aini firdaus. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Sofie 1-3 tahun










mo

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Peta Hijau: Panduan Liburan yang Ramah Lingkungan


Libur telah tiba...para anak sekolah, guru dan orangtua pasti sudah sibuk menyususn rencana liburan. Bagi yang di Jakarta, silakan simak tulisan ini. Untuk teman yang sudah pernah membaca, mohon maaf, ini memang tulisan lama di multiply (dan sudah di Ummi) yang aku posting kembali...
foto pinjam dari sini:cintastasiunjakarta.wordpress
Musim liburan adalah saat yang ditunggu-tunggu 
oleh keluarga. Momen penting ini biasa 
dimanfaatkan dengan mengadakan kegiatan keluarga yang menyenangkan. Sebagian keluarga memilih mudik ke luar kota Jakarta, entah itu berlibur di rumah nenek, mengunjungi sepupu di kampung, maupun mendatangi kota wisata yang terkenal indah, Bali misalnya. Namun bagi yang memilih berlibur di Jakarta, tidak perlu khawatir. Selain ada banyak lokasi wisata yang menarik, sejak Maret 2009 telah hadir PETA HIJAU (Green Map) yang berisi informasi tempat yang memiliki makna terhadap lingkungan, budaya, dan interaksi masyarakat.

Proyek bersama untuk peduli lingkungan sekitar

Peta hijau merupakan proyek bersama yang digagas oleh komunitas lokal yang bertugas memetakan potensi alam dan budaya suatu kawasan. Komunitas peta hijau (green map) di Indonesia dirintis sejak tahun 2001 dan diresmikan dalam Pertemuan Nasional Green Map Indonesia pada tanggal 6-8 Januari 2006 di Yogyakarta. Peta Hijau saat ini telah memiliki komunitas-komunitas dan berbagai kegiatan yang tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Yogyakarta, Bandung, Buton, Malang, hingga Surabaya dan Medan. Masing-masing komunitas menerbitkan peta hijau di wilayahnya masing-masing.

“Tujuan sebenarnya dari pembuatan peta hijau ini adalah kita melakukan pendidikan pada masyarakat untuk hidup berkelanjutan,” ucap Nirwono Joga, koordinator peta hijau Jakarta. Maksudnya adalah untuk membantu masyarakat melihat, menilai, menghubungkan, serta peduli terhadap lingkungan tempat mereka berada. Juga untuk perubahan hidup yang lebih baik, lebih ramah lingkungan dan lebih sehat. Selama ini, jika mau berlibur yang ada dalam bayangan kita adalah pergi ke mall, nonton bioskop atau makan-makan di restoran cepat saji. Sebagian lagi berlibur artinya pergi ke laut, gunung, atau tempat wisata yang banyak mainannya.
Bermain dengan burung di Taman Suropati
Peta hijau, mengajarkan cara pandang baru. Bahwa berwisata tidak melulu dengan pergi ke gunung atau laut. “Namun, kita bisa mengunjungi tempat pengelolaan limbah di waduk Setiabudi, misalnya,” ujar Yudi (nama panggilan dari Nirwono Joga). Di tempat pengelolaan limbah/sampah itu, para pengunjung akan melihat bagaimana proses pengumpulan sampah dan bagaimana mengelola sampah-sampah tersebut. Dengan demikian, tidak hanya liburan yang kita dapatkan, namun juga ilmu, pengalaman dan harapannya ada kesadaran baru untuk terlibat dalam pengelolaan sampah. Agar kita tidak sembarangan lagi buang sampah. Dan agar kita terdorong untuk membantu mengelola sampah. Dengan demikian, efek jangka panjang dari pembuatan peta hijau ini, diharapkan ada perubahan gaya hidup, menjadi hidup yang lebih baik lagi.

