog di friendster. Saat friendster mau nutup lapak, aku dah download tulisan-tulisanku di sana. Tapi entah kenapa kumpulan file yang kudownload malah gak bisa kubuka. Sedih rasanya kehilangan salah satu catatan kehidupanku.
Blog yang ini, kubuat beberapa bulan yang lalu, dengan harapan bisa kuisi dengan rutin. sekaligus menyelaraskan dengan pekerjaanku sebagai wartawan. Tapi apa yang terjadi? Seperti kalimat pertama dari tulisan ini. Aku sungguh malu. Karena masih jarang nulis di blog. Dengan alasan sibuk. Bertameng deadline.
Entahlah, sepertinya aku belum menjadi penulis beneran. Yang menulis dengan jiwa. Yang selalu rindu bercerita lewat tulisan. Yang isi tulisannya menggerakkan jiwa mereka yang membacanya.
Hari ini aku berjanji, insya Allah, akan lebih rajin menulis di blog. Berbagi cerita. Menulis dengan hati. Mendidik diri sendiri untuk lebih rajin berbagi. Melalui tulisan..