Banyak yang tidak tahu
Sayangnya, hingga saat ini masih banyak warga yang tidak kenal peta hijau.
“Peta hijau, kok aku belum pernah denger ya. Soalnya aku jarang jalan sih,” ujar Salma (26 th), seorang karyawan swasta yang diwawancarai Ummi soal peta hijau.
“Awalnya aku tuh juga enggak tahu soal peta hijau, terus diajakin temen ikut milisnya. Eh setelah ikut kegiatannya ternyata asik banget, sudah hampir setahun aku gabung di komunitas peta hijau,” papar Cici (23 th), aktivis peta hijau jakarta.
Demikian juga yang diungkapkan oleh Iqbal (28 th), wartawan salah satu media massa. “Dulunya aku juga gak tau soal peta hijau, nah pas aku dapat tugas liputan, sekalian aja aku ikut tournya. Ternyata asik, setelah itu aku ikut jadi relawan pembuatan peta hijau yang kelima dan rutin ikut acaranya.”
Walaupun belum banyak yang tahu tentang peta jakarta, rata-rata menyatakan sangat senang jika sudah mendapatkan peta hijau jakarta atau mengikuti tour yang diadakah komunitas peta hijau. Tidak hanya orang dewasa yang merasa puas, anak-anakpun merasakannya. 
“Seneng kalo ikut tour kayak gini, soalnya bisa dapet pengalaman baru. Bisa jalan-jalan, seru deh pokoknya. Kalo ke tempat wisata kan serunya karena ada mainan-mainannya tapi kalo tour peta hijau serunya beda,” kata Dhanes (10 th), peserta tour peta hijau dan WWF pada hari Sabtu, 4 Juli 2009.
siasana di Bundaran HI saat 'free car day'
Peta hijau sendiri memang sudah ada sejak tahun 2001, namun awalnya masih mencakup wilayah-wilayah tertentu, seperti Kemang, Kebayoran baru, Menteng, dan 

Kota Tua. “Peta hijau yang tahun 2009 ini berbeda dengan peta-peta hijau terdahulu. Kalo peta-peta hijau dahulu lebih pada pemetaan lokasi-lokasi hijau per kawasan. Nah, kalo yang ini kita menggambarkan seluruh Jakarta berbasis transportasi masal tadi, intinya kita mendorong untuk mengeksplore wilayah-wilayah hijau di Jakarta dengan meninggalkan kendaraan pribadi dan motor,” papar Yudi.
 Tanpa kendaan pribadi? Ya benar. Para pengguna peta hijau dihimbau untuk mengunakan kendaraan publik saat mengunjungi lokasi. Jalur yang dapat dijadikan panduan dalam peta hijau ini ada tiga, yaitu jalur kereta yang berwarna merah, jalur busway berwarna biru dan jalur sepeda garis titik-tik berwarna orange. Artinya, kita didorong untuk memanfaatkan transportasi publik dan meninggalkan kendaraan pribadi. Bisa juga dengan membawa motor atau mobil pribadi, lalu di titip di terminal atau stasiun. Jika ingin terasa lebih nyaman dan terasa nuansa family-nya, bisa juga dengan bersepeda rame-rame satu keluarga.

Menikmati Jakarta Bersama Peta hijau
Peta hijau Jakarta berisi informasi mengenai sejumlah tempat di Jakarta yang layak di kunjungi. Ada sekitar 100 tempat yang mencakup kawasan kampung tradisional, museum, tempat pertunjukan kesenian, tempat pendidikan lingkungan alam, kampung hijau, tempat pembuatan kompos, pusat kerajinan daur ulang sampah anorganik, tempat memperoleh bibit pohon, makanan organik yang sehat, wisata kuliner tradisional, tempat pengamatan burung, bangunan bersejarah, dan lain-lain.
Beberapa lokasi menarik peta hijau, di antaranya, Taman Suropati, yang merupakan taman kota terbaik di Indonesia. Lokasinya berada di Menteng Jakarta Pusat. Ada juga Kampung Hijau yang sudah ada beberapa tempat di Jakarta. Tidak ketinggalan Taman Medan Merdeka, Taman Menteng, Kota Tua Jakarta, Musium Taman Prasasti, Kebun Binatang Ragunan, bahkan Makam (TPU) Menteng Pulo. Itu hanya beberapa contoh lokasi peta hijau yang sangat menarik untuk dikunjungi.
Tidak hanya tempat-tempat wisata yang masuk dalam peta hijau, namun ada juga Taman kota Tangkuban Perahu, tempat daur ulang plastik, daur ulang kertas juga rumah hijau yang unik dan inspiratif. Peta Hijau ini tidak hanya ada di Jakarta, namun kota-kota lain di Indonesia juga tersedia. Di antaranya, Aceh, Bandung, Bogor, Borobudur, Bukittinggi, Buton, Makassar, Malang, Medan, Sanur, Solo, Surabaya, Yogyakarta, dan Ternate.
Dimana bisa mendapatkan peta hijau? Di Jakarta, peta hijau di jual seharga Rp. 15 ribu di toko buku Aksara. Namun, jika tidak mau susah-susah pergi ke toko buku, anda juga bisa mengunduhnya dihttp://greenmap.or.id/.

Selamat berwisata bersama Peta Hijau. (Aini)


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Menggampai Mimpi: Semeru




Mendaki Semeru, mimpi para pendaki. Gunung tertinggi di Jawa ini memiliki daya tarik yang luar biasa. Aku kesana 17-20 Mei 2012. Dari Jogja aku naik kereta bersama suami (Sigit) dan 1 teman, Abdi. Sampai Malang, jam 8 pagi dan langsung bergabung dengan 30-an teman dari Jakarta. Wow..ramai..

minjem foto koleksi Anggi
Dari stasiun kami menyewa angkot menuju Tumpang. Dari Tumpang kami 'ngantri' menunggu jatah naik jip. Satu jip normalnya berisi dibawah 10 orang, biar bisa duduk dg nyaman. Tapi, saat ramai pendakian, jip biasa diisi sampai 17 orang. Perjalanan cukup menegangkan, kondisi jalan tidak rata, sebagian memiliki kemiringan hingga 60 derajat, sementara kanan dan kiri, jurang. Namun pemandangannya sungguh luar biasa. Bukit yg dikenal sebagai teletubis berdampingan dengan bromo.

suasana di basecamp Ranu Pani
Kira-kira jam 16.45, sampailah kami di Ranupani. Basecamp pertama, dimana masih kita jumpai rumah penduduk. Ada danau luas di sini tapi kurang bersih dan tak terawat. Disini juga ada 2 kamar mandi yang atriannya lumayan panjang. Kalau pagi ada penjual soto dan bakso. Disini kami melakukan cek terakhir, ngepak ulang barang-barang biar lebih praktis. Barang yang kira-kira akan dibutuhkan dipindah ke bagian atas carier, makanan dan minuman diletakkan di tempat yang terjangkau. Dan tentu saja senjata utama di malam hari yakni headlamp langsung dipasang di kepala.
Dan tepat pukul 17.30 pendakian dimulai. Kami berjalan dan terus berjalan berjam-jam, terbagi dalam beberapa kelompok. Terengah-engah, istirahat, minum, makan coklat & cemilan, jalan lagi. Tiba di pos 1, 2, 3 dan akhirnya sampai di Ranu Kumbolo saat tengah malam. Tenda2 telah dipasang oleh tim yang datang duluan. Brrr....dinginnya jangan ditanya. Megang api sepertinya tak terasa panas. Setelah shalat dan minum hangat, aku ambil sleeping bag dan tidur.

Pagi di Rakum
Rasanya baru sebentar tidur , eh sudah pagi. Danau Ranu Kumbolo (rakum) diselimuti kabut putih. Dingin banget. Di sana sini para pendaki berjaket tebal, menenteng kamera dan jepret sana sini. Inilah bedanya pendaki saat ini dengan masa lalu. Dulu hanya 1-2 orang yg punya kamera. Sekarang, dalam satu tim bisa jadi ada 80% diantaranya memiliki kamera.  
Lalu di-gelarlah beraneka makanan. Yang agak 'tradisional' memasak nasi goreng dan mie. Yang lebih modern, masak makaroni, bubur ayam, manggang roti bahkan bikin pancake saus strawbery. Wow..yummy..

Mandi pagi? Siapa yang berani..Tapi jangan salah kira ya. Meski tidak mandi tak ada yang bau kok. Sepertinya hawa dingin melenyapkan bau-bau keringat kami. Di rakum kami menikmati pagi yang indah. Matahari yang pelan-pelan naik, pohon-pohon yang makin jelas terlihat dan danau yang tampak lebih jernih. Saat hari makin siang ada juga sekelompok pendaki yang nyemplung berenang. Ada pula yang memanfaatkan kasur udara sebagai perahu dan berlayar di danau. Macam-macam deh...


Melihat Rakum dari tanjakan cinta
   Hari makin siang dan kami bersiap melanjutkan perjalanan. Dari rakum kami menuju pos ranu kumbolo sebenarnya. Lho..Jadi ternyata tempat kami menginap semalam bukan pos rakum sebenarnya. Kami baru menemui tempat ini setelah menyusuri satu bukit..  
Yang menjadi ciri pos rakum 'asli' yakni bangunan yang bisa dimanfaatkan untuk berteduh. Kami berhenti sebentar untuk foto-foto dan bersiap mendaki tanjakan cinta. Kalian pasti bertanya, kenapa disebut tanjakan cinta?Konon, kalau melewati tanjakan ini sambil membayangkan wajah seseorang dan tidak menoleh-noleh ke belakang hingga kita berhasil melalui tanjakan ini, maka orang yang kita bayangkan itu akan menjadi pendamping hidup kita. Benarkah legenda itu? Silakan coba untuk membuktikannya. Aku, sih, tidak tertarik. Karena orang yang aku harapkan sudah ada disampingku. hehe...


Dari tanjakan cinta kami menuju oro-oro ombo atau padang savana yang luas. Seperti di Afrika, kah? Mungkin, karena aku belum pernah ke sana ^_^ Di sini terdapat rumput-rumput pendek dan bunga-bunga lavender ungu. Perjalanan relatif mudah karena datar. 
Lalu kami melanjutkan perjalanan ke hutan cemoro kandang. Dari sini perjalanan agak membosankan, 'hanya' melihat pohon-pohon. Sebagian dari pohon tersebut menghitam karena terbakar. Kami terus berjalan. Tepat pukul 17 dalam rintik hujan, kami sampai di kalimati atau basecamp 'terakhir' sebelum puncak Mahameru. 
Alhamdulillah, rasanya tak percaya aku bisa menjejak tanah disini. Sujud tanda syukur kulakukan bersama shalat ashar yang dijamak ta'khir bersama dzuhur. Saat teman-teman rapat mempersiapkan summit attack (muncak), kusampaikan pada mereka bahwa kami (aku dan mas Sigit) tak ikut ke puncak. Banyak yang heran, kenapa? Entahlah, sejak awal berangkat aku merasa tidak ingin ke puncak. Salah satu alasannya pesan ibu untuk menuruti peraturan dari 
badan meteorologi yang melarang pendaki 
ke puncak. Alasan lain, aku merasa harus tau diri. Mahameru tidak seperti puncak gunung lain. sebelum menuju ke sana kita harus melalui lautan pasir yang siap "menenggelamkan" kaki. Sampai-sampai ada guyonan sesama pendaki bahwa untuk mencapai Mahameru kita harus bersiap dengan formasi 3-5 yang artinya 3 langkah maju dan 5 langkah mundur (karena terperosok pasir) . Jadi malam ini aq memilih tidur di tenda. Sungguh nyaman dan nyenyak tidurku malam ini. Karena tenda terasa lapang..hehe
Bubur Ayam "Kalimati"



Paginya, kami dan 3 teman (Ali, Ariel dan Nena) yang tak ikut muncak menyiapkan sarapan untuk teman-teman. Masak nasi, goreng ayam, nuget, dll. Lalu satu persatu teman turun. Mungkin hanya ada setengah dari tim kami yang sampai ke puncak. Rata-rata turun lagi karena kehabisan minuman dan khawatir kena asap panas yang mengalir ke arah pendaki setelah jam 9 pagi. Terbukti bahwa Mahameru memang tidak mudah ditaklukkan.
Seharian aku menikmati pemandangan, foto-foto dan bersiap turun di sore hari. Dari Kalimati ke rakum dapat kami capai dengan waktu setengah kali lebih cepat dibanding kemarin. Lalu sempat masak-masak & makan di rakum. 
Jam 11-an malam kami lanjutkan perjalanan dengan mengambil jalur Ayek-ayek. Beberapa pendaki menyatakan bahwa jalur ini rintisan Soe Hoek Gie bertahun-tahun yang lalu. Namun jarang yang melewati karena tidak banyak yang tahu. Kami memutuskan mengambil jalan ini karena katanya (entah kata siapa) lebih cepat sampai ke ranu pani meski medannya lebih berat. 
Namun, apa yang terjadi? Masya Allah, sungguh tak terduga. Jalur ini ternyata berat luar biasa. Hampir 7 jam kami nyaris tak bisa istirahat karena jalur yang terus menanjak. Sama sekali tak ada tempat datar sekedar untuk duduk atau merebahkan diri. Rasanya aku pingin nyerah. Berkali-kali muncul godaan untuk mengeluh "Coba ya kalau tadi lewat jalur biasa aja. Paling 3-5 jam dah sampai Ranu Pani dan bisa istirahat". 


Tapi beginilah hidup. Ada keputusan-keputusan yang sudah diambil dan kita harus siap dengan konsekuensinya. Jadi walau capek luar biasa, ngantuk karena tak tidur semalaman, nyaris putus asa karena jalan yang seakan tak berujung, tidak ada pilihan lain selain terus berjalan. 
Sayangnya, saking capeknya, aku jadi tak bisa menikmati perjalanan. Padahal langitnya luar biasa indah. Bintang jatuh berkali-kali melintas. Dan kami seperti di atas awan saking tingginya. 
Danau Ranu Pani dilihat dari jalur ayek2
Aku pikir-pikir sepertinya jalur ini tak kalah tinggi dengan puncak mahameru. Dan...setelah berkali-kali 'kecewa' karena serasa tak sampai-sampai :) akhirnya...jam 7 pagi sampai juga di ranu pani. Jangan tanya rasanya kayak apa. Tapi sebenarnya aku merasa lebih capek di hati. Dan baru sekarang aku menyesalinya. Coba kalau di bawa happy mungkin cuma capek di kaki. 
Lalu kami makan, minum, mandi dan bersiap pulang. Aku dan mas sigit naik bis -bareng rombongan Semarang- dari terminal Arjosari-Surabaya dan lanjut Surabaya-Magelang. Kami sudah seperti orang mabuk. Duduk langsung zzzz (tidur pulas). Cuma bangun sebentar untuk bayar tiket lansung tidur lagi. Kami juga bangun saat di rumah makan, makan, minum dan langsung tidur lagi. Sampai Magelang jam 9 malam. Bahkan setelah di rumah-pun aku kembali melanjutkan tidur... ^_^

Note.
Terimakasih buat all team expecially tim ruku'

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pak Dahlan


(Saat membuat tulisan ini, aku tinggal bersama kakakku, di Bantul Yogyakarta. Saat itu beberapa bulan setelah gempa Jogja berlalu)


Aku punya tetangga, rumahnya di dekat gang rumah mbakku. Suamiistri, bernama Pak Dahlan dan Mbak Is. Mereka punya 2 orang anak, si sulung 5 tahun, dan si bungsu bayi 3 bulan. Pak Dahlan bekerja sebagai montir. "Kantornya" berupa bengkel sederhana di depan rumahnya. Sedangkan Mbak Is, bekerja sebagai penjahit.


Pas musibah gempa kemarin rumah mereka hancur. Alhamdulillahnya nggak sampai rubuh.
Walau begitu semua genteng melorot dan kayu-kayu di atap jatuh. Hingga rumah mereka tetap berdinding dengan beratap langit. Y
ang luar biasa adalah cara mereka memandang kehidupan


Setelah gempa berlalu, Pak Dahlan sama sekali tidak termasuk orang yang antri meminta bantuan. Saat kutanya alasannya, dia menjawab bahwa seorang muslim tidak boleh meminta-minta ke orang lain. "Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang dibawah," katanya.

Selama menjadi penjahit, Mbak Is, memilih selektif dalam menerima jahitan. Dia ‘menolak’ menjahitkan baju mini atau ketat yang kira-kira bisa menimbulkan syahwat. Alasannya, ia takut ikutan berdosa karena menjahitkan baju untuk berbuat maksiyat.

10 hari setelah gempa, mbakku datang ke rumah Pak Dahlan.
Di rumah mereka tidak ada makanan. Hanya ada nasi dan singkong rebus yang dicampur gula merah. Mbakku menawarkan bantuan sembako. Namun apa jawaban mereka?
"Coba berikan dulu ke orang lain, siapa tau ada yang lebih membutuhkan."

Masya Allah…mulia sekali hati mereka. Walaupun akhirnya, setelah dipaksa-paksa mereka mau menerima bantuan yang tidak seberapa itu.


Subhanallah…Hari gini…masih ada orang yang seperti itu. Mereka tegar menghadapi segala kesulitan hidup. Mereka yakin sepenuhnya akan pertolongan Nya. dan mereka sangat itsar (mendahulukan kepentingan orang lain). 


Seminggu-an setelah gempa mbak Is melahirkan anak keduanya. Biar tidak menghabiskan banyak uang, sehabis melahirkan mereka memaksa diri pulang dari rumah sakit. Tiga hari setelah melahirkan, mbak Is sudah mencuci baju-bajunya sendiri, karena ada tetangga yang meminta tolong Pak Dahlan untuk membangun rumah yang rubuh karena gempa.
Semoga tetap istiqomah.

Salut buat keluarga pak Dahlan. Semoga anak-anak kalian tumbuh jadi anak-anak yang cerdas dan memberikan kontribusi yang besar pada umat. Para pemimpin negeri ini harus belajar pada kalian. Biar Indonesia nggak ngutang melulu…



Arsip dari blog lama, "Mahameru", 14 September 2006

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bahagiakah Kamu?


Aku pernah bertanya pada seorang teman, “Apakah kamu bahagia?”
Dia menjawab, “Aku bahagia.”


Lalu kutanya lagi, “Apa yang membuatmu yakin bahwa kamu bahagia?”
Dia menjawab, “Aku bahagia karena masih hidup, punya teman-teman yang baik dan lingkungan kerja yang menyenangkan.”

Lalu kutanya lagi, “Apakah arti kebahagiaan bagimu? Apakah jika kamu tertawa itu berarti kamu bahagia?”
Jawabnya, “Salah satu indikasi aku bahagia memang ketika aku tertawa, walaupun tertawa tidak selalu menjadi pertanda bahwa seseorang itu bahagia.”



Aku bertanya pada teman yang lain, “Kamu bahagia?”
Dia menjawab, “Aku bahagia walaupun apa yang kuinginkan belum kudapat.”



Dan aku menanyakan pertanyaan itu ke beberapa teman,
Ternyata jawabannya beragam,

Ada yang menjawan begini:“Bahagia dong, kan, aku punya keluarga yang baik, teman-teman yang setia dan hidup yang menyenangkan..”


Ada lagi yang balik bertanya: ” Kamu lagi nggak bahagia ya Ain, kok, tanya-tanya soal bahagia….?”


Sebagian menjawab begini:
” Aku bahagia, karena kamu tanya apakah aku bahagia..”
“Aku bahagia karena bisa melihat langit biru dan awan putih yang begitu indah….”
“Aku bahagia karena akhirnya aku menikah dengan orang yang kucintai…”
“Aku bahagia karena memang aku ingin selalu bahagia….”


Suatu ketika, karena terinspirasi dari nonton sebuah film, aku sms ke seorang temen:
“Kebahagiaan menjadi sesuatu yang murah bagi anak kecil, tapi kenapa saat kita tidak kecil lagi, kebahagiaan itu sepertinya jadi mahal”
Dia menjawab,
“Kita sering kerdil memandang sesuatu. Hingga kebahagiaan hanya kita maknai dari hal yang bersifat materi, padahal bahagia milik siapa aja….



Aku lalu ingat salah satu tulisan Miranda Risang Ayu,
Suatu ketika, dia dan putri kecilnya sedang duduk berdua. Si kecil yang saat itu duduk di pangkuanya bertanya:
“Ibu, kasih sayang itu gimana ya?” 

Miranda menjawab: ”Kamu pernah nggak merasa menyayangi atau disayangi seseorang? atau sekarang kamu sedang merasa disayang nggak?”
“Iya sih, aku sayang ibu. Tapi kok kasih sayang itu nggak terasa ya?”
Sambil memeluk putrinya, Miranda berkata: “Ya begitulah sayang, kita sering (baru) merasakan sesuatu jika sesuatu itu sudah hilang…” 

Di akhir tulisannya, Miranda menulis begini: dan kehilangan kasih sayang sungguh tidak perlu ada contohnya.


Aku jadi berpikir,
jangan-jangan kebahagiaan juga begitu.
kita baru merasa sesuatu itu membahagiakan ketika sesuatu itu telah hilang dalam hidup kita. Bener nggak ya?

……………………………………


Arsip dari blog lamaku "Mahameru", 23 Agustus 2006

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Menjadi Muda


beberapa waktu yang lalu keponakanku (umurnya 3 tahun) bertanya,
“Amah, Allah itu laki-laki atau perempuan?”
lalu kujawab,
“Allah itu bukan laki-laki dan bukan perempuan…”

dia terlihat bingung
“Lha laki-laki apa perempuan..”
kujawab lagi,
“Ya bukan laki-laki dan bukan perempuan…”

dia terlihat kesal,
dan sambil menghentakkan kaki, dia tanya lagi:
“Lha tapi laki-laki atau perempuan..”

aku tersenyum,
lalu kutarik dia ke pangkuanku, dan kubisikkan kata-kata,
“Na, Allah itu yang menciptakan kita..”
“karena Dia yang menciptakan kita, jadi Dia tidak seperti kita..”

he he he…
sebenarnya obrolan itu masih berlanjut,
tapi bukan obrolan itu yang ingin kutuliskan di sini,
aku hanya ingin bilang bahwa pertanyaan Husna itu membuat aku semakin suka dengan anak-anak,
karena mereka polos, jujur, berani dan bersih…

dan lagi-lagi aku teringat salah satu tulisan Miranda,
judulnya “Menjadi Muda”
dalam tulisan itu Miranda bilang,
bahwa ciri dari ke-muda-an bukanlah umur,
apalagi tampang,
namun hasrat untuk selalu bertanya dan keberanian mencari jawaban…

dan itu juga yang membuatku begitu bahagia,
mendengar Husna bertanya tentang Allah,
dan pertanyaan itu dihadirkan dihadapanku..

mungkin jawaban yang kuberikan padanya belum tepat,
namun semoga itu menjadi awal bagi dia
untuk terus menerus bertanya,

dan itu membuatku bersemangat,
untuk tidak pernah berhenti bertanya,
biar awet muda gitu loh…
he he he………..



Arsip Blog lama-ku di Frienster, "Mahameru", 31 Agustus 2006

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Menulis

Seringkali aku malu. Orang boleh bilang aku jurnalis atau wartawan. Yang kerjaannya wawancara, membaca dan menulis. Tapi seringkali aku menulis, karena tugas kantor. Memang aku menulisnya dengan senang hati tanpa unsur keterpaksaan sedikitpun. Tak jarang aku justru bersyukur karena dengan menulis sebuah tema, artinya aku belajar pula tentang sesuatu. Tapi bukan itu yang membuatku malu.


Aku malu karena aku sering menulis karena tugas. Beda sekali, bukan, dengan mereka yang rajin menulis di blog atau web pribadi karena suka menulis. Dulu, waktu aku belum kerja di media, aku juga rajin nulis. Di Blog, nulis di buletin punya adik-adik tingkat di kampus. bahkan aku pernah nulis artikel, lalu kudesain seperti buletin dan kusebar pada orang-orang terdekat. Sepertinya bisa menulis seperti itu lebih hebat. Itu bagiku, entah bagi orang lain.


Aku punya blog. Satu di multiply yang sudah kubuat bertahun2 yang lalu. Tapi 3 tahun terakhir nyaris tak pernah ku update. Dulu aku juga punya blog di friendster. Saat friendster mau nutup lapak, aku dah download tulisan-tulisanku di sana. Tapi entah kenapa kumpulan file yang kudownload malah gak bisa kubuka. Sedih rasanya kehilangan salah satu catatan kehidupanku.


Blog yang ini, kubuat beberapa bulan yang lalu, dengan harapan bisa kuisi dengan rutin. sekaligus menyelaraskan dengan pekerjaanku sebagai wartawan. Tapi apa yang terjadi? Seperti kalimat pertama dari tulisan ini. Aku sungguh malu. Karena masih jarang nulis di blog. Dengan alasan sibuk. Bertameng deadline. 


Entahlah, sepertinya aku belum menjadi penulis beneran. Yang menulis dengan jiwa. Yang selalu rindu bercerita lewat tulisan. Yang isi tulisannya menggerakkan jiwa mereka yang membacanya. 


Hari ini aku berjanji, insya Allah, akan lebih rajin menulis di blog. Berbagi cerita. Menulis dengan hati. Mendidik diri sendiri untuk lebih rajin berbagi. Melalui tulisan..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Total Tayangan Halaman

Cari Blog Ini